
Seorang perempuan berusia sekitar 25 tahunan itu datang bersama teman-teman Andro.
"Bro! Happy wedding!"
Gale sampai menyingkir terlebih dahulu saat beberapa rekan almamater kampus Andro berdatangan, "ini bro?!" tunjuk Fajar ke arah Naya.
"Kanaya," lirih Andro, dan gadis itu tersenyum manis untuk ke sekian ratus kali, kalo ada yang nanya berapa kali hari ini ia tersenyum, maka Kanaya akan menjawab ratusan! !
"Keliatan masih muda ya bang," ujar perempuan bernama Via, Naya melihat sorot mata berbeda dari Via pada Andro, namun Andro terlihat biasa saja.
"Selamet ya, Naya...aku panggil kamu Naya aja ya," ucapnya so akrab, Kanaya mengangguk menerima, "boleh teh..."
"Wah, pantes aja abang delay respon pesan Via kadang cuma di read abang aja, lagi persiapan pernikahan..."
Naya melirik Andro, "abang?" gumamnya bertanya pada Andro, pasalnya panggilannya untuk Andro berbeda dari yang lain.
Andro membalas tatapan Naya dan hanya menggidikan bahu. Jangan pikir jika gadis itu akan marah, ia justru mengulum bibirnya geli membuat Andro menarik kedua sudut di alisnya, "kenapa ketawa?"
Naya menggeleng, "mantan mas?" Andro tidak menjawabnya berhubung teman-temannya itu sudah berbaris rapi untuk berfoto ria, dan kembali Via mengambil posisi di dekat Andro tapi sayang sekali itu tak membuat gadis ini bereaksi. Bukan Naya tak peka dengan apa yang terjadi tapi ia masa bo doh. Aksi mantan Andro masih di bawah level aksinya saat nikahan Salman.
"Kamu cemburu? Saya undang perempuan yang pernah dekat sama saya?" tanya Andro saat mereka sudah turun. Kanaya menoleh seraya menggeleng, "engga."
"Bagus. Tumben ngga pura-pura oon?" cibir Andro terkekeh.
"Naya kan emang pinter mas, buat apa cemburu...toh ngga ada sikap mas atau sikap dia yang mesti dicemburuin saat ini, Nay ngga selebay itu..." jawabnya, Andro tersenyum mendengar jawaban relevan Naya, Naya memang gadis yang tepat, bukan tipe wanita yang mengekang dan bo doh....wanita yang sering melakukan hal tidak terpuji karena cemburu tanpa alasan.
"Pinter," Andro bergumam.
"Buat adek gue Andro sama Naya, happy wedding!" Galexia si ibu 3 anak ini naik ke atas panggung yang para pemain bandnya saja sudah berganti jadi onta Deni dan Roy.
"Woohhoo, sok atuh Le!"
Jam sudah menunjukan pukul 14.00 siang, itu artinya resepsi untuk para tamu undangan sudah selesai. Andro benar-benar membuka jas menyisakan t shirt putih dan bergabung dengan para kaum adam keluarganya, sementara Kanaya sudah melahap semua makanan yang sengaja dipisahkan oleh Shania dan ibu di meja panjang bersama keluarga, ia makan layaknya orang kesurupan, "pelan-pelan ceu..nanti keselek," kekeh ibu.
"Lapar ya Nay? Emang, makanya bener kata orang, nikah mah sekali seumur hidup....soalnya bikin cape," balas tante Yeni.
Posisi meja dan kursi pun tak kalah berantakan mirip kondisi baju pengantin dan keluarga, kaum Adam berada di depan sebelah kanan duduk melingkar sambil rokok'an, sementara anak-anak asyik mainin bekas properti resepsi seperti bunga, dan hiasan lainnya. Ibu, bapak, pak Akbar dan bu Dewi sudah beristirahat duluan di kamarnya karena letih, belum lagi nanti harus menempuh kembali perjalanan pulang ke Cianjur.
"Tapi sawer ya...sok mau request lagu apa? Buat penganten? Ndro..." Andro mendongak ketika namanya dipanggil padahal ia baru saja mencabut satu batang rokok milik Wira.
Andro menggeleng, "terserah."
"Nay?" tanya Gale, sontak saja semua mata melihat Kanaya yang menggembungkan pipinya penuh dengan makanan.
"Waduhh, lapar neng?!" tawa Gale.
"Akad aja Le, akad!" tawar Melan.
"Oke, Akad katanya onta." Gale menoleh pada Deni yang diangguki Deni.
Suara Gale memang tak diragukan lagi, ia sering membagikan performnya dulu bersama Deni di channel youkub.
__ADS_1
"Bila nanti saatnya tlah tiba, ku ingin kamu menjadi istriku...berjalan bersama mu dalam terik dan hujan, berlarian kesana kemari dan tertawa, namun bila saat berpisah tlah tiba, ijinkan ku menjaga dirimu...berdua menikmati pelukan di ujung waktu...sudilah kau temani diriku!" Gale memberikan kerlingan matanya pada Fatur disana yang sontak saja disoraki keluarga lainnya.
"Sikat Turrr! Sawer....sawerrr!" riuh mereka, bahkan ayah Arka pun terlihat menyunggingkan senyumannya bahagia.
Fatur benar-benar berdiri dari duduknya, mengeluarkan lembaran uang dan maju ke atas panggung, namun bukannya Gale yang memungut dan menerima saweran Fatur namun kedua anak-anaknya, "asikkk! Hujan uang dari ayahhh!" seru mereka lalu mereka ikut kembali ke bawah setelah Fatur turun membuat Gale merengek di atas sana karena uang saweran diembat si kembar.
"Dasar keluarga somplak!" tawa Leli.
"Om Yudi, sawer sama omm!" seru tante Nengsih.
"Jangan ah! Buat nyawer tante Reni nanti malem!" jawab papa Ganis itu.
"Hahaha, ngga mau kalah sama yang muda ya a!" balas suami tante Nengsih.
"Oh harus!" jawabnya jumawa.
"Abis ini tante Sha nyanyi, yeeee!" seru Ganis.
"Tiap hari juga tante mah nyanyi, nis...di toilet! Bukannya di sawer sama om Arka...tapi malah digedorin pintunya, berisik katanya," jawab Shania, tawa kembali pecah disana. Mungkin mereka sudah tertawa lepas, namun bagi Arka, Andro, Wira dan Fatur keempat manusia ini bisa tahan cuma ngehkeh dan senyum doang, Naya tebak jika pak presiden ngadain kontes lawak terus jurinya keempat lelaki dingin itu maka para peserta sudah mengundurkan diri duluan. Tapi bisa-bisanya para wanita itu mendapatkan lelaki mahal senyum itu termasuk dirinya, Naya menggeleng miris. Naya kembali menatap ke arah panggung saat terdengar riuh kencang di sekitarnya.
"Ganis! Ganis!"
"Wah, ini mah dikasih musik cadas atuh sama si unyu-unyu kita mah!" seru suami tante Yeni.
Naya masih diam mencerna maksud mereka. Beberapa kali matanya melirik ke arah Andro yang masih anteng disana.
"Ih, kenapa jadi Ganis..." wanita di sebelahnya menggidikan bahu, namun sejurus kemudian ia beranjak dari kursi.
"Asik!" Gale kini turun dan mengeluarkan ponselnya untuk mem-video moment ini.
Ganis menatap suaminya yang dingin terlebih dahulu, lalu meraih gitar dan stand microphone dan mulai memainkan gitarnya...benar saja! Seketika alunan irama musik cadas menggema mengisi ruangan.
Unyu-unyu tapi mainannya musik bergenre keras, sudah tak heran darimana sepupu unyu nan manja Andromeda ini mendapatkan itu semua, Kanaya sampai melohok melihatnya, keren!
"Wohooi keren Nis!" Gale sampai tante Nengsih berjoget, melambaikan tangan dan ikut bernyanyi di bawah panggung layaknya konser band metal, tak peduli dengan pakaian yang dipakai tak seiras.
"Wake me up when september end...!!!!!!" teriak mereka di bawah sana tak kenal usia, Gale dan Shania bahkan sudah menarik Kanaya untuk ikut bergabung.
__ADS_1
"Aduhh ampun ieu mah!" ucap om Yudi.
"Mengenang masa muda, pa.." Wira bersuara.
"Setuju," jawab Fatur.
"Lagi ah lagi!"
"Awas pinggang encok!" timpal om Erlangga.
"Sok atuh yang lelaki hey, diem aja?!" seru tante Nengsih.
"Tah penganten suruh nyanyi!" tunjuk om Erlangga lagi.
"Heem, sok atuh Nay...nyanyi ah nyanyi!" pinta Shania membuat Kanaya menggeleng awalnya, "ngga bisa nyanyi, mii." akuinya berbohong.
"Bohong mii, jago nyanyi dia.." tanpa diduga Andromeda yang besuara mematahkan kebohongan Naya, seketika mata Naya melotot pada si bapak-bapak hotnya.
"Naya! Naya!" seru kaum ibu. Hingga akhirnya mau tak mau Kanaya naik ke atas panggung, melepas heelsnya dan mengambil mik, ia berbalik pada Deni dan Roy lalu berbisik namun keduanya mengerutkan dahi dan menggeleng hingga Deni bersiul pada personel weeding band yang kebetulan masih ada disana untuk menggantikan mereka.
"Ekhem, oke...tes..."
Shania bahkan Gale menaikan alisnya terkejut dengan suara Kanaya.
"Waduhh, ini mah kayanya biduan ya....baru tes aja udah seksoyyy gini!"
"Mungkin....aku terlalu cinta...aku terlalu sayang..." tatapnya pada Andro sambil bernyanyi menghayati.
Namun begitu wedding band memberikan sentuhan kendang dan irama berubah beat, Naya langsung turun dan menarik Andro untuk ikut bergoyang dengannya berdua.
"Rungkaddd......"
"Anjirrrrrr!" seru Gale tertawa.
"Astaga! Ini mah udah bikin trio swara aja lah! Yang satu pop, yang satu metal, yang satu dangdut!"
.
.
.
__ADS_1
.
.