Jelajah Cinta To Andromeda

Jelajah Cinta To Andromeda
JCTA #81. OM ANDRO VS TWIN


__ADS_3

Afifah dan Aliyah tertawa tergelak, mengingat wajah masam Naya.


"Yang bener aja, masa sendal jepitnya sih yang disorot?!" dumel Naya persis omelan tetangga yang keberisikan.


"Jangan ditekuk gitu mukanya tante Nay, abisnya tante ditelfonin susah amat!" balas Liyah.


"Ngga kedengeran."


"Kakak Kartini tau ngga peribahasa 1001 jalan menuju Roma? Jadi kalo pake cara ditelfon lewat ponsel kakak ngga denger, masih banyak cara lain buat manggilin kaka, dan ini salah satunya! Pinter kan kita?!" Afifah menaik turunkan alisnya.


Briliant!


"Ck, lagian kan kaka sama adek lagi main, masa baru ditinggal 20 menit aja udah manggilin?!"


"Tau tuh adek, tapi by the way...kakak TOP, diantara ribuan warga Jakarta yang datang ke mall ini, cuma tantenya gue aja yang datang pake sendal jepit buluk, jadi ngga susah nyari ciri-ciri mencolok lainnya! Udah fix itu pasti kakak Kartininya kita," tawa Afifah. Naya semakin masam melebihi masamnya mangga muda, apakah ia sejenis gelandangan bersendal jepit buluk? Gelandangan aja sendalnya bagus-bagus sekarang mah!


Tawa masih tercipta hingga mereka sampai kembali ke rumah dan ruang tamu. Lain halnya dengan Aliyah yang berjalan menempel pada Naya bak lumut, Afifah lebih ekspresif dan urakan.



"Besok-besok kakak ikutin kak Kartini ah, pake tren sendal jepit buluk, biar kalo nyasar ngga susah dicari!" tawanya lagi dibalas tawa Aliyah.



"Apa sih rame amat?!" tanya Gale, rupanya Fatur juga sudah pulang dari rumah sakit dan langsung kesini.



"Tadi bun, tante Nay......." Aliyah dan Afifah menceritakan kejadian barusan mulai dari mereka yang diganggu terong-terongan sampai announcer pada Gale, dan kemudian Naya mendengar tawa Gale dan Shania karena kejadian tadi. Kemudian mereka rebahan begitu saja di karpet tengah, menyalurkan rasa lelah.



"Aya-aya wae! Ampun!"



"Allah, ampun deh! Maafin kembar ya Nay, emang mereka tuh usil banget, ngga tau deh ngikutin siapa, ngga pernah ngajarin!" ujar Gale tanpa dosa, lantas digelengi Naya, "ngga apa-apa teh, seru justru! Seketika sendal Naya ditandain orang-orang sekota!" ia ikut tertawa. Si bapak-bapak hot tak ada di sana, entah di kamar atau di ruang kerja.



"Yang penting mah uangnya aja tebel! Tau ngga si nci-nci toko mebel aja kalo ke mall cuma pake kaos oblong sama sendal jepit atau selop, tapi badasss! Anak muda yang gayanya Citayeman aja kalah isi dompetnya mah!" imbuh Shania.



Fatur sampai tersedak salivanya sendiri, ini kalo sudah begini kayanya para komedian tanah air gulung tikar dari stasiun tv dan beralih profesi jadi tukang semen, kalah saing sama kaum hawanya Mahesa terutama momy Sha, makin tua makin menjadi mertuanya itu.



"Hahaha, bener! Si momy ih rajin amat sampe merhatiin isi dompet nci-nci, koko-koko kaya mau jambret....apa jangan-jangan ayah itu koko-koko Jawa ya, jadi momy mau?!" tanya Gale berseru.



Tok!



Shania menjitak kepala Gale, "sembarangan, ayah mah si ganteng kalem gula aren!"



Gale menahan perutnya, "aduhh ngga kuat pengen pipis."



"Mas Andro berarti gula merah dong, mii? Kan katanya ayah gula aren? Naya nikah sama turunan pohon aren?!" tanya Naya, Gale benar-benar berlari ke arah kamar mandi, "apa kabar gue kalo bapaknya aren adeknya gula merah?"



"Kamu gula kinca!" jawab Fatur.



"Kakak-adek....tante Nay ngga punya utang janji lagi ya, sama kakak-adek, tante ke atas dulu kalo gitu!" pamitnya pada si kembar.

__ADS_1



"Oke! Tante, pesta piyama yukkk!" ajak Aliyah.



"Boleh," angguk Naya, "minta ijin om dulu ya?! Takutnya om Andro ngga mau ditinggal bobo sendiri?!"



"Ah, om Andro kan udah gede ini, bisa bobo sendiri!" jawab Fifah.



"Ck, bocah---bocah," geleng Gale yang sudah kembali dari kamar mandi.



Naya menjatuhkan badannya di kasur, sepertinya Andro tengah bersih-bersih karena terdengar suara gemericik air dari kamar mandi.


Naya merasa lelah, hingga tak berapa lama matanya mulai mengantuk, padahal waktu sudah menunjukan hampir magrib.


"Bersih-bersih dulu, jangan tidur tanggung magrib," suara seseorang berhasil membuat Naya kembali membuka matanya.


"Iya mas, cuma rebahan aja. Capek," jawabnya menggulingkan badan ke samping berlainan arah dengan datangnya Andro.


Setelah Andro, kini bagian Naya yang bersih-bersih.



Cup!



Naya cukup tersentak kaget karena tubuhnya yang handukan dan masih telan jank dikecup di bagian pundaknya.




Andro kemudian menatap tubuh sexy Naya, bukan karena ia yang telan jank dengan lekukan tubuh aduhai yang membuat Andro semakin berselera meneguk nikmatnya Kanaya setiap saat, namun karena ia sudah halal baginya.



Lirikan mata Andro jatuh di jam dinding, "masih ada waktu sejam lagi, masih bisa mandi lagi lah sat-set..." ia menyeringai menaikan dagu Naya, Naya tak bisa untuk menolak urusan begini.



Andro benar-benar menyatukan kedua wajah mereka sore itu. Masalah mandi lagi tak masalah, toh air banyak, sampo sabun juga banyak.



Tok-tok!



"Tante Nay, ada piyama biru engga?! Biar samaan?!" teriak Afifah dari luar kamar seraya mengetuk pintu kaya ngetokin pintu surga.



Naya menyemburkan tawanya, sementara Andro mendesis lirih bak ular derik, "bocah!"



"Tante Nay, tante tidur? Masa udah mau magrib tidur sii?" tanya Aliyah.



Naya belum menjawab, menunggu ijin dari Andro.



"Kamu janjiin apa lagi sama kakak-adek?" ia mele nguh jelas, alisnya menukik seperti tidak ingin kesenangannya terganggu.

__ADS_1



"Engga," kali ini Naya menggeleng tak tau.



"Nay ngga janjiin apa-apa, tadi tuh Fifah sama Liyah ngajakin pesta piyama, tapi Naya belum iyain minta ijin mas dulu,"



Andro mele nguh, "pesta piyama?"



Naya mengangguk cepat, "engga--engga, enak aja!" tolak Andro.



Andro segera menghampiri pintu kamarnya, lalu berdiri menghalangi gawang pintu bak penjaga lembah neraka, "tante Nay lagi pake baju, bocil dilarang masuk!" ia mengacak rambut Afifah dan Aliyah yang sontak saja mencebik.



"Om ih! Minggir! Kali ini kita mau ketemu tante Nay, bukan om Andro!" jawab Liyah sengit.



"Ngga ada pesta-pesta piyamaan! Tante Nay tidur bareng om!" ucap Andro tegas, titik tanpa tanda koma! Menutup pintu kamar dan turun ke lantai bawah diekori kedua keponakannya itu yang tak terima kalo waktu tidur Naya tak bisa mereka pinjam barang semalam saja.



"Ih, om Andro pelit! Lagian kita kesininya kan jarang, sekali-kali doang bareng tante Nay. Om Andro kan tiap hari!" balas Afifah.



"Tante Nay kan istri om," jawab Andro, menuju magrib begini mereka malah rebutan Naya.



"Tante Nay, kan adik iparnya bunda, menantunya oma-opa, tantenya Kak Fifah, dek Liyah sama Arion juga!" jawab Liyah lebih mendetail, Andro menghentikan sejenak langkahnya, anak kedua dokter itu ada saja jawabannya di otak kecil mereka.



Gale mengehkeh melihat adiknya itu kalah debat.



"Anak lo tuh kak Le, bilangin kek!" adu Andro pada Gale.



"Cepu!" bisik Afifah.



"Tau nih om Andro, bobo aja mesti dikelonin terus!" balas Gale.



Naya keluar dengan piyama berwarna biru langitnya atas permintaan twin, dan Andro kini malah berujung menyetujui permintaan kedua keponakannya untuk membangun tenda di halaman belakang, biar berasa kaya lagi berkemah.


"Yeeee! Seru---seru!" ujar Liyah keluar membawa bantal miliknya.


Andro melirik jam di ponselnya, "dua jam lagi!" waktu tidur si kembar selalu teratur pukul 9, maka di jam itu pula ia akan melakukan operasi rahasia, mission imposibble menarik Naya dari kemah.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2