
Naya menunggu Andro mirip nunggu gajihan, lamaaa!
Bibirnya sudah manyun, ia bahkan sudah keluar dari mobil dengan memakai kaos pinjaman Wati dan celana jeans miliknya yang mungkin sudah kotor dan bau.
Dari luar apotik terlihat punggung bapak-bapak hot itu yang sedang mengobrol dengan apoteker, kemudian menerima kresek putih setelah membayar.
Naya menatap sekeliling, dimana lampu jalanan dan kerlap-kerlip lampu kendaraan melintas meramaikan suasana seraya menguap, ia sudah lelah juga....lapar?
"Kenapa ikut keluar, tunggu aja di mobil."
"Mas lama, tau Naya tuh ngga bisa lama-lama di dalem!"
"Banyak yang beli, yuk! Keburu malem nanti sampe rumahnya," Andro membuka kembali pintu mobil setelah menyerahkan bungkusan kresek putih pada Naya.
Ia memanjangkan lehernya ke dalam kresek demi melihat barang yang dibeli Andro, "mas beli berapa biji?" tanya Naya mengeluarkan satu persatu dengan berbagai merk dsn bentukan.
"Cuma 4, biar lebih akurat. Dan kamu bisa makenya," jawab Andro kembali mengemudikan mobilnya.
Naya mencebik, "cih. Ya bisa atuh, orang tinggal nyelup doang, kaya nyelupin kue ke kopi!"
Naya memperhatikan jalanan hingga lama-lama matanya mengantuk saking lelahnya, hingga tanpa sadar ia sudah sampai rumah.
Cukup malam mereka sampai ke rumah sampai orang rumah saja sudah pada masuk rumah.
Terpaksa Andro menggendong Naya masuk ke dalam, naik ke lantai dua cukup menguras tenaga dan pegal tangan. Kalo bisa Andro akan melemparkan Naya pake ketapel saja biar sekaligus nyampe ke atas ranjang.
Andro mandi dan rapi-rapi sebelum akhirnya ikut bergabung dengan Naya di kasur.
Ia menggeliat seperti ulat sagu, mungkin cukup lama Naya tertidur, karena tidak biasanya ia akan bangun lebih dari pukul 5 pagi.
"Duh," ia bangkit membuka selimut, rupanya celana yang ia pakai masih jeans yang kemarin, Andro tak berniat menggantikannya semalam, mungkin takut khilaf. Naya sempat terdiam sejenak kemudian meraih alat tespek yang tah ia siapkan di meja terlebih dahulu dan masuk kamar mandi.
"Kesiangan ini mah subuhnya," ujarnya tergesa, melirik Andro sekilas yang masih bergulung dengan selimut ketika masuk ke kamar mandi.
"Mas Andro juga kesiangan!" Naya segera menyelesaikan hajatnya dengan menyisihkan sebagian di cup, "ini semuanya aja gituh ya, dicelupin?!" Naya masih memegang ke 4 alat tes kehamilan dengan berbagai merk.
Seolah gambar wanita yang ada di bungkus alat itu sedang menjadi pemandu soraknya dan berseru *iya! Masukin Nay*! Naya akhirnya meyakinkan diri untuk membuka ke semua alat tes kehamilan dan menceburkannya ke dalam air hajatnya di pagi hari.
"Nay, kamu di air? Cepetan, mas juga belum subuh!" ternyata Andro ikut terbangun setelahnya.
"Iya mas, bentar! Nay ambil dulu wudhu!"
Ia segera merapikan diri dan bersih-bersih, menyisihkan cup berisi alat tes itu di pojokan bawah kamar mandi dan meninggalkannya begitu saja.
Naya memutuskan untuk melakukan fardhunya sendiri tanpa menunggu Andro, lalu turun ke lantai bawah.
Niat hati membantu bi Yani menyiapkan seperti biasanya, Naya langsung membekap hidungnya sendiri dari jarak 5 meter.
"Emhhh! Bi, masak apa ih bau gini?!" Naya langsung berbelok ke kamar mandi dan melakukan ritual barunya, memuntahkan sesuatu dari perut sampai cairan kuning ikut keluar dari sana.
__ADS_1
"Neng, ya Allah...kenapa?! Sakit? Masuk angin?!"
Naya menggeleng, "engga. Tadi nyium itu mendadak mual, bi Yani masak apa sih?!" tanya nya meringis pahit lalu menyiram bekasnya.
Pagi-pagi rumah ini sudah diributkan oleh bau masakan, kalo ada Naya emang ngga pernah sunyi.
"Bau apa neng? Ya biasa weh bi Yani mah kalo masak ya begini, wangi bumbu...kan biasa, masa bau?!" Bi Yani sampai mengibaskan aroma masakan ke arah hidungnya demi mencium aroma masakan takutnya bahan yang ia gunakan sudah basi, tapi hasilnya nihil...masakannya justru wangi-wangi saja.
Naya bergidik ke arah halaman belakang, ia bahkan setengah berlari sambil menutup hidung dengan kaos layaknya lewatin bantar gebang yang belum diangkutin sampahnya.
Daripada nyiumin bau masakan yang bikin mual, Naya memilih melihat halaman belakang yang ia sulap jadi apotik dan dapur hidup.
Halaman kosong sepetak rumah ini udah mirip kebun pak Raden karena Naya yang rajin menanam dan mengurus tanaman, disaat wanita lain meminta tas ia meminta cangkul kecil.
Ia tak segan mengacak-acak tanah di pagi hari mirip kucing yang mau buang hajat.
Bi Yani melongokan kepalanya demi melihat majikannya itu ngais-ngais tanah kaya ayam, "neng! Kemaren bibi ambil lengkuas!" jeritnya membuat Naya menoleh, "iya, ngga apa-apa bi, asal di tutup lagi biar tumbuh lagi..." jawabnya.
"Neng, masih pagi atuh! Udah disitu aja, nanti bibi salah nyiram kucing yang lagi buang hajat!" kelakarnya. Naya tertawa, "ngga apa-apa siram aja, Naya juga belum mandi ko!"
Andro membuka jendela kamar yang langsung mengarah ke halaman belakang dan depan komplek, namun ia lebih tertarik bertengger kaya burung kakak tua di jendela yang mengarah ke halaman belakang demi melihat seseorang yang pagi-pagi sudah sibuk ngurusin tanaman.
"Bi, kalo beli daun bawang itu akarnya jangan dibuang, biar Naya tancepin di polybag, nanti Naya beli deh kalo pulang ngampus." Ucapnya.
"Siap, biasanya jam setengah 7an udah ada tukang sayur neng,"
"Sekarang emangnya jam berapa?"
Sayurrrrr!!!
Naya dan bi Yani saling pandang, lalu segera berlari keluar menyerbu tukang sayur, "mau pada kemana ini teh? Meni rebutan?!" tanya momy Sha.
"Tukang sayur, mii." jawab Naya mencuci terlebih dahulu tangannya.
Shania beroh ria.
__ADS_1
Rupanya tukang sayur sang idola emak-emak sudah cukup ramai digandrungi beberapa ibu dan asisten rumah tangga yang lain. Naya dan bi Yani ikut bergabung disana.
"Teh Yani, belanja!" sapa seorangnya.
Bi Yani mengangguk, tatapan mereka jatuh pada Naya dan mengangguk ramah, beberapamya mungkin sudah tau siapa Naya.
"Neng, mau masak apa?" tanya bi Yani memilih-milih bahan masakan yang ngga jauh-jauh dari tempe, tahu, ayam, tempe. Bersama yang lain Naya menyapukan pandangan ke arah deretan sayur yang dibawa dan dijajakan si mamang, bingung juga! Pasalnya keinginannya angin-anginan, kadang pingginnya pepes ayam, kadang juga pingin sate orang!
"Silahkan neng, masih pada seger, fresh from the pasar!" kekehnya nyengir.
"Ini berapa kang?" tanya asisten rumah tangga tetangga.
"10 ribu."
"Ah, masa segitu! Kurangin lah!" tawar mereka, belum lagi yang malah gelar lapackkk gosip dengan ciri khas saling berbisik, Naya melirik bi Yani yang menggeleng, "ngga usah di dengerin neng."
"Kang ini daun singkong berapa?" tanya Naya.
"Itu 4 ribu neng," jawab si mamang. Naya membeliak, "mahal amat! Di Giri Mekar mah minta sama tetangga juga dikasih sampe satu karung! Sama pohon-pohonnya malah!" ucapnya pada bi Yani.
"Kalo tau mahal gini, Naya jualan daun singkong aja bi, di Jakarta!"
Bi Yani tergelak, "suaminya jualan kopi sama roti juga jajanan pasar, masa neng Naya jualan daun singkong?! Turun derajat neng," jawab bi Yani.
Naya mencebik, apakah harus ia membawa bibit singkong juga dari Giri Mekar.
Andro mengulas senyumannya selagi Naya memilih-milih sayur yang menurutnya serba mahal, namun saat Andro memutuskan untuk mandi ia melihat ke arah pojokan kamar mandi, dimana cup kopi berisi alat tes kehamilan tercelup berada.
Ia berjongkok lalu mengalungkan handuk di lehernya, meraih salah satunya, alisnya terangkat naik dan seulas senyuman tersungging.
"Pantes aja kamu tuh aneh, Nay."
.
.
.
.
.
__ADS_1