
"Nay," Andro mendekati istri usilnya itu yang kini masih asik memandang ke luar jendela kamar, "tadi tuh Nay liat resort dari atas, mas. Bagus banget lautnya ih kaya crystal!" ia masih begitu terpukau dengan moment di udara tadi.
Andro mendaratkan kedua tangannya tepat di pinggang Naya sehingga wanitanya itu memutar, "makasih ya, mas."
Liburan ini, membawa serta perasaan baru di diri keduanya, jika Andro dan Naya sama-sama telah menyatakan perasaan cintanya masing-masing. Ternyata benar kata orang, jika pacaran setelah menikah itu jauh lebih indah, jauh lebih halal, mereka bisa mengeksplore rasa hingga ke in tim sekalipun tanpa harus takut dosa dan memikirkan apa kata orang.
Bukan Andro yang kini agresif, namun Kanaya...wanita ini dengan berani mengalungkan kedua tangannya di leher Andromeda dan menekan tengkuk Andro, memintanya untuk menunduk, sementara ia sendiri berjinjit mendongak.
Di daratkannya kedua belahan bibir ke bibir Andro dan menye sapnya penuh perasaan cinta, ia yakin jika bapak-bapak hot ini patut ia perjuangkan dan pertahankan. Keduanya memejam menikmati perasaan membuncah penuh sayang yang tercipta.
Andro cukup kaget awalnya dengan tindakan Kanaya, namun tak urung membantu Naya yang kesusahan menciumnya, bahkan Andro tak segan menggendong Naya lalu menahan pan tatnya, sepasang kaki nakal Naya melingkar erat di tubuh Andro, seperti anak kecil yang lagi digendong.
"Mas, aku berat engga?" tanya nya melepaskan paguu tan.
"Berat, kayanya gara-gara tadi kamu bohong sama ngerjain ibu-ibu, jadi dosa kamu makin nambah..." jawab Andro, tindakan Kanaya ini membuat Andro melupakan sejenak hal yang awalnya ingin ia sampaikan. Biar nanti saja setelah ini, karena kenyataannya Kanaya berubah jadi wanita agresif yang menyerangnya bertubi-tubi. Naya tertawa mendengar jawaban Andro, "mas liatin aku tadi?"
"Maksudnya liatin kamu yang naro keranjang belanjaan di depan kasir duluan atau kamu yang ngada-ngada masalah amplang?" tanya Andro tau.
Kanaya kembali tertawa tergelak mendengar itu, "mungkin nanti kita jangan ke toko itu lagi, atau jangan ke mall itu lagi kalo bisa ke sini lagi, mas. Pasti muka ku udah ditandain!" jelasnya mendapatkan senyuman geli dari Andro.
"Mas,"
"Hm?" tanya Andro mengangkat sebelah alisnya, ia sengaja hanya menerima saja, membiarkan Kanaya mengambil alih nahkoda kapal, apakah wanitanya seberani barusan untuk meminta sesuatu yang menurut kaum wanita adalah suatu hal menggelikan untuk meminta duluan pada pasangan.
"Mas ngga mau bawa aku ke ranjang terus nelan jangin aku gitu?" tanya nya fulgar, membuat Andro tertawa kecil. Oke, Naya memang berani!
"Kecil-kecil nakal, ternyata mas nikahin anak nakal?!"
"Ck, pake so so'an ngga suka! Naya jadi nakal karena mas yang ajarin," jawabnya.
"Cepetan atuh mas," ia merajuk menggoyangkan badan, Naya tau jikalau bagi seorang lelaki kebutuhan itu jelas penting, dan ampuh sebagai ucapan terimakasih. Mungkin tak apa jika ia sesekali menjadi pellacoer untuk Andromeda? Ngga bikin dosa, kan?
__ADS_1
"Apanya?" tanya Andro menggoda.
"Ih! Telan jankin aku atuh! Mumpung Naya lagi baik, kapan lagi Nay minta," Andro benar-benar tergelak dibuatnya.
Mungkin esok atau lusa, kondisinya tak akan se syahdu dan sein tim ini setiap waktu, di rumah...ada momy dan ayahnya tak jarang pula rumah justru mirip panti asuhan, di rumah Kanaya sudah jelas kondisi rumah yang tak memungkinkan, membuat keduanya tak mungkin bisa selepas dan semanja ini, kecuali jika mereka memiliki rumah sendiri, dan Andro masih proses untuk membangun. Maka ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk kembali menggauli istri usilnya. Mumpung masih edisi honeymoon, iye kan?! Hajar dude!
"Aahhh~~~"
Keringatnya dan keringat Naya kembali menyatu di kala menuju magrib, "mau mandi bareng?" tawar Andro.
"Engga. Mas aja dulu," ujarnya mendorong tubuh Andro dan memintanya turun.
Andro beringsut turun lalu menyambar handuk untuk melakukan mandi besar, lalu disusul Kanaya.
"Cepet, mas tunggu buat berjamaah."
Wanita yang telah memakai kaos tanpa dalamaann itu mengangguk paham dan berlari kecil ke kamar mandi. Diantara do'a-do'a yang dipanjatkan terselip do,'a keturunan dari Andro.
Ia memutar tubuh yang terbalut sarung dan kaos, "Nay.."
"Tadi sore pak Akbar telfon waktu kamu lagi di pesawat."
Kanaya masih menyimak dengan alis yang bertaut, melihat wajah istrinya yang baru saja diliputi kebahagiaan Andro sedikit tak tega, tapi mau tak mau Andro harus menyampaikan ini.
"Teh Marni mau pulang ke Indonesia," lanjut Andro. Binar bahagia kembali terpancar dari wajah Naya, "wah?! Beneran mas?!"
Kanaya langsung mencari ponselnya dengan masih berbalut mukena, "harus telfon pak Akbar ini mah! Pengen tau! Ibu udah dikasih tau kan, mas?!"
"Nay...mas belum selesai ngomong, dengerin dulu." panggil Andro menghela nafasnya.
"Ngomong aja mas, Naya dengerin." Angguknya masih sibuk mencari dan mengubek-ubek isi tas selempangnya.
__ADS_1
"Ponsel Naya mana ya, mas?" tanya nya. Andro mengangkat ponsel Kanaya di tangannya yang sejak tadi ia taruh di dekat ponsel miliknya.
"Ck. Kenapa mas ngga ngomong kalo ponsel Naya di mas Andro," dumelnya, "eh, tapi setau Naya kontrak teteh teh masih lama, mas? Apa dia ngajuin cuti ya? Emangnya bisa gitu?!" alisnya bertaut.
"Nay, teteh masih ketahan di Arab, teteh emang mau pulang...tapi beliau menunggu keputusan pihak KBRI dan kondisi kesehatan yang membaik,"
"Maksudnya?" tanya Naya.
"Teteh mengalami kdrt, Nay." Andro meloloskan nafasnya berat.
"Hah?! KDRT?!" Naya mengerjap.
"Terus teteh gimana, mas?! Siapa yang nemenin disana, kok bisa?!"
"Sekarang bapak sama pak Akbar lagi urus," Andro sungguh tak berniat menceritakan kronologinya pada Naya.
"Pokoknya kita tunggu saja kabarnya," jawab Andro.
"Upa.." gumam Kanaya mengingat keponakannya itu, "mas, honeymoon kita bisa di percepat ngga? Naya pengen pulang aja, biar nanti Naya bisa temuin teteh, boleh kan mas?"
Mau tak mau Andro mengangguk, waktu yang seharusnya 5 hari harus ia pangkas jadi 3 hari.
"Teteh ngga apa-apa kan, mas?" tanya Naya, "pak Akbar bilang apa?"
"Teteh baik-baik aja. Lagi ditangani sama rumah sakit," jawab Andro, ia tak sampai hati mengatakan jika teh Marni cukup parah saat ini. Ternyata selama di Arab, ia sering mendapatkan perlakuan kejam dari majikannya, sampai kemarin seorang tetangga yang selalu penasaran dengan suara ribut-ribut di rumah tersebut memberanikan diri melihat saat si empunya rumah pergi keluar lewat halaman belakang, betapa terkejutnya ia menemukan teh Marni dengan luka di hampir sebagian tubuhnya sedang memunguti nasi yang berserakan di dekat kandang peliharaan.
.
.
.
__ADS_1
.
.