
Pak Akbar menyalami Arka dan Shania, saat Andro bilang jika itu kedua orangtuanya. Kini pak Akbar dapat melihat, darimana wajah rupawan Andromeda berasal, perpaduan yang sempurna Arkala Mahesa dan Shania, lalu Galexia lah versi perempuannya.
"Andromeda, Galexia...hm! Bapak sama ibu seneng galaksi," kelakar pak Akbar menerka-nerka.
Jawaban Shania membuatnya menaikan kedua alis, "bener pak!" jawab Shania mengangguk.
"Terimakasih pak Akbar, sudah mempermudah urusan putra saya... Andromeda, selama dia disini. Bagaimana perkembangan lahan bisnis?"
"Alhamdulillah pak Arka, sudah dapat ijin kelurahan dan kecamatan, sudah jalan juga pembangunannya."
"Alhamdulillah," Arka menatap Andro puas, se sat-set itu pekerjaan Andromeda yang memang selalu to the point, tepat sasaran, tak pernah bertele-tele, persis dirinya.
Pak Akbar mengedarkan pandangan ke arah mobil yang berjejer, dan benar saja, halaman rumahnya tak cukup luas menampung jumlah mobil sehingga membuatnya harus kembali mengatur dan meminta ijin menggunakan halaman tetangganya sebagai lahan parkir. Pak Akbar cukup terkejut dengan kedatangan rombongan Andro yang tak terduga ini, pasalnya Andro hanya menyebutkan acara lamaran sederhana....sederhananya tuh segini, lalu meriahnya seperti apa?!
"Aduh, maaf ya pak. Jadi ngerepotin lagi!" Gale angkat bicara.
"Oh, ngga apa-apa bu dokter."
"Hmmm haaahhhh! Inhale---exhaleee!" Ari menarik dan membuang nafasnya, meskipun ia harus mati-matian agar tak membuang dari belakang.
"Nih ya, harusnya gue bangun rumah disini aja kayanya om Den!" Guntur merangkul Deni yang menurunkan cucu perempuan pertamanya, "grandpa, grandpa itu ayam!" serunya menunjuk ayam-ayam pak Akbar yang berlarian karena banyaknya mobil.
"Iya sayang. Coba liat sama grandma.." pintanya menyerahkan Jojo (Jovanka) pada Leli.
"Sini sayang...kita liat ayam!" seru Leli, mereka memang orang kota, berkecukupan, apalagi keluarga Denial cukup terkenal sebagai kalangan entertainer namun untuk masalah menyatu dengan alam begini, jangan ditanya lagi. Mereka tak cukup untuk sesombong itu, lah wong mainannya ke Pondok milik Arka saban bulan.
Deni menarik nafas dan membuangnya, "Kanaya bener....desa ini cantik, tapi sayang..." tunjuknya dengan dagu ke langit, dimana udaranya tercemari asap dari cerobong-cerobong asap pabrik.
"Gue dukung tuh bocah buat bikin desa agrowisata, anak-anak tuh sekarang udah makin langka tau tentang alam, seharian maenan gadget..." ujar Guntur ikut bergabung.
"Nyium bau ngga sih?" tanya Roy, ketiga aki-aki minus akhlak ini menoleh, "bau apaan? Asap pabrik? Masih aman ah!" imbuh Deni. Roy menggeleng, "bukan."
"Bau ta i ayam? Tuh kandangnya!" tunjuk Ari, tapi Roy kembali menggeleng, Guntur yang tau akan otak kamvrett temannya itu tersenyum lebar, "otak lu mah ngga jauh-jauh dari bau cewek njirrr! Gue lapor Inez!"
"Hahahaha, bau-bau kembang desa! Bakalan betah gue mah kayanya kalo punya rumah disini!" tawa Roy, Deni ikut tertawa seraya menggelengkan kepalanya, "kira-kira tanah disini berapa ya?"
"Ehhhh, om Den! Diam-diam menghanyutkan kaya ee!" dimana dan kapanpun keempat aki-aki ini selalu saja Heri (heboh sendiri).
"Ck! Berisik oy, aki-aki!" teriak Niken.
Andro meringis menatap pak Akbar, "maaf ya pak, jadi riweuh gini?!"
Pak Akbar terkekeh kecil, "ngga apa-apa mas, saya senang. Mau sekarang?"
__ADS_1
"Sebentar, bang Andro..." panggil Naomi menarik lengan Andro lalu ia berbisik yang diangguki Andro.
"Pak, mau ikut ke kamar mandi sebentar, maklum lah kalo hamil gede gini bawaannya kebelet terus!" nyengir Naomi.
"Oh, boleh-boleh, mangga atuh teh!" Pak Akbar kembali membuka pintu rumahnya dan mempersilahkan Naomi untuk ke kamar mandi.
"Pak..." Andro menghampiri.
"Gimana beres? Ada, pak?"
"Alhamdulillah mas, kayanya mas sama Kanaya orang baik...jadi dipermudah jalannya sama Allah, kemarin saya contact juragan Wahid, katanya tanah yang sebelahan sama sawah itu masih belum laku, dia juga masih butuh buat lunasin biaya haji..." jawab pak Akbar memantik rasa membuncah nan puas di hati Andro.
"Untuk urusan harga, seperti yang semalam sudah saya beritahu..."
Andro mengangguk, "transfer atau cash?"
"Beliau meminta transfer saja mas, sebagai tanda jadi...setelah acara lamaran hari ini, tadi pagi saya sudah buat janji..."
"Ya."
Tak lama Naomi keluar dari dalam dengan wajah sumringah, "udah bang. Yuk ah! Capcusss!" ujarnya memakai kembali snikernya.
"Keluarganya, keluarga besar ya mas?!" kekeh pak Akbar dibalas tawa Naomi, "bukan besar lagi pak! Apalagi bang Andro ini sesepuh generasi kedua!"
"Yang sepuh, awasi langkahnya ya! Jangan sampai pulang dari sini, rumah pijet penuh!" tawa Naomi, acara lamaran ini udah mirip tadabbur alamnya anak-anak tk, hanya bedanya barisan manusia yang berjalan diantara jalanan pedesaan, sesekali mereka melintasi hamparan sawah dan kebun ini adalah jenis manusia old bin tua, yang kalo jalan jauh dikit aja encok kumat. Kalau perlu, ia berteriak bak guru pembimbing dengan toa.
Gale tertawa puas melihat Andini dan Lila beberapa kali terkilir hampir nyuksruk ke sawah karena high heels mereka, "salah kostum nih gue!"
"Mestinya pake sendal jepit kaya si bontot lele! Ngga tau medan nih!" omel Andini.
"Cal! Gantian sepatunya sama gue lah!" pinta Andini.
"Ogah, lagian si Dono udah dibilangin kalo rumah calonnya Andro di kampung, so soan pengen glamour, di sosor sowang baru nyaho!"
"Tapi gilakk sih ini mah, fix cocok buat healing! Kuy lah bikin villa!"
"Cocok buat berkembang biak ya, Le?!"
"Oyyy, oyyy! Dijaga mulutnya ya bapak-bapak, ibu-ibu! Ada anak cucu nih!" omel Roy.
"Berkembang biak, dikata kutu!" omel Irvan kembali memancing gelak tawa.
Pak Akbar hanya tertawa mendengarkan kelakar para tamu dari Jakarta ini, sepanjang jalan tak terasa karena mereka begitu sibuk, saling melemparkan celotehnya. Bahkan, orang-orang yang rumahnya dilewati sampai kebingungan dengan kedatangan rombongan Kurawa yang seperti akan mengadakan ruwatan desa.
__ADS_1
"Ahhh! Sepatu limited gue, nancep di tanah merah gini," imbuh Andini ditertawai kembali Pandawa dan Kurawa lainnya.
"Riweuhhhh pisan! Pak Akbar punteun nya (maaf ya), meni malu-maluin, bikin geger Giri Mekar!" Shania meringis tak enak pada pak Akbar yang sedari tadi terkekeh, "ngga apa-apa bu, Kanaya mah udah ngga aneh kalo bikin heboh desa."
Naomi sampai berkeringat menempuh perjalanan ini, atau ia'nya saja yang memang sedang hamil besar.
Langkah mereka sampai di depan rumah Kanaya, pintu rumah bahkan terbuka dan menampakan Upa yang tengah melompat kegirangan karena pakaian dress babydoll warna ungu yang dipakainya, sepaket suasana rumah yang seperti suasana syukuran.
Tak ada sofa-sofa mewah atau sekedar kursi hajatan, hanya tikar dan karpet merah tipis sebagai fasilitas duduk para tamu, piring-piring kaca bermotif bunga berwarna kuning bening terhampar di tengah rumah berisikan kue-kue basah khas tanah Priyangan, belum lagi beberapa sisir pisang yang memang asli hasil kebun desa Giri Mekar ikut tersaji.
Bukan hanya Naomi, namun sebagian rombongan menatap tercekat melihat dimana mereka berhenti, "ini rumahnya?" bisik Lila pada Irvan.
"Assalamu'alaikum!"
Mendengar pak Akbar menghaturkan salam tepat di rumah yang paling sederhana dari rumah lain, bahkan terlampau sederhana...membuat mereka percaya jika ini adalah kediaman Kanaya.
Shania tak bergeming dengan kondisi rumah, baginya itu tak penting, ia malah tersenyum saat melihat seorang pria paruh baya bersama wanita seumuran dengannya menyambut kedatangan mereka.
"Wa'alaikumsalam..." balas keduanya hangat.
Untuk beberapa detik para Kurawa dan Pandawa menatap rumah dengan tatapan tak percaya, apalagi saat Arkala sekeluarga masuk melewati pagar bambu yang disentuh saja sudah goyang ingin ambruk.
"Ngapain pada bengong disitu?" tanya Shania.
Tapi sejurus kemudian....
"Alhamdulillah! ! ! ! Nyampe juga !" seru mereka rebutan ingin masuk duluan.
"Masuk yuk masuk! Gue udah pengen neduh nih!"
"Yang muda ngalah, yang tua-tua duluan, takut sendi copot!" seru Guntur.
"Apaan deh, om Guntur! Tua dijadiin senjata banget!"
Ibu Kanaya tersenyum, ia sebenarnya sudah takut jika nantinya Andro dan keluarga akan mencibir dan menghina, jangankan untuk masuk dan singgah di dalam, baru di depan pagar saja mereka mungkin akan langsung membatalkan lamarannya hanya karena kondisi ekonomi mereka.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.