
Andro merogoh ponsel dan menelfon nomor Afifah dan Aliyah untuk meminta diambilkan makanan yang Kanaya inginkan.
Beberapa pasang orang datang terlihat disambut Galexia dan Shania, termasuk perempuan cantik dengan kebaya pink yang datang bersampingan bersama lelaki tampan berambut gondrong namun ia ikat satu di belakang sepaket kemeja hitamnya, ia tampak dingin lebih dingin dari Andro. Perbedaan keduanya begitu kontras, saat Naya melihat interaksi dan ekspresi Ganis--Wira, seperti bumi dan langit, yang satu mpink--mpink dan yang satu serem-serem ganteng.
"Kosim!" sapanya.
"Black---pink?! Alwaysss...." tanya Gale mengangguk tertawa.
"Lo aja yang ga tau, manager black pink tuh kasih nama girl band itu gara-gara liat gue sama bang Nat jalan bareng!" ujar Ganis jumawa.
Gale tertawa, "otak lo spaneng!"
"Mana?!" tanya Rengganis menaik turunkan alisnya, penasaran dengan hawa mana yang mampu menaklukan si kosim dinginnya.
"Tuh!"
"Abang, aku ketemu Andro sama istrinya dulu..."ijin Ganis.
Wira mengangguk singkat, melihat podium cukup ramai ia cukup ogah untuk ikut berbaris bersama emak-emak, "kalo gitu aku sama papa sama yang lain..."
Wanita itu mendekat bersama tante-tante Andro yang lain, "hay! Ndro! Ini istri teh..ya Allah geulis!!!" serunya disenyumi Kanaya dengan manisnya.
"Katanya orang Cianjur?" tanya teh Yeni.
"Iya, tante...kenapa? Kaya beras pandan wangi ya?" tanya Naya membuat mereka tertawa kecil.
"Nis, mana bang Wira?" tanya Andro.
"Tuh, lagi gendong Bagas sama gandeng Alva, dia mah ngga akan mau ngantri-ngantri bareng ibu-ibu gini..." tunjuk Ganis dengan dagunya ke arah lelaki-nya yang tengah menggendong balita berusia 2 tahun dan seorang anak lelaki berusia di bawah si kembar.
"Nay...ini Ganis, anak om Yudi sama tante Reni dari Bandung..." ujar Andro selagi Ganis cipika-cipiki dengan Kanaya, "beneran kata si kosim...eh Gale, umur kamu teh masih 19, Nay?" tanya Ganis penasaran.
"Iya teh. Emang keliatannya berapa? 13 apa 15?" tanya Naya kembali membuat Ganis tertawa kecil, "ih meni samaan kaya tante Sha, kaya si Gale atuh...cowoknya tua!" deliknya usil pada Andro, lalu ia beralih menatap Naya, "ceweknya bocah!"
"Huuu! Kaya kamu ngga bocah aja pas nikah!" dorong tante Nengsih.
"Bocah sama bocah bikin bocah!" tawa Yeni.
"Ihhh, si tante mahhhh!" bibirnya mengerucut manja.
"Ini kakak sepupunya momy tante Yeni, tante Nengsih,"
__ADS_1
"Eleuhhhh, kayanya keluarga Shania mah da emang usia muda semua perempuannya!" polwan yang terlihat begitu kharisma ini tetap tampak tegap di usia senjanya.
"Selamat ya Ndro, samawah!" bisik Yeni.
"Hebat kamu! Bisa nyolek bujangnya tante Sha! Dia mah terkenal dingin sama perempuan, kaya om Arka!" kekehnya berujar.
"Om mana tan?" tanya Andro.
"Tuh! Baru pulang nugas ini tuh dari Jogja, langsung ambil penerbangan Jakarta ketemuan sama teh Yeni sama Ganis di rumah kamu," tunjuk Nengsih pada para lelaki yang sudah bergerombol bersama Arka, Fatur dan Wira.
"Oh, emang kerja apa tante?" tanya Naya.
"Alhamdulillah om jabat Kapolsek. Sekarang lagi dinas di Jogja, kalo tante cuma jabatan ecek-ecek lah!" jawab Nengsih, Kanaya hanya bisa beroh singkat namun hatinya jedag jedug, ibu benar...keluarga Andromeda mungkin memang terpandang. Kanaya melirik Andro dengan alis terangkat, kagum.
Lantas Kanaya mengarahkan pandangan ke arah yang ditunjuk Nengsih, apakah keluarga Mahesa isinya lelaki tampan, dingin dan keren semua? Karena yang Naya lihat diantara mereka tak ada yang disebut produk gagal.
"Ndro! Selamet sepupu!" tepukan Gemilang bukan hanya mengejutkan Kanaya saja, melainkan para perempuan yang masih mengobrol di podium.
"Ini manusia satu, suka bikin orang kaget kaya setan! Gaya parlente tapi kelakuan parlemen, meresahkan!" sungut Ganis.
"Mana teh Ria?! Gue mau protes! Emang nih orang ngeselin! Menang kasus gede ngga bilang-bilang, tau-tau wushhh! Terbang holidayy aja!" sewot Ganis.
"Sama tante Sha sama mama. Ya iyalah, lagian kalo bilang lo mah suka titip oleh-oleh, ganggu orang lagi honeymoon!" ngototnya membenarkan jas dan membuka satu kancingnya.
"Anak gue si Alva sama si Bagas mana?" tanya Gemilang.
"Sama bapaknya! Udah buru, si Bagas minta dibeliin crayon sama uwa'nya," ujar Ganis yang memang tak sungkan meminta pada kakaknya itu. Andro hanya mengulas senyuman saja melihat kehebohan keluarga besarnya, karena memang seperti inilah jika mereka berkumpul semua.
"Ndro, kita-kita dari Bandung sih ngga bawa apa-apa, bingung juga soalnya mau kasih hadiah takut udah pada kasih...jadi udah dikirim langsung ke rumah tante Sha yahhh sama kurirnya!" ujar Ganis mewakili.
"Lumayan, kalo udah ada rumah, ngisinya bikin kantong jebol! Jadi semoga ini bisa ikutan ngisi deh biar waktu di rumah nanti kebayang-bayang tah wajah tante Nengsih sama keluarga Bandung lain nempel di kulkas, microwave, atau di tivi..." kekeh Ganis yanh dihadiahi toyoran tante Nengsih, "dasar sableng!"
"Makasih, Nis. Tante..." Angguk dalam Andro.
Tak lama kerumunan manusia semakin bertambah saat Andro mengatakan jika keluarga dari Surabaya telah datang dengan dresscode senada berwarna biru laut.
"Mas, keluarga kamu orang hebat semua..." senyum Naya getir, mendadak ia merasa kerdil di depqn Andro. Mungkin ini yang dinamakan cinderella masa kini, ia yang tiba-tiba menikah dengan seseorang seperti Andro. Ia yang tak memiliki apa-apa.
"Mereka hebat karena melewati proses perjuangan dan pengorbanan yang orang ngga tau," jawab Andro, kembali ia sudah mencopot penutup kepala dan membuka jas yang dirasa tak nyaman.
Galexia dan Fatur menghampiri disaat yang lain sedang sibuk reuni, "nih brother! Gue sama abang ngga bisa kasih apa-apa, ngga ada waktu buat nyari-nyari barang..." sebuah amplop terulur ke depan Kanaya dan Andromeda dari kakak Andro satu-satunya.
__ADS_1
"Selamat ya Ndro, akhirnya nanti omnya anak-anak ada temennya waktu momong Arion," kekeh Fatur ditertawai Gale, "abang kalem-kalem sadis!"
"Canda Ndro," kekeh Fatur lagi.
"Apa ini teh, teh? Padahal ngga usah repot-repot atuh teh...barang dari mas Andro juga udah banyak buat Naya," jawab Naya menerima amplop saat Andro mengangguk memintanya menerima.
"Ini gue sama abang ikhlas loh Nay, selama ini gue sering nyusahin omnya anak-anak dari kecil!" akui Gale.
"Kok gue jadi sedih sii, lo nikah Ndro!" Gale menghambur memeluk adiknya itu.
"Lebay!" balas Andro.
Gale menepuk dadha adiknya itu, "dah ah! Gue paling ngga bisa melow-melow.an, jangan sampai ngga dipake loh! Buruan pake, biar nanti momentnya tuh pas! Jangan sampai hangus," Gale menaik turunkan alisnya pada sang adik seolah bahasa tubuh itu hanya mereka yang tau. Kanaya yang penasaran kemudian membuka amplop coklat yang cukup tebal, mungkin otaknya ngga jauh-jauh dari uang, namun saat jemari yang dihiasi kuteks merah khas pengantin itu menarik isinya alis Naya saling bertaut, sebuah tiket pesawat, akomodasi hotel dan tiket tur di Bintan,kepulauan Riau.
"Bintan?" gumam Naya.
"Itu sih idenya abang, katanya Bintan enak buat tempat honeymoon'an..." jelas Gale membuat Kanaya mengerjap lalu memasukan dan merapikan kembali amplop di tangannya.
Bibirnya komat-kamit melafalkan kata honeymoon yang bak kata sakral nan mendebarkan untuk dibayangkan.
"Abanngggg, terus kita kapan bang?!" tanyanya berbalik pada Fatur.
"Anak-anak?" tanya Fatur balik.
"Titip Andro sama Naya lah!" jawab Gale enteng, "ngga apa-apa kan, Nay...kalo nanti aku titip anak-anak sama kalian barang seminggu gituhhh?"
Belum Kanaya menjawab Andro sudah bersuara, "enak aja! Gue sama Naya sibuk!"
"Sibuk apaan?!"
"Sibuk mau bikin bayi!" sarkas Andro seketika membuat Kanaya terkejut.
"Selamat ya bang Andromeda, samawah..." mereka lantas menoleh ke arah sumber suara lembut menenangkan diantara barisan tamu yang ingin bersalaman.
.
.
.
.
__ADS_1
Noted :
* uwa : kakak dari orangtua.