Jelajah Cinta To Andromeda

Jelajah Cinta To Andromeda
JCTA # 35. ADA SAYA!


__ADS_3

Gadis itu berjalan setengah berlari menyusul Adiba dan Shania, hingga Andro dapat memperhatikan badan belakangnya. Harusnya kan yang keluar adalah kalimat will u marry me, kenapa jadi ya udah nikah aja! Andro mencibir kemampuannya melamar seorang gadis yang begitu jauh di bawah nilai kkm.


Ia membenarkan letak topinya merasa kurang nyaman, mendadak udara sesak untuknya.


Lo payah, dude! Cibirnya pada diri sendiri sementara Kanaya sudah meledeknya mabuk kecubung.


Kanaya menyapukan pandangan ke segala arah, kontrakan yang ditempatinya paling depan, dekat dengan jalan. Cukup luas untuk ukuran dirinya yang seorang diri, hanya saja isinya masih kosong kaya isi otaknya sekarang yang nge-blank.



"Teh Sha yakin?" tanya Adiba, "ngga mau nampung di apartemen atau rumah?"



"Gue udah bilang sama Andro, Diba..tapi katanya justru bakalan nyusahin Kanaya sendiri nantinya. Gue ngga ngerti sama pola pikir Andro, nolongin aja ribet! Suka sama perempuan aja mesti di geret ke emak, timbang bilang i love you, saya suka kamu, mau ngga nikah sama saya?! Ribet! Mirip bapaknya!" geleng Shania. Adiba terkekeh, "mungkin Andro tidak terbiasa teh, bingung...pengennya nolongin, pengennya kaya yang dibilang teteh tapi takut salah, gugup...ngga enakan, takut di tolak."



"Iya. Cewek aja mesti diempanin!" sarkas Shania.



"Sampai kapan teh? Ngga apa-apa pake aja. Ngga usah pake uang sewa---uang sewa lah, kaya sama siapa aja! Tadi bang Guntur juga bilang gitu, yang ini khusus buat pacarnya Andro," ujar Diba.



"Sementahun...sampe si bujang berani bilang i love you," kelakar Shania berbisik takut putranya itu tersinggung, sontak ditertawai Adiba.



Adiba menoleh pada Andro,"hah, ponakan onta Guntur payah! Masa pendidikan magister tapi ilmu percintaan masih kalah sama anak playgroup, anak sd aja udah berani ayah---bunda'an!" ledek Adiba menyenggol lengan kekar Andro.



"Masa atuh, Revan aja udah punya buntut. Naomi apalagi, udah mau punya bocil 2," ujar Diba.



Kanaya hanya berdehem berusaha tidak mendengar pembicaraan ketiganya, anggap saja ia budeg! Gadis itu lebih memilih sibuk melihat kontrakan yang ngga luas-luas amat, kali aja dapet temen hidup di pojokan langit-langit rumah.



Tapi memang dasar muka tembok, Andro acuh saja.



"Neng, gimana atuh ya...ngga ada kasur..." ujar Shania.



"Ngga apa-apa bu, biar tidur pake mukena aja sama sajadah..." jawab Naya enteng, seolah itu bukanlah hal yang patut ditangisi atau direngeki, baginya hidup sulit sudah biasa. Shania dan Adiba mencelos tak percaya, ya Allah!



"Ada deh kayanya kasur lipet, coba nanti onty bawa kesini ya sama si Urip!" sela Diba.



"Alhamdulillah, rejeki anak soleh mah ngga kemana!" seru Naya.



Meski hanya beralaskan kasur lipat tipis Naya tak menjadikan itu sebuah beban hidup. Udah bisa tidur ngga keujanan sama kepanasan aja udah bersyukur. Belum lagi tetangga yang mengontrak menyapanya baik.


Kanaya berdiri di depan teras kontrakan setelah menerima kunci dari Adiba.


"Onty Diba kasih keringanan sama kamu biar dibayar nanti aja pas kamu gajihan!"


Kanaya tersenyum lebar bak brand ambasaddor pasta gigi kuda, "makasih bapak!" jawabnya nyengir.


"Bisa ngga panggil saya jangan pake kata bapak, saya berasa tua!" ujar Andro keberatan, tiap kali Kanaya memanggilnya bapak ia merasa seperti seseorang tua yang menyukai bocah! Berasa jika dunia fana tempatnya berpijak ini sebentar lagi bakalan kiamat.


"Terus panggil apa?" Kanaya menautkan alisnya hingga bisa saling mengenyit.


"Mbah? Bro? Akang? Ngga sopan ah! Bagusan bapak, lebih sopan dan cocok..." angguknya mantap.


"Memangnya wajah saya setua itu?!" belum apa-apa gadis ini sudah memancing emosinya, strike mania!


"Ya engga sih. Bapak ganteng kok!" jujurnya, membuat Andro jadi salah tingkah di sebut ganteng, namun ekspresi wajahnya tak menunjukan perubahan yang signifikan, fix! Kanaya dapat menyimpulkan jika urat wajah lelaki ini mati rasa! Jadi ia yang malu sendiri, muji-muji orang sementara yang dipuji biasa aja.

__ADS_1


"Ngga mau bilang makasih pak?" tanya Kanaya memberanikan diri.


"Udah sering. Jadi biasa aja," jumawanya, percayalah Kanaya saat ini sudah tak bisa menahan gejolak kekesalannya, wajahnya mirip kartun makibaw si sapi dengan lubang hidung sebesar goa Hira, mendengar ucapan sombong Andromeda.


"Bapak mendingan pulang deh pak, saya mabok lagi pengen muntah!" balasnya, Andro tertawa telah kembali berhasil mengusili Kanaya.


Shania tersenyum mendapati Andro yang tertawa puas saat bersama gadis ini, jarang-jarang putranya bisa selepas itu terlebih bersama orang lain terutama perempuan, ini langit ngga runtuh kan?! Shania sampai mendongak ke arah langit senja.



Kanaya baru saja membeli sabun batang, dan pasta gigi dari warung terdekat, ia merasa badannya terasa lengket.



Kemudian ia menyalakan air di kamar mandi sepetak, mengguyur badannya dengan air dari dalam bak demi meluruhkan semua beban kotoran, lelah fisik, hati dan pikirannya.



"Oke Kanaya, dari sinilah perjalanan hidup kamu dimulai!" gumamnya melilitkan handuk di kepalanya, ia berjongkok mengambil pakaian, hingga beberapa saat kemudian ia mendengar ketukan pintu dari arah depan.



Tok---tok---tok!



Gadis itu diam sejenak demi memperjelas suara, darimana suara ini berasal, apakah dari pintu kontrakannya?



Kanaya!



Mendengar namanya dipanggil seseorang, Kanaya tak bisa untuk tak beranjak ke arah pintu.



"Siapa?"




Wajah Andro kembali menjadi pemandangan pertama yang di dapatinya, baru juga pergi lelaki ini sudah balik lagi?!



"Bapak kangen saya apa gimana, perasaan baru aja pulang udah balik lagi?!"



Melihat Kanaya dengan handuk melilit di kepala Andro tau jika gadis itu baru saja selesai bersih-bersih.



"Saya lupa bilang sesuatu sama kamu..." ia menyerahkan dua kresek putih ke arah Kanaya.



"Ini apa?"



"Buka aja," titahnya.



Naya nenyambarnya dan segera membuka, satu kresek berisi makan malamnya.



"Hhmmppphh---wangi banget, pak!" ia tebak ini adalah nasi goreng dan sate.



Dan kresek lain berisi alat kebersihan, ia memang tak banyak tau dengan persabunan perempuan, hanya asal saja saat memilihnya di minimarket beserta mie instan dan beberapa cemilan.


__ADS_1


"Saya bukan manusia ngga berhati," ujarnya. Gadis itu jadi lebih banyak tersenyum saat bersama Andro semenjak ia merasa jika hidupnya telah kiamat saat Salman meninggalkannya, ditambah beban yang bapak berikan. Andro seolah membawa harapan baru untuk Kanaya.



"Bapak baik."



Andro duduk di teras kontrakan, hari memang sudah gelap. Tak mungkin juga Andro masuk lantas berduaan dengan Kanaya disana.



Suasana kontrakan cukup ramai dengan banyaknya orang yang berlalu lalang jadi setidaknya mereka tidak berduaan.



Kanaya tak sungkan menggelar nasi goreng dan sate di lantai, "maaf ya pak. Belum punya meja, karpet, piring juga!" tawanya.



"Ngga apa-apa. Kamu ngga mau bilang makasih gitu?" tanya Andro.



Kanaya menyeringai usil di bawah lilitan handuk di kepalanya, "udah sering. Jadi biasa aja," jawabnya meniru kalimat Andro, ia tergelak sendiri melihat wajah masam Andro.



"Weekend saya antar kamu ke Giri Mekar, buat urusin masalah kamu..."



Sontak Kanaya menghentikan tawanya dan berubah menatap Andro getir, "tapi pak----"



"Ada saya." Potong Andro.



"Saya ngga jamin kita bakalan selamat. Kalo pak Andro sampe di tempeleng pan tat panci atau dilempar wajan dan kawan-kawan gimana?" tanya Naya.



"Ya kamu obatin lah! Masa saya harus nyuruh kamu yasinan!" balas Andro.


.


.


.


.


"Guoblokkk!"


"Naya pasti nyusulin anak kota itu, bu!" ia berkacak pinggang dan mendengus kesal.



"Saya sudah bilang! Kanaya itu tidak cocok untuk pak Agung, pak Agung itu duda! Sudah tua, pula! Dimana letak otak bapak, mau nikahin anak gadis sama duda kolot, bagus ceceu menyusul nak Andro!"



"Kalo sampe terbukti ceceu nyusulin dia ke kota, saya nikahin detik itu juga! Saya bakal minta mahar lebih dari yang pak Akbar tawarkan!"



"Istighfar pak, nyebut! Kamu itu sudah menjual anak sendiri!" balas ibu tak kalah menjerit.



Bapak terpikirkan sesuatu, ia langsung beranjak, "saya harus labrak rumah Akbar! Pasti dia tau dimana Naya! Awas saja kalo sama anak kota itu," gumamnya.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2