Jelajah Cinta To Andromeda

Jelajah Cinta To Andromeda
JCTA #.82. HILANG!!


__ADS_3

Andro berdecak, ia sudah garuk-garuk kepala, usap-usap tengkuk sampe keringetan nunggu kedua keponakannya itu terlelap.


Namun, harapan hanya tinggal harapan, jangankan terlelap pulas, keduanya malah ngomongin astronomi bareng Naya sambil maenan kartu Uno.


Cukup sudah!


"Kakak, adek udah malem. Tidur! Ngga liat ini udah jam berapa?" tunjuk Andromeda.


"Besok masih sekolah," lanjut Andro di gawang pintu belakang, melipat kedua tangannya, gestur yang ditunjukan jika ia sedang menunggu sesuatu dan merasa jengah.


"Om Andro sibuk banget ngitungin jam ih! Ya udah sii masih ada 5 menit lagi juga, ya kan dek?!" tanya Afifah meminta pendapat, sementara Naya mengatupkan mulutnya saja tak mau ikut campur dalam perdebatan itu, hanya duduk manis jadi penonton.


"Kakak, adek! Yok tidur!" ucap Fatur dari belakang badan Andro.


"Tuh! Ngga denger ayah kalian bilang apa," merasa mempunyai pembelaan Andro mengangguk mantap seraya bersidekap dada.


"Ahhhh, ayah! Sebentar lagi, udah smp juga, orang lain pada tidur jam 10-11 malem boleh tuh! Jam tidur tetep bisa 8 jam," rengek Aliyah, padahal ia baru saja akan merasakan kemenangan setelah Afifah selalu menjadi juaranya, Naya 2 kali lalu dirinya belum.


"Orang lain yang mana coba, bilang bunda?! Biar bunda suntik pake vaksin BCG!" lanjut Galexia. Aliyah berdecak, dan membereskan kartu Unonya, jika ayah akan kalah dengan rayuan, maka bunda adalah perintah mutlak tanpa bantahan.


Afifah membuka resleting tendanya, lalu merangkak masuk.


"Aku ditengah-tengah, tante Nay sama kak Fifah kanan--kiri," Aliyah mengatur posisi tidur, lain halnya dengan Afifah yang sudah rebahan begitu saja tak peduli dengan posisi yang penting nyaman.


"Kak Fifah ih! Aku tengah!" teriak Aliyah.


"Tante Nay sendiri, om kan bikin tenda 2!" Andro ikut mengatur posisi tidur.


Gale tertawa, "ini pada mau tidur aja ribet amat!"


"Tau ih, heboh amat. Yang penting nyaman aja ngga tidur di luar!" santai Fifah.


Naya baru saja akan masuk namun Andro menahan tangannya, "jangan dulu tidur. Kamu tidur di tenda samping..."


"Apaan?! Engga! Tante Nay tidur bareng kita, cukup kok bertiga, tendanya gede!" sela Aliyah.


"Ck, ampun! Ribet amat, kapan tidurnya kalo gini?!" tanya Fatur, padahal opa-omanya sudah ngandang dari sejak 10 menit lalu, karena Arka yang sedang tak enak badan.


"Sempit adek, itu nanti istri om kakinya ngelipet. Belum lagi kamu sama kakak tidurnya kaya kuda lumping!" tunjuk Andro pada lebar tenda di dalam.


"Mas, udah lah. Malah berantem sama anak kecil," ujar Naya.


"Ada yang lebih kecil lagi dari Liyah yang lagi mas bela," bisiknya.


"Siapa? Arion?"


Andro menggeleng, "bukan, junior mas."

__ADS_1


Naya hampir tersedak udara, tangannya refleks mencubit pinggang Andro.


Perdebatan baru selesai pukul 21.45, Afifah sudah mendengkur halus dengan kaki menin dih kaki Aliyah, sementara Aliyah sendiri tidur kalem, sekalem opa dan omnya.


Diantara udara yang dingin menusuk, dan suara-suara binatang menghiasi suasana malam syahdu, dan rasa kantuk yang mulai melanda, Andro berjalan pelan menuju tenda, bahkan Naya sedang berada di fase setengah sadar dan tidak.


Alisnya mengerut melihat kepala resleting bergerak perlahan, "Nay," panggilnya. Namun Naya tak sampai berpikir kesana, mungkin karena otaknya sudah benar-benar bersiap untuk menyelami alam mimpi.


Hingga sosok tampan menyembulkan kepalanya di pintu masuk tenda, sedikit demi sedikit sosok itu mulai menampakan badan tegapnya, lalu memaksa meringsek masuk hingga membuat tenda sedikit bergoyang.


"Ia memeluk tubuh Naya dari belakang dengan meringkuk, wangi tubuhnya menyadarkan kembali jiwa Kanaya, "mas ih, nanti tendanya ambruk," bisik Naya.


"Kalo gitu kita keluar, yuk ke kamar," ajaknya menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Naya membuat si empunya bergidik geli nan meremang.


"Mas ih, jangan mancing-mancing disini nanti ambruk."


Andro bangun dengan perlahan penuh kehati-hatian dengan tangan yang menarik tangan Naya, dilihatnya kedua keponakan kembarnya itu yang berwajah malaikat ketika tertidur. Ia mengulas senyuman, memang benar kata orang wajah anak tertidur itu adalah obat lelah paling mujarab.


Andro menarik Naya keluar dari rumah hobbit itu dengan lega, mission success!


"Itu kakak adek ditinggal berdua doang di tenda, mas?" tanya Naya khawatir.


"Ngga apa-apa, mereka sering kaya gitu! Kak Gale sama bang Fatur tau kok, tuh di kamar masih pada bangun..."


Rasa yang sudah ditahan sejak tadi, kini melebur dalam kamar yang mulai memanas. Sesuatu itu harus dituntaskan malam ini. Kebutuhan biologis yang dianggap sepele namun penting.




Kerah piyama berkancing rapi itu begitu lihai di obrak-abrik Andromeda, lalu terjatuh menumpuk di bawah kaki Naya sementara si empunya belum tersadar karena buaian sepasang bibir bawah dan atas yang memabukan.



Ukuran dadha yang membesar hasil karya Tuhan dibantu Andro akhir-akhir ini sukses membuat penuh dan sesak di beha dengan ukuran yang biasa Naya pakai.



Jemari besar yang biasa mengetik laporan di laptop itu menyusul bergerilya beroperasi di bawah karet celana piyama, menjelajahi perbukitan yang bersisian lalu memutar dan turun ke lembah.



"Sshhhhhh, ahh--" thesah Naya lirih di telinga semakin membuat Andro bergejolak.



1 jari ia telusupkan demi mengecek persiapan tempat dimana juniornya bermain, tak peduli dengan Naya yang semakin intens menthesah dan memohon untuk segera menangkapnya selagi ia mengaduk dan mengobrak-abrik *dewi'nya*.

__ADS_1



Naya hampir ambruk ke lantai jika Andro tak segera menopang pinggangnya, dan membawa ia berbaring di ranjang. Belum apa-apa Naya sudah merasa panas dan berkeringat. Andro membuka kaosnya dalam sekali tarikan menyuguhkan pemandangan yang tidak bisa membuat Naya tidak meleleh dan bertekuk lutut.



Dengan gerakan cepat namun terkesan lembut ia membuka lebar kedua kaki Naya agar siap menerimanya.



Di bawah temaram lampu kamar yang sengaja dipilih redup, Andro memasuki kembali istrinya dengan tempo lembut di awal. Membuatnya lemas sebagai pemanasan.



Afifah dan Aliyah tak sadar jika keduanya ditinggal hanya berdua tanpa tante Nay yang telah diboyong Andro.



"Mas," racaunya sesekali seraya mengontrol nafas. Jika sudah begini, sudah dipastikan sprei akan kusut di pagi hari, bantal guling akan falling down kaya daun mahoni.



Pompaan dan tusukan semakin dalam juga cepat, begitupun cengkraman Naya hingga keringat bercampur membuat peraduan inci kulit licin.



Meski tak sampai mengisi setiap sudut kamar, namun suara khas *malam syahdu* menjadi musik pengalun yang membuat Andro semakin terpacu bersemangat dan menjadi, dan Naya hanya bisa pasrah saja di bawah kungkungannya.



Andro sudah selesai, entah keringatnya atau Naya yang paling mengucur deras karena yang jelas malam ini adalah malam panjang untuk keduanya, Naya tanpa repot memakai beha langsung memasang piyama dan celana d4 laam saja lalu selimutan, ia terlalu lelah untuk kembali ke halaman belakang dan bergabung dengan si kembar.


\\


"Tante Nay ilang !!"


"Om Andro! Tante Nay ilang!" teriak mereka.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2