
Naya kembali dengan membawa satu buntelan sayur hijau, daun singkong, bayam, kangkung.
"Astagfirullah!" Shania sampai cengo di tempatnya.
"Ini mau ngasih makan kambing apa gimana?" tanya nya, begitupun Arka yang sedang sarapan ikut melipat kulit di kening.
"Masa kambing, mi. Ini bayem, kangkung sama daun singkong buat makan di rumah. Seger-seger ya mi, lucu!"
Shania mengerutkan dahi, "dimana letak lucunya?" Apakah di mata Naya daun-daun itu sedang jaipongan?
"Maksud Naya, seneng liatnya ijo-ijo! Ini enak buat disayur, yang ini ditumis yang ini dijadiin buntil kalo ngga urab." Jawabnya menaruh semua daun-daunan itu di wastafel lalu mengucurkan air dari kran, sehingga dedaunan itu tersiram butiran air, segar!
"Naya, mau nanem ah Mi! Singkong di sebelah sana!" tunjuknya. "kangkung ala-ala hidroponik aja, bisa loh mi di atasnya kolam lele!"
"Nah kalo bayem nih, di tanah bareng sama yang lain biar pada rebahan!"
Bi Yani sampai terkekeh geli sejak tadi mendengarnya mengoceh.
"Terserah kamu lah, halaman momy udah mirip hutan lindung."
Andro turun dari lantai 2, lalu melihat istrinya sedang menginterupsi bi Yani untuk memasak apa yang diinginkannya, sementara ia sibuk menutup hidung.
Belum Andro berpijak di lantai bawah, Naya sudah memintanya naik lagi, "mas, Nay lupa! Kunci mobil mana mau ambil garem punya Naya."
"Kamu ngapain beli garem? Disini juga banyak, mau dagang garem?" Shania menyendok nasi beserta telur rebus dan abon untuk Arka, "mas mau dipakein taburan ngga?"
"Ngga usah. Itu aja di pinggir."
"Garemnya beda, mi."
"Nih, ambil sendiri!" Andro menyerahkan kunci mobilnya.
Shania menggelengkan kepalanya dengan tingkah Naya, "Naya ngga ngampus, Ndro?"
Ia menggeleng dan mengambil piring, "katanya cuti sakit, emang kemaren Naya keliatan sakit, Mi?"
"Engga ah, biasa aja. Malah itu nyusulin kamu pake motor ke Cianjur. Oh iya, gimana kasusnya tuh?"
"Sempet macet, ada trouble sedikit." Ia menyendok nasi putih hangat lalu mengambil udang dan tempe.
"Terus?" tanya Arka buka suara.
"Udah ditangani Gem, kasus tetap berlanjut sudah naik ke pengadilan."
Arka mengangguk, "mister Ahmed menuntut Upa dan minta tes DNA, tapi tetap tak bisa menguatkan hak asuh terhadap Upa. Justru dengan itu, semakin menguatkan bukti jika Upa adalah hasil ruda paksanya."
Naya kembali dengan memangku kendi, lalu duduk di samping Andro, "apa itu Nay?"
"Ayah mau? Ini garem bakar!"
"Yang dikrusukin ke tungku? Masih jaman?" kekeh Shania menggeser dan melihat kendi itu.
"Masih, dibikinin Wati, temen Naya mi."
"Kamu jangan makan sama garem doang, Nay...ngga ada gizinya!"
Naya menggeleng, "engga. Naya tadi minta bibi dibikinin kangkung...Nanti siang Naya pengen buntil!" jawabnya.
__ADS_1
"Nih, neng Nay! Oseng kangkung cuma pake saos tiram biar ngga terlalu bau bawang putih!" Bibi menaruh sepiring oseng kangkung di meja bagian Naya, hanya sedikit memakai bawang putih dan saos tiram.
Naya sempat menutup hidungnya mencium aroma itu tapi tak sampai muntah disana.
Puk-puk!
Andro menepuk-nepuk pucuk kepala Naya lalu menyentik pipinya membuat Naya mendesis, "mas ih, sakit! Tangan mas bekas udang!"
"Engga, masih bersih..." Andro menunjukan tangannya yang bersih.
"Kamu tuh kayanya kekurangan yodium sama zat besi. Habisnya kemaren muntah seharian, kan?"
Naya menoleh, begitupun Shania, "detail banget. Kenapa tau?"
"Itu hawanya mau garem sama sayuran hijau. Makan yang banyak, jangan sampai telat makan, anak mas jangan sampe kekurangan gizi." Ucap Andro santai, sementara Shania dan Naya sendiri sudah diam mematung mendengar kata anak.
"Anak, apa?" tanya Shania. Naya membeliak menjernihkan pendengaran, lalu kemudian ia beranjak menuju kamar, Naya sampai lupa dengan tespeknya.
"Naya hamil?!" tanya Shania diangguki Andro.
"Mas, Sha mau punya cucu lagi!" serunya pada Arka. Pagi-pagi Arka mendapatkan kabar jika ia akan bertambah cucu, "alhamdulillah, makin rame."
"Cucu Sha makin banyak, mas! Muka Sha tua banget ya mas?" tanyanya.
Naya melihat semua alat tes kehamilan yang sudah dibuang airnya, mungkin Andro yang membuangnya.
Tangannya cukup bergetar memegang itu, ada rasa haru, senang dan takut, takut salah tingkah, takut tidak bisa menjaga, takut....melahirkan.
"Nay! Nasi kamu keburu dingin!" teriak Andro.
"Ya mas!" Naya menepuk jidatnya, lupa dengan sarapan miliknya.
"Pulang ngampus langsung pulang. Ngga usah ikut-ikutan kegiatan yang ngga berfaedah," ucap Andro mengenakan kembali jas miliknya, hari ini ia ada meeting bersama para karyawan Route 78.
"Iya." Naya mengaduk susu bumil yang dibelinya dan Andro selepas periksa ke dokter kandungan. Kini rak dapur bagian atas penuh dengan stok susu bumil milik Naya. Ia tak mau sampai Naya kekurangan gizi menyebabkannya menginginkan sesuatu yang macam-macam.
Naya mencangklok tas ranselnya lalu pamit pada momy Sha yang juga sepertinya akan pergi.
"Mau ke kantor, Mi?" tanya Naya diangguki Shania, "iya. Abis itu ke rumah Nom-nom, mau selametan bayi..nanti kamu sama Andro datang,"
"Iya. Sama ayah?" tunjuk Naya begitu melihat Arka ikut keluar dan sudah siap.
"Iya."
"Kalo gitu Naya berangkat dulu ya, Mi. Yah...assalamu'alaikum."
"Hah... Sebentar lagi kita yang selametan mas," ujarnya menggandeng Arka, masih seperti dulu ia begitu terbiasa melingkarkan tangannya di lengan Arka dan menatapnya penuh cinta, "mas emang ngga punya anak banyak, tapi cucu mas udah mau membentuk tim futsal! Mahesa FC!" tawanya di senyumi Arka.
__ADS_1
///
"Mas, Naya kuliah dulu."
Andro bukanlah lelaki yang lebay, yang mesti nganter sampe depan pintu kelas.
"Iya, mau mas pesankan driver ojol apa kamu pesan sendiri? Pak Samsul harus anter bi Yani ke supermarket..."
"Naya pesen sendiri aja." Jawabnya mengulurkan tangan meminta punggung tangan Andro untuk salim.
Sapuan angin yang mulai menghangat menyentuh pipinya, Naya menge mut permen demi menetralisir rasa mual, meski dokter telah memberinya obat mual tetap saja ia terkadang merasakan morning sick, mungkin memang sudah sewajarnya saja hamil muda itu merasakan nikmatnya morning sick.
Seseorang menyamakan langkahnya dengan Naya, "Nay, anak-anak mau keluar nongkrong-nongkrong pulang ngampus, ikut yuk! Sambil mengakrabkan diri!" alisnya naik turun.
Naya melirik Geby, "nongkrong sambil ngopi ya?" ia mengusap dan membawa rambutnya ke belakang telinga.
"Kenapa, sibuk ya?" tanya Geby, "bentar aja Nay, sambil mengakrabkan diri sama anak-anak lain..."
Naya berpikir, mungkin sebentar saja tak apa...Andro pun tak akan tau. Lagipula ia belum cukup mengenal teman sekelasnya.
"Oke deh." angguk Naya.
.
.
.
Naya memaklumi dan mengerti diantara teman sekelasnya hanya beberapa saja teman perempuan, termasuk dirinya dan Geby.
"Ini mau pada makan siang dimana?" tanya Geby.
"Di Cafe langganan aja lah!"
"Tapi Naya ngga bawa motor euy," nyengirnya.
"Ngga apa-apa lah Nay, nebeng aja di gue!" ujar Zidan.
"Bener? Oke lah."
Naya naik ke atas motor matic di belakang Zidan, lantas mereka berkendara bersama, mungkin beberapanya ditinggal untuk menyusul.
Hingga motor mereka sampai di salah satu cafe ternama, "kok ngga aneh ya?" gumam Naya, ia melirik nama cafe sebelum masuk, padahal yang lain sudah masuk karena perasaannya mendadak tak enak.
Route '78
"Waduhh!"
.
.
.
.
.
__ADS_1