
Kanaya merasa jika mobil yang ditumpanginya berhenti melaju, ia membuka celah terpal yang menutupi bak pick up tempatnya menumpang bersama para ulat sayur lalu menyapukan pandangan dengan cara mengintip.
"Spbu nih kayanya," gumam Naya, ia semakin menyibakan terpal setelah dirasa cukup aman. Tak mungkin ia mengikuti pick up sampai tujuannya. Ia hanya berniat menumpang keluar desa saja hingga dirasa posisinya cukup aman dari kejaran orang kampung, mungkin besok-besok namanya akan melegenda macam sangkuriang di desa Giri Mekar karena kabur disaat acara lamaran dan sukses bikin satu kampung pusing mencari-cari calon manten perempuan. Kanaya segera keluar dari pick up dengan mengendap-endap.
Ia menyapukan pandangan ke sekeliling, cukup tak percaya jika kini ia keluar dari desa seorang diri tanpa siapapun selain dari bayangannya sendiri. Ada rasa bangga, sedikit takut, dan....excited! Begini rupanya rasanya kabur, asik-asik bikin deg-degan.
Kanaya tak mau menunggu lama lagi, ia menghampiri seorang bapak yang sedang mengantre untuk membeli bahan bakar di barisan pertalite di atas motornya.
"Maaf pak," sapanya menenteng tas dengan isian yang bahkan ia saja tak ingat apa saja yang ia masukan ke dalamnya. Beberapa orang melihat kehadirannya dengan penampilan yang cukup mencolok dengan tatapan mencibir dan terheran-heran. Rombongan kartinian dari kelurahan mana nih?
"Saya mau nanya, kalo mau ke alamat ini, kira-kira saya harus naik apa ya?" tanya Naya, begini nih kalo jaman modern ngga punya gadget, buntu! Berasa ngga punya tumpuan hidup, mana ngga punya bahu buat bersandar pula!
Naik ambulans ke rumah sakit jiwa, lirikan penumpang motor tersenyum usil melihat tampilan Naya.
"Mbaknya dari mana?" tanya si ibu gatal juga tak ikut bersua, mungkin pikirnya Kanaya adalah si mbok jamu yang nyasar abis mendaki bukit lewati lembah terus silaturahmi ke rumah tarzan.
"Dari Cianjur mau kesini," tunjuk Naya ke arah kartu nama Shania.
"Oh, Pawon Kurawa...ini biar lebih gampang naik ojek online aja mbak," jawabnya.
Kanaya mencebik nyinyir, terus saya harus pesen pake apa?! Cobek!
"Saya ngga bawa ponsel, mbak." Naya nyengir menampakan gigi rapinya.
"Hm, kalo gitu mbak bisa naik angkot nomor----"
Andro membunyikan klakson mobil beberapa kali, berharap orang rumah keluar.
Beberapa menit cukup lama sampai-sampai Andro udah sempet buat yasinan, pintu terlihat dibuka dan sosok Afifah lah yang keluar, gadis itu berlari ke arah pagar dan membuka pintu besi itu beberapa puluh centi, pas untuk seukuran badannya yang cukup gemoy.
"Bukain jangan, om? Tapi om Andro mau kasih berapa kalo kaka bukain gerbang?" tanya nya bersandar di pagar yang ia buka beberapa puluh centi.
Ck! Andro berdecak, ia baru ingat jika ini weekend. Pantas saja rumahnya mendadak mirip panti asuhan.
Andro kembali membunyikan klakson mobilnya beberapa kali tanda ia sedang tak ingin melayani keusilan keponakannya itu.
"Iya---iya! Om Andro sensi amat sih! Kaya bunda kalo ayah belum kasih uang jatah salon!" dengusnya menggerutu, lalu ia mendorong kuat pagar besi hingga Andro dapat memasukan mobilnya.
Kaca jendela ia buka lalu tangannya menggoyangkan paper bag yang ia raih dari jok sebelah sebelumnya membuat Afifah berseru.
"Wih, oleh-oleh! Kaka mau om!"
"Bantuin bawa! pak Samsul kemana?" titah Andro lalu bertanya.
"Pak satpam lagi disuruh bunda ke depan sebentar," balasnya.
"Ya udah, tuh dibawa yang lain juga di belakang!" tunjuknya.
"Siap kapten!" balasnya cepat.
Mobil Andro terparkir cantik di belakang mobil Gale dan Fatur, weekend kali ini tak terlalu ramai seperti biasanya, hanya ada mobil Gale, motor matic Guntur dan motor gede Denial.
Andro membiarkan Afifah sibuk dengan paper bag dan kresek oleh-oleh yang ia beli tadi di jalan sementara ia masuk ke dalam rumahnya.
"Tutup lagi pintu mobilnya," pinta Andro.
__ADS_1
"Oke, omkuhhh!" jawabnya.
"Adekkk! Liyahhh! Bantuin, oleh-oleh nih!" teriaknya dari luar dengan menyeret beberapa paper bag.
"Assalamu'alaik----"
Yang diteriakin Afifah itu adiknya Aliyah, namun yang keluar justru Shania dan Gale, "punya oma itu!"
"Asik, oleh-oleh euy!" dokter anak satu ini juga tak mau kalah.
"----um, "lanjut Andro.
"Wa'alaikumsalam. Itu punya momy kan, Ndro?!" tanya nya, namun tangannya sudah sibuk menerima kresek dari Aliyah.
"Semuanya," jawab Andro kalem masuk ke dalam.
Dilihatnya Fatur sedang memomong Arion di karpet, bersama dengan para bapak tua yang semakin tua karena tingkahnya.
"Ndro, baru balik dari Cianjur?" tanya Deni menerima salim takzim dari Andro.
"Iya om,"
"Moci, hahah!" Gale tertawa, "yang bedaknya belang maksud om? Iya kali selera si Andro kaya begituan!" ia menyuap moci langsung dari keranjang, "kaka, adek! satu talian angkut ke mobil buat di rumah!" titahnya.
"Eh, apa main bawa aja! Nanti dulu, dibagi-bagi dulu," tukas Shania. Begini nih kalo udah rebutan makanan, padahal tukang kue..tapi tetep aja sekalinya makanan asing paling seneng 2 cewe Arkala ini rebutan, kaya ngga ada hari besok lagi.
"Mau gue Sha!" ujar Guntur.
"Momy ih, Andro bawanya banyak juga!"
"Gimana?" Arka yang paling kalem dan selalu yang paling kalem tak terdistrack dengan perdebatan momy dan Gale yang kini dicampuri oleh Guntur.
"Jadi yah, nunggu teken perijinan dalam waktu seminggu ke depan. Siap panggil arsitek sama tukang, terus kirim bahan bangunan." Andromeda menjatuhkan seluruh beban di atas sofa setelah sebelumnya meneguk air mineral dingin yang ia ambil dari kulkas.
"Wah, jadi dong om businessman kita ini potong pita sebentar lagi, buka cabang baru Route '78 sama angkringan," ujar Fatur menyerahkan Arion pada Gale.
"Cieee, fasih banget bilang Route '78, mentang-mentang punya kenangan manis, cafe kenangan!" cibir Gale pada Fatur.
"Kenangan apa?" kening Shania berkerut mencolek tauco namun otaknya berputar akan ia masak jadi apa kira-kira tauco ini.
"Kenangan mantan atau kenangan disuruh nyuci piring karena ngga bisa bayar?" tanya Guntur ikut mengunyah moci.
__ADS_1
"Hahahah, itu mah elu! Nitipin ktp ke warteg!" cibir Deni.
"Heran! Anak juragan jengkol duitnya cekak, sampe ngutang!" cebik Shania.
"Semua orang punya masa lalu," jawab Fatur.
"Betul! Si gemoy cemburu nih ye!" jawab Denial setuju dengan Fatur, disanalah masa lalunya dengan mantannya si artis dan awal jejak karirnya menjadi seorang publik figur.
"Masa lalu---biarlah masa lalu...." dendang Guntur.
"Nih, ponakan gue yang ini doang nih! Yang anteng, kalem, diem-diem bae, tau-tau bau di pojokan!" kekehnya.
"Boker maksud lo?" tanya Shania ditertawai si kembar.
"Belum punya masa lalu indah bareng seseorang atau justru udah tapi kita ngga tau, Ndro? Secara kamu misterius kaya pak Arka?" tanya Guntur menepuk pundak Andro, ia yang merasa kurang nyaman lantas beranjak dan membuka kemejanya, Andro memilih untuk melakukan gym saja daripada harus mendengarkan perdebatan cerita masa lalu.
"Hahaha! Dia langsung minggat kalo ditanya masa lalu, jomblo lovers! Ayah banget!" tawa Gale. Arka hanya mengulas senyuman melihat Andro, bak melihat dirinya dulu, seraya Shania yang menyuapkan moci ke dalam mulutnya.
"Om Andro ngga pernah punya pacar, bunda!" imbuh Afifah.
"Tuh, anak-anak lo lebih tau, saban hari jadi kerjaan gue ya ngurusin anak-anak lo, kak Le.." gerutunya berlalu.
Gale kembali tertawa, "the best om ever!"
"Dulu tukang jagain emaknya, sekarang momong krucil-krucil Gale...nasib kamu Ndro," geleng Deni tertawa kecil.
Andro meninggalkan keramaian ruang tamu ke arah kamar, menaruh tas dan mengganti pakaiannya, lalu ia keluar kembali setelah berganti kostum menampakan badan bagusnya menuju ruang dimana alat-alat olahraga berada.
Hatinya tak menentu sekarang, dan akan Andro lampiaskan pada kegiatan fisik, ---*entah apa yang terjadi, entah kenapa hatinya mengalami itu*.
Tangannya memencet tombol kecepatan di alat treadmil dan mulai berlari di atasnya.
Beberapa saat ia berolahraga membuat kaos yang dipakai cukup basah oleh keringat.
"Ini rumah apa kantor?" Kanaya sudah sampai, gadis itu mendongak dan meneliti setiap sudut, inci tampilan depan rumah ini setelah turun dari ojek pangkalan.
Papan banner kecil bulat bertuliskan Pawon Kurawa dan logo selaras menempel di atas tembok gerbang pagar.
Ia celingukan sambil berjinjit, tapi percuma saja...gerbang pagar besi di depannya cukup tinggi, Kanaya lantas mengintip lewat celah-celah pagar besi demi melihat kondisi di halaman.
"Reseller atau karyawan? Pencet bel aja," suara seseorang mengejutkan Kanaya.
"Mau ngelamar," jawab Naya. Tetangga Shania mengernyitkan dahinya melihat Kanaya, yang benar saja! Ngelamar apa pake baju begitu?
.
.
.
.
__ADS_1