Jelajah Cinta To Andromeda

Jelajah Cinta To Andromeda
JCTA # 56. JADILAH MILIK SAYA


__ADS_3

Kini Naya tau fungsi sebenarnya kelambu jelek ini, adalah untuk memancing li bii doo seorang lelaki, ia tau jika benda kiriman teman-teman Andro ini adalah pelancar untuk acara belah duren.


Jemari kekar itu telah menarik ujung leher bathrobe Naya menuruni bahunya menampilkan kulit mulus susu kembang desa Giri Mekar, "mas..." bahkan panggilan Naya tak Andro indahkan. Ia lebih tertarik bermain-main disana dan menetap tak mau pergi, di bawanya rambut sebatas punggung Naya yang menutupi pundak ke belakang lalu dirapikannya dengan usapan penuh sayang dan kecupan singkat meninggalkan rasa basah.


Andro bukanlah seorang profesional dalam bidang memanjakan wanita, ia bahkan belum pernah mencoba sebelumnya, tapi nalurinya berkata jika ia memberikan kenyamanan dan treat yang baik maka semuanya akan berjalan sesuai harapan tanpa ada paksaan atau drama penolakan.


Netra bulat coklat di bawah lampu ruangan memantulkan diri yang pasrah nan sayu dari seorang Kanaya.


"Jadilah milik saya, Naya..." bisiknya lirih seraya menatap dalam, meski pelan namun mampu membuat kaki Naya seperti tak bertulang, brrrr! Pertahanannya luluh lantah macam terkena bom molotov.


"Mas jangan ngomong gitu, Naya merinding..." akuinya lemas. Andro mengulas senyum dan tertawa tanpa suara, ia tau Kanaya sedang nervous karena ia pun sama, kehormatan dan kegagahan yang sudah ia jaga selama 29 tahun ini ia berikan untuk gadis 19 tahun yang sedang ia peluk sekarang.


Tangan Kanaya naik merambat ke arah leher Andro, mencari pegangan karena dirinya yang mendadak lemas hingga khawatir limbung karena tak bisa berdiri dengan benar. Padahal Andro hanya mengelusnya sayang penuh perasaan, tapi hatinya mendadak kelojotan kejang-kejang.


Andro ingin mengulang, yeah! Mengulang kejadian semalam, saat ia memagoett lidah yang tak bertulang milik Naya. Meski gadis itu terkesan diam tak merespon namun ia pun tak menolak.


Andro memiringkan wajahnya ke arah Naya, mem-fokuskan pandangan ke arah bibir semanis gula aren istrinya, wanita yang sudah halal ia sentuh.


Hingga yang Naya rasakan setelahnya adalah Andro menye sapnya, memberikan sensasi yang tak pernah ia rasakan sebelumnya bersama siapapun bahkan bersama Salman sekalipun, hati yang menggebu, perasaan membuncah menggelitik dan wajah memanas. Ia hanya bisa memejamkan matanya tanpa berani membalas tatapan Andro yang lebih memilih memandang paguu ttan bibir mereka, Andro memang mendominasi.


Naya tak sadar jika jemari Andro berubah jadi anak nakal yang dengan tak sopannya mengusap lembut setiap inci kulit Naya hingga membuat si empunya meremang di balik bathrobe.


"Eungghhh," rintihnya menggelinjang peka.


Plukk!


Bathrobe berbahan handuk itu jatuh tanpa say good bye dari badan Naya, dan di detik berikutnya dapat ia rasakan jika Andro semakin liar juga basah menyerangnya.


Urat-urat di tangannya semakin kokoh berani mencengkram dan memeluk pinggang Naya posesif, menyesakan, hatinya sudah berteriak memanggil Andro lirih, namun mulutnya terkunci oleh permainan Andro.


Mulutnya bukanlah buah ranum, bibirnya juga bukan permen dan lidahnya bukanlah coklat, namun sepertinya Andro begitu candu menye sap rakus.

__ADS_1


Kanaya mencengkram leher Andro ketika otot-otot Andro menjepit dirinya, oke...Naya kini paham seberapa besar kekuatan seorang lelaki sekarang, dirinya dan Andro begitu menempel, sampai-sampai Naya dapat rasakan jika beberapa bagian tubuh Andro mendadak keras.


"Mas," lirihnya kepayahan dengan deru nafas tak beraturan saat Andro sudah selesai mampir di mulutnya meninggalkan kemerahan di ujung bibirnya, Kanaya baru tau jika Andro memiliki kemampuan seperti lebah, menyengat!


Tiba-tiba saja badannya dihempaskan Andro begitu saja ke atas ranjang, Kanaya cukup terkejut akan hal itu.


Lelaki ini melepas kaosnya dan menjatuhkannya begitu saja ke samping, menyuguhkan pemandangan menggiurkan sekaligus mengerikan untuk Kanaya, apakah badannya akan remuk jika ditimpa oleh Andro?


Kanaya mengalihkan pandangannya belum berani melihat saat Andro menurunkan celana.


"Besok, kalo pake ini lagi...ngga usah pake dala mmaann." Ujar Andro.


"Mas, aku boleh merem kan?" tanya Naya.


"Abis merem tiup lilin gitu?" tanya Andro. Naya berdecak namun tak berani melihat wajah Andromeda yang sudah on fire.


"Mas, badan kamu berapa kilo? Kira-kira nanti tulang-tulang aku remuk engga?" tanya nya membuang nafas kasar, mencoba menetralisir dan membuang pikiran-pikiran yang mengganggu.


Berisik, Andro menyumpal mulut Naya dengan mulutnya lagi. Dengan tangan yang sudah mengait menurunkan dan melepas jaring-jaring udang rebon di badan Naya.


Ia tak tau apakah kamar ini dikunci atau kedap suara, namun saat Andro melantunkan do'a khusus di telinganya sejurus kemudian serangan menyakitkan memaksanya untuk membuka mata seraya menjerit lirih, "mass aduhhh!" tangannya mencengkram kuat sprei di kedua sisi, dan semakin kuat kala Andro semakin menenggelamkan diri ke dalam dewi-nya.


Andro tidak benar-benar menjatuhkan seluruh berat badannya di tubuh Naya, ia tau Naya akan merasa sesak. Kini gadis itu terisak meminta berhenti, yang benar saja! Andro berpura-pura tuli.


Tok---tok---tok!


"Room service! Pesanan makanan!" teriak seseorang bersama ketukan di pintu. Keduanya menoleh ke arah pintu kamar.


"Mas, makanan kayanya..."


Namun Andro menggeleng, "biar aja. Tanggung,"

__ADS_1


"Tapi itu...Naya laper, kasian si akangnya udah cape-cape dibawain?" balas Kanaya. Bukannya beranjak dari atas Naya, Andro malah membekap Naya agar tak berisik dan membiarkan karyawan hotel itu pergi dengan sendirinya.


"Ngga apa-apa, biar nanti cari makan di luar aja atau pesen makan online. Makanan barusan udah saya bayar," bisiknya.


Enak saja! Sudah kepalang masuk mau diganggu, tak bisa!


Setelah beberapa kali mengetuk dan tak ada jawaban dari penghuninya, karyawan itu pergi dari depan kamar Andro.


Naya tau badai pasti berlalu, namun badai yang terjadi kali ini padanya seolah tak ada hentinya. Ia tak tau jika Andro'lah badai yang membawanya berputar-putar dalam pusaran, menghempas dan bergulung dengan ombak kenikmatan.


Andro mengayun dan memutar membuat Kanaya melengkung nikmat seraya menthe sah lirih memenuhi seluruh ruangan kamar. Begitupun Andro, ia tak menyangka jika hal ini senikmat itu....ia meraup helaian surai Naya yang berantakan dan refleks menjambaknya pelan menyuguhkan pemandangan ero tis dari leher mulus Kanaya yang terhiasi kilauan kalung emas, meminta mulutnya untuk mampir dan singgah sejenak.


Manusia memang diciptakan memiliki otak, namun jika otak tak memiliki informasi perintah maka nalurilah yang bekerja, seperti sekarang...naluri mereka yang menuntun untuk melakukan hal itu lebih dan lebih lagi demi tercapainya kepuasan.


Kanaya tak tau sudah berapa kali ia melelehkan sesuatu dan meledak di udara bersama Andro, mungkin 2, 3...atau berapa kali Andro yang menyemburkan sesuatu ke dalam dirinya, entahlah...yang jelas keringatnya sampai bikin lengket sebadan-badan.


Andro masih memompa dan menghentak diselingi rengekan manja Kanaya.


"Udah mas,"


"Hayuk atuh nyari makan,"


Sampai ujungnya Kanaya terkapar memejamkan mata di ranjang berteman bantal dan guling. Gadis yang bukan gadis lagi itu terbangun disaat bunyi kukuruyuk perutnya sudah tak tertolong lagi.


Dilihatnya tubuh tegap Andro sudah lengkap dengan kaos dan celana memunggunginya, ia terlihat anteng menyendok nasi dan sop buntut sambil menonton siaran televisi.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2