
Selepas pulangnya Andro sekeluarga, Kanaya langsung menghubungi teh Marni.
"Assalamu'alaikum."
"Mama!!!" seru Upa yang juga ada disana.
(..)
Kanaya mengangguk mengerti dengan ucapan teh Marni seraya menyerot air hidungnya, ia melakukan panggilan Internasional ke Arab Saudi melalui ponsel pak Akbar.
Meski sedikit kecewa kalau teh Marni tak dapat hadir di acara pernikahannya, namun ia cukup bersyukur karena tau jika tetehnya itu dalam keadaan baik-baik saja.
"Teteh do'ain dari sini, semoga Nay sama calon adek iparnya teteh samawah..."
Selajutnya ponsel itu dikuasai Puspa yang berulang kali mencurahkan rasa rindunya pada sang ibu dan memintanya untuk pulang. Bahkan Kanaya pun memintanya untuk pulang dan bekerja di Indonesia saja, namun teh Marni masih enggan pulang dengan dalih masih berada dalam kontrak kerja.
Lain hal dengan Kanaya yang sedang melow-melow'an bersama keluarga, Andro justru sedang sibuk mempersiapkan acara pernikahan, ia memang tak pernah menunda-nunda pekerjaan dan mengerahkan teman serta karyawan untuk mengatur semuanya, tak mungkin juga ia mengerjakannya sendirian.
Jarum pendek di dinding sudah menunjukan pukul 11 malam, namun ia masih berada di depan layar laptop. Hampir semua rekan bisnis, teman alumni kampus, alumni sekolah dan karyawannya tak ada yang percaya jika undangan yang disebar oleh Yudha, Andrew, Enzy, juga personel Pandawa, Kurawa adalah undangan pernikahan seorang Andromeda Putra Mahesa, pasalnya lelaki pendiam ini tak pernah terdengar kabar berita jika ia memiliki seorang kekasih belakangan ini.
\*\*\*\*
Pagi-pagi sekali satu Jakarta dan desa Giri Mekar sudah dikejutkan oleh surat undangan pernikahan, gimana ngga bikin geger, acara nikahan itu terkesan rusuh kaya orang mau boker.
...***You Are Invited 💐***...
...***Save the date 🤵❤👰***...
...***Andromeda Putra Mahesa***...
...(***Putra kedua dari bapak Arkala Mahesa dan ibu Shania Cleoza Maheswari***)...
...***Dan***...
...***Kanaya Dewi Kusumaningrum***...
...(***Putri kedua dari bapak Acep Budiman dan ibu Arum***)...
...***Akad : Sabtu 13 Mei 202X, masjid Agung Cianjur, pukul 16.30 wib*** ...
__ADS_1
...***🍃 Resepsi Cianjur : Sabtu 13 Mei 202X***...
...***Resto and cafe Dapoer Priyangan, Cianjur, pukul 19.00 WIB - 22.00 WIB***....
...***🍃 Resepsi Jakarta : Minggu 14 Mei 202X***...
...***Hotel Santika, pukul 11.00 WIB - 15.00 WIB***....
...***Dengan surat undangan ini kami mengharapkan do'a dan restu, tiada hal berkesan tanpa kehadiranmu***....
...***Wassalam***,...
...***Andro dan Naya***...
"Punteun!"
Kanaya bahkan belum bisa sadar sepenuhnya, mirip ayam keserempet motor saat kini seorang lelaki yang mengaku karyawan Andro datang pagi-pagi bawa paper bag besar berisi undangan yang bahkan lebih cantik ketimbang undangan Salman dan Desi waktu lalu.
Ia lebih kejer lagi begitu membuka plastik salah satu undangan, kertas yang lebih tebal menyerupai buku dongeng yang di halaman pertamanya adalah inisial namanya dan Andro, lalu halaman kedua berwarna silver blink-blink itu menampilkan potongan ayat Al-Qur'an tentang pernikahan, halaman berikutnya adalah namanya dan nama Andro terukir menggunakan font cantik bersama tanggal akad nikah keduanya,
"Ya Allah, neng!" Ibu yang ikut penasaran cukup terkejut dengan mewahnya surat undangan, cukup mewah untuk ukuran kampung begini, boleh dibilang baru ini satu-satunya surat undangan pernikahan termewah di kampung Giri Mekar.
"Resepsinya 2 kali bu?!" serunya geger pagi-pagi.
"Itu, disini 2 kali...di Cianjur sama di Jakarta..." tunjuk ibu pada font yang cukup jelas dan besar, sebenarnya Kanaya tau, tak usah ibu tunjuk pun ia tau namun ia terkejut saja tak percaya, Andro seolah sedang mewujudkan resepsi pernikahan impiannya. Kanaya sampai heran, kebaikannya yang mana yang bisa membuat Allah membalasnya begitu besar.
Apa karena nolongin kucing kejepit?
Atau karena selalu guyur Agus cs kalo lagi mabok?
Tak lupa karyawan itu juga menyerahkan ponsel yang memang niat awalnya diberikan untuk Kanaya, dan ternyata sudah dipasangi nomor salah satu provider.
Tak lama ponsel itu berdering, seolah tau jika ia telah sampai pada si empunya. Kanaya cukup tau! Ngga gaptek-gaptek amat untuk sekedar bertukar pesan atau menghubungi nomor lain. Ia lantas mengangkat panggilan itu,
"Assalamu'alaikum, siapa ya?" tanya Naya.
Andro yang baru saja selesai sarapan memutuskan untuk berjemur di bawah sinar matahari di halaman belakang rumah.
"Wa'alaikumsalam," Andro memutar bola matanya, "malaikat pencabut nyawa!" jawab Andro.
Kanaya tertawa mendengar suara berat nan sexy itu.
"Kalau kamu sudah bisa angkat. Itu artinya, Diki udah sampai." jawab Andro, Kanaya tersenyum lebar, bukan karena mendengar suara Andro namun karena kini ia sudah memiliki ponsel.
"Mas....makasih ya." Kakinya yang tak mau diam membentuk garisan di lantai secara abstrak.
__ADS_1
"Buat?"
Emang nih laki satu kalo ngomong ngga pernah selesai, irit, iritttt banget! Banteran panjang kemaren, udahnya ngga ngomong-ngomong lagi! Kaya sayang aja gitu nafasnya dipake buat ngomong sama orang.
"Buat hapenya, Naya suka..."ujarnya.
"Undangan?"
"Suka juga! Bagus banget mas, mewah, pasti disini pada kaget juga sih, kalo biasanya orang sini pakein bekas undangan buat tutup lampu bohlam, kalo engga bungkus gorengan...kalo undangan kita kayanya sayang deh!" tawanya. Naya tak melihat saja jika disana Andro sudah tersenyum, usahanya semalam yang cukup menguras keeingat dan uang rupanya tak sia-sia.
"Udah sarapan?" tanya Andro kembali.
"Belum. Mas sendiri udah belum?" tanya nya berbasa-basi biar agak lamaan nyobain telfonan pake hape sendiri.
"Udah. Kalo gitu kamu sarapan." Suaranya tetap datar nan dalam meski tak berarti galak. Kanaya sudah mengembangkan lubang hidung sebesar lubang buaya dan melambung tinggi ke atas langit-langit rumah, "cieee perhatiannya! Makasih mas."
"Iya kamu sarapan. Biar saya tutup telfon karena saya mau pergi." Lanjut Andro, sontak saja Kanaya mengerucutkan bibirnya. Baru saja ia merasa dilambungkan ke atas awan tapi Andro sudah menghempasnya jatuh ke dasar bumi.
"Ck! Ya udah. Assalamu'alaikum!"
Tuuttt....
Andro tertawa di tempatnya saat Kanaya menutup panggilan sepihak dari sana, dapat ia bayangkan wajah menggerutu gadis itu, pasti sangatlah lucu.
Bu Lurah menjatuhkan sapunya begitu saja, dengan dadha yang naik turun sesaat setelah menerima undangan dari pak Akbar,
"Ngga bisa! Seberapa kaya emangnya calon si Naya?! Pasti sampe bela-belain hutang ke bank!" cebiknya melengkungkan bibir nyinyir.
"BAPAK ! !" teriaknya masuk ke dalam.
"Wah, ngga nyangka ya a! Naya dapetin orang kota," seru Desi duduk di tepian ranjang, ia sudah siap dengan seragamnya hanya tinggal sarapan lalu pergi bekerja, sementara di sampingnya Salman sudah mengeratkan kepalan tangan bersama perasaan yang bergemuruh.
Melihat sederet nama orang-orang penting yang turut diundang dengan gelar mentereng di belakang namanya membuat siapapun warga desa Giri Mekar yang melihat undangan itu hanya bisa nyengir malu, padahal dulu gadis itu dipandang sebelah mata oleh warga, tapi kini Kanaya berada diantara orang-orang yang *bukan sembarangan*. Pelet apa yang gadis itu punya? Ataukah.....
***Ia mau-maunya dihamilin duluan***??
.
.
.
__ADS_1
.
.