
Gaya sudah keren tapi ujung-ujungnya Andro harus menggendong Kanaya kaya si buta lagi gendong mon yetnya di punggung.
...RHF AIRPORT...
"Aduh... Nay lemes mas," keluh Naya lemas, ia menaruh dagunya di bahu Andro sebagai tumpuan kepala yang berasa tak memiliki tulang. Habis sudah isian lambung terkuras. Sampai detik ini ia masih gagal jadi orang kaya! Gimana mau menjelajahi Indonesia kalo gini caranya. Ngga mungkin kan ia mesti ngesot?!
Andro sampai garuk-garuk kening, tau begini nanti ia akan menyetok obat anti mabok sepabrik! Atau justru bikin pabriknya sekalian khusus untuk istri nakalnya itu.
"Terus nanti pulangnya gimana, mas? Mesti beli dulu obat biar Nay ngga huwek--huwek di pesawat," ketusnya menggerutu. Untung saja ia sudah prepare keresek sebelumnya jadi ngga perlu bolak-balik toilet pesawat, yahh! Sayang sekali roti dan kopi yang sempat singgah di lambungnya hanya mampir dan kembali terbuang.
"Nanti aku siapin kamu ember di pesawat!" jawab Andro mendapatkan balasan tepukan lemah dari Naya di punggungnya. Andro seperti tak keberatan membawa Kanaya di punggung sementara satu tangan lainnya menggeret koper. Bukan---bukan, bukan tidak merasa berat, tapi memaksa untuk kuat, karena tidak mungkin ia menggelindingkan Naya sampai depan parkiran bandara, apalagi sampai depan pintu resort.
Baru nikah udah bikin adegan tak gendong kemana-mana, niat mesra-mesraan, romantis-romantisan malah jadi meringis-meringisan.
Cuaca siang ini cukup panas, cocok lah buat berjemur di pantai bareng ikan asin.
Andro menurunkan Naya sehingga wanita ini bisa duduk terlebih dahulu, selagi Andro mencari armada taxi menuju penginapan.
Bunuh aja Naya, mas!
Naya benar-benar dibuat tak berdaya sampai di kamar resort, akomodasi yang dibayar Galexia dan Fatur tak main-main, resort berkelas Internasional lengkap dengan view kolam renang terbesar di Asia Tenggara, Crystal Lagoon. Airnya jernih berwarna biru kristal dan berukuran hingga 800 meter panjangnya.
Sejenak Andro berdiri di depan pintu yang mengarah langsung ke sisi lagoon demi merefresh otaknya dari beban pekerjaan, yang ia lakukan adalah memperhatikan suasana siang ini sembari sesekali ia melirik Kanaya yang terkapar sambil terpejam, padahal rencananya siang ini, ia ingin mengajak Naya makan siang dan menyusuri kawasan hutan mangrove, ada rasa tak tega melihat wanita-nya begitu.
Niatnya indehoy to the sky, flying to the moon, malah nyungseb---tumbang di kasur!
Sayup-sayup terdengar suara orang sedang mengobrol dari telinganya, rasa cenat-cenut di kepala dan mual belum hilang sepenuhnya.
Rupanya suara mengobrol itu adalah Andromeda yang sedang menerima panggilan di luar penginapan. Kanaya memutuskan untuk masuk ke dalam kamar mandi, membasuh diri dan berganti pakaian yang sudah seperti bungkus belacan terlebih dahulu.
Hanya berselang 20 menit ia kembali dengan wajah segar, namun Naya belum jua menemukan Andro masuk ke dalam kamarnya lagi.
"Anteng banget di luar," ketika siluet sosok Andro masih terlihat berada di luar. Karena penasaran, ia lantas ikut melangkahkan kakinya ke depan kamar penginapan mereka.
Seketika mata Naya berbinar saat panorama yang disuguhkan begitu memanjakan mata, adem-adem nyegerin meskipun di siang menuju sore ini. Ia belum sempat melihat saat tadi datang karena rasa lelah, dari depan saja ia digendong si bapak-bapak hot-nya yang sampe manggil karyawan resort (porter) buat bantu bawa koper.
Naya tersenyum berbunga, lelaki dingin dan terkenal jutek ini begitu bertanggung jawab meski terkadang usil. Ia bahkan tak malu menggendongnya dari mulai di bandara lalu di resort di depan semua orang. Entah memang ia yang secuek itu. Yang jelas, Andromeda adalah ***penjelajahan cintanya yang baru***, Andromeda lelaki yang mengucap janji di depan Allah 2 hari yang lalu adalah *rumahnya*. Andromeda, lelaki dingin yang telah mengobati luka menganga di hatinya meski cara Andro masuk ke dalam kehidupan Naya sedikit dipaksakan.
"Hm," gumamnya terkagum-kagum sambil menarik nafas dalam-dalam meraup oksigen yang melimpah, namun mendadak senyum itu pudar tatkala menemukan pemandangan eksotis versi lain, mata Naya mendadak memicing tajam bak pisau belati, "ohhh! Jadi anteng tuh karena liatin bule berjemur gitu?! Bagus ya! Baru ditinggal tidur aja udah mainan korek bensin!" gadis itu langsung menghampiri dan berjinjit, dengan beraninya ia meraih cuping telinga Andro lalu menjewernya.
Andro yang sedang asik melihat layar-layar parasailing terkembang di langit lagoona cukup terkejut dengan tindakan Kanaya, "Nay arghh!" Andro tersentak mencoba melepaskan tangan Naya dari telinganya.
__ADS_1
"Laki-laki mah mau yang kalem mau yang pecicilan sama aja, sama-sama mesum!" hardiknya manyun sambil mencebik. Refleks saja Andro mengernyit tanda kebingungan, "kamu kalo masih jetlag mendingan tidur lagi,"
"Punya Nay emang ngga se-semok punya produk luar begitu, tapi Nay udah halal buat mas liat sama mas sentuh!" ketusnya seraya bergaya menunjukan leku kan tubuhnya genit di depan Andro.
Andro menyapukan pandangan ke arah depan, mencari tau apa yang membuat kesalahpahaman ini terjadi, sehingga Kanaya menyebutnya mesum. Sejurus kemudian Andro tertawa kecil setelah pandangannya tertumbuk pada deretan turis di depan yang sedang bersantai menikmati sengatan sinar matahari biar dapetin warna kulit gelap sepaket dengan bikini tali spageti.
"Maksud kamu mereka?" tunjuk Andro.
"Ngga usah ditunjuk-tunjuk mas," sewotnya lagi.
Senyuman miring terukir di wajah Andro, ia melipat tangan di dada. Sudah agak lama juga ia tak menggoda Kanaya, "emangnya kenapa kalo mas liatin mereka? Kamu cemburu?" tembaknya mendekatkan wajahnya dengan sedikit membungkuk.
"Engga!" seru Naya berkilah dengan mata melotot.
"Kalo engga, ngapain kamu harus jewer mas segala?"
Melihat gelagat Naya yang tak dapat menjawab, Andro tau jika gadis ini sedang mencari-cari alasan.
"Aaaa!!!!"
Tanpa aba-aba dan peringatan, Andro langsung memanggul Naya layaknya seekor kambing di pundak dan membawanya ke dalam. Andro menjatuhkan Kanaya ke atas ranjang namun Naya tak tinggal diam dan tak mau mengalah, ia segera bangkit sesaat setelah Andro baru saja ingin menerkamnya.
Gadis itu tertawa puas saat Andro hanya bisa meni ndih seprei dan guling saja, hingga Andro pun ikut tertawa. Usia dewasa ternyata tak membuat jiwa usil Andro berkurang, kebanyakan momong keponakan bikin Andro sedikit kekanakan.
"Definisi tua-tua keladi tuh ya begini nih! Udah mas ah, nanti kamu encok, repot juga Nay ngga bisa gendong!" ujarnya mencibir Andro, Naya cukup terkejut dengan sikap kekanakan Andro, tak menyangka jika orang datar macam suaminya itu menaruh sifat childish jika di ranah private.
"Cepet siap-siap, ikut mas ke kebun mangrove." Ujar Andro dengan posisi terlentang melihat Naya di pojokan kamar.
__ADS_1
"Sekalian jajan besar ya mas, isian lambung Nay kekuras abis tadi di pesawat..." pintanya.
"Iya."
Kanaya bergegas merapikan rambut dan mengambil tas selempangnya, mendengar kata jajan siapa juga yang tak gercep!
Perjalanan dari resort yang mereka tempati tak begitu jauh, sebelum benar-benar menelusuri kawasan hutan mangrove, Andro mengajak Kanaya untuk makan siang yang terkesan telat karena menunggu si putri mabok ini bangun dari tidurnya di salah satu restoran.
Kanaya cukup terkesima sekaligus merasa asing dengan menu yang terhidang di atas meja. Mulai dari sup Tunjang, nasi lemak, sampai ikan baung asam pedas. *But overall*, lidahnya dapat menerima semuanya.
Hingga sorot matahari tak terlalu menyengat kulit, keduanya keluar dari restoran.
"Kita jadi ke hutan mangrove?" tanya Naya.
"Jadi, mas sewa dulu perahu,"
"Naik perahu juga, mas?!" serunya bertanya.
"Cuma sebentar, biar nyampe ke trek jalannya..." jawab Andro. Tapi Naya cukup lega, jika terbuka begitu ia tak mungkin huwek. Diantara beberapa pengunjung rupanya banyak pula turis yang memilih berlibur disini juga.
Naya melirik beberapa turis yang berseliweran saat sama-sama sedang menyewa perahu.
"Mas, mereka juga mau ke hutan mangrove?" colek Naya. Jarang-jarang ia melihat bule beneran, di kampung yang ada bule edyann.
"Kayanya," Andro menggidikan bahu acuh, lalu menarik tangan Naya untuk naik ke atas perahu yang mereka sewa.
.
.
.
.
.
__ADS_1