Jelajah Cinta To Andromeda

Jelajah Cinta To Andromeda
JCTA # 72. FITNAH LEBIH KEJAM DARI PEMBUNUHAN


__ADS_3

Kanaya dengan wajah sekeruh air cub lux keluar dari dalam mobil.


Andro menahan badan istrinya itu sebelum benar-benar berjalan menuju rumah, "udah lah ngga usah di denger, yang penting mas tau."


Naya menatap Andro dalam nan lama, "teh Desi yang hamil duluan kenapa Naya ikut kena imbasnya mas?! Demi apapun Naya ngga pernah ngelakuin hal terlarang itu sama siapapun. Mau Naya ngga denger tapi tetep aja ngga enak didengernya,"


"Kalo dibales, kapan selesainya? Cape-cape ngikutin emosi cuma dapet puas?" tanya Andro melepas kedua bahu Naya lembut.


"Hufftt----" Naya menghembuskan nafas meski bukan nafas terakhirnya.


"Yang lain udah duluan," Andro menggandeng Naya menuju rumah. Sepanjang jalan yang dilewati, beberapa warga menyapa teh Marni dan ibu, juga memandang Naya terutama ke area perutnya, bikin risih! Mereka cukup segan saat kini menjumpai seorang gadis berbeda, Naya sekarang lebih terlihat modis dan glamour meskipun tetap sederhana.


"Nay, baru kesini lagi?" tanya beberapanya, Naya mengangguk, "iya bu."


Kasus teh Marni menyita perhatian warga termasuk pihak desa, kelurahan dan kota, terlebih kasus ini sampai di pihak kepolisian.


Kedatangan Marni rupanya disambut oleh pihak kelurahan setempat, disana pula ada pak lurah, bu lurah, dan Salman yang kebetulan bekerja di kelurahan di dekat rumah serta beberapa pekerja kelurahan termasuk bu Kholil sebagai staf administrasi yang juga tinggal di sini. Bukan hanya Marni yang menjadi sorotan saat ini, namun Naya pun sama. Setelah desas desus di desa menyangkut pautkan Naya dengan moment Desi yang hamil kecepetan.


Tatapan Naya jatuh pada Salman yang juga menatapnya dengan pakaian safari, lelaki yang menjadi biang kerok namanya ikut terseret atas masalahnya.


Cih! Bahkan Naya tak ingin melihatnya.


"Alhamdulillah, sudah sampai kembali di Giri Mekar. Gimana kabarnya Marni?" sapa pak lurah ramah.


Wanita satu anak ini tersenyum, "baik alhamdulillah, terimakasih pak." Jawab teh Marni yang dituntun ibu dan Upa.


"Kami warga Giri Mekar mendukung dan akan mengawal kasus Marni sampai tuntas," ucap pak camat. Andro menatap Salman dengan tatapan datarnya, tangan Andro merangkul bahu kecil Naya dengan satu tangan masuk ke dalam saku celana, namun kemudian ia kembali menyimak obrolan pak lurah, pak camat bersama bapak dan teh Marni.


"Hey ceu! Suth! Calon madu!" bisik Wati dari belakang, membuat Andro dan Naya menoleh cukup terkejut.


"Saravv!" sembur Naya. Wati cengengesan mencolek Naya, "marah-marah terus nih madu, jangan-jangan bener hamil lagi?!" ia tertawa puas.


Andro hanya menyunggingkan senyumnya tipis.


"Kalaupun hamil, sudah pasti anak saya, Wati. Naya 100 persen segel waktu saya coba!" ujar Andro.


Wati terkekeh, "pasti atuh kang! Temen saya mah ngga mungkin bekasan orang, kalo bekas mah mungkin di jidatnya udah ketulis jangan diterima kalo segel rusak!"


Naya menyemburkan tawanya bersama Wati membuat mereka yang ada disana mendadak diam. Bu Lurah menatap Naya dengan sorot mata tak suka, entah iri atau apa Naya tak mengerti, udah dasarnya ngga suka mah ngga suka aja!


"Maaf, sok atuh diteruskan saja pak!" Ucap Naya seraya menepuk lengan Wati yang mancing-mancing. Pak Lurah digiring bapak untuk masuk ke dalam rumah bersama pak camat, teh Marni dan ibu.

__ADS_1


"Ceu!" bapak kembali.


"Ini gimana ya? Ngga ada kue buat sambut pak camat?" tanya bapak.


"Biar Andro saja yang beli pak, Rif! Anter mas sebentar ke depan kampung," panggil Andromeda.


"Hayuk mas! Pake mobil ya mas?!" pinta Arif.


"Kemon lah!" angguk Andro.


"Upa ikut Upa ikut!" serunya.


"Mas ke depan kampung dulu sebentar, cantik!" kedip Andro berbisik membuat Naya mengu lum bibirnya.


"Ekhem, keselek golok Wati ih!" sindirnya.


Dan moment itu tak luput dari sorot mata Salman, Naya terlihat lebih cantik dan spesial dari sebelumnya, persis-persis martabak lah!


Kembali tatapan mereka bertemu saat Andro sudah berlalu, "masuk Wat," ajak Naya ke arah rumahnya.


Naya menatap sekilas saat Salman berada tepat di dekat gawang pintu rumah bagian depan, karena Naya mengambil jalan samping bersama Wati ke arah dapur, seperti kebiasaan mereka dulu. Bagi Naya dan Wati pintu rumah bapak ya di belakang, yang di depan tuh buat yang tua-tua.


"Nay apa kabar," sapa Salman tersenyum. Naya melihat sekilas dengan senyum tipis, "baik."


"Semoga Naya bahagia," imbuhnya lagi.


"Makasih, aamiin! InsyaAllah mas Andro selalu bahagiain Naya lebih dari siapapun, men-spesialkan Naya lebih dari siapapun."


"Nay, ngga usah dengerin gosip yang beredar sekarang. Itu mah cuma gosip yang disebar orang sirik," ucap Salman memberikan saran seolah orang paling bijak, padahal gosip ini ada karena ialah penyebabnya.


"Naya udah biasa dihina orang tanpa ada yang nolongin, a. Jadi aa pasti tau kalo Naya mah ngga peduli sama gosip murahan, tapi makasih sudah peduli, sekarang mah ada suami Naya, jadi aa ngga perlu khawatir, sebelum aa bertindak pun, suami Nay udah gerak duluan! Cuma Naya mah ngga habis pikir, aa sama teh Desi yang bermasalah, kenapa Naya jadi ikut dituduh?!" jawabnya seketika diam.


Awalnya Wati mendelik sinis tapi kemudian senyuman devilnya tersungging.


"Hay a Salman, baru ketemu sekarang! Beda lah udah jadi calon bapak mah! Keliatan tua! A Salman sama kang Andro tuaan siapa ceu umurnya?" tanyanya tanpa menyaring ucapan.


"Mas Andro 29," jawab Naya.


"Ohhh, berarti tuaan kang Andro ya?! Tapi mukanya mah asa tuaan a Salman! Emang kalo istri hamil bikin stress ya, a?!" tembaknya lagi membuat Salman tertawa sumbang, "ah Wati ada-ada aja!"


"Eh bener kan? Wati denger aa udah gelar acara 4 bulanan si tetehnya ya?! Ih jahat ngga kabar-kabar, waktu nikahnya aja ngga ngundang, padahal bulan kemaren kan Wati lagi free! Bisa cuti! Ya ceu ya?! Padahal mah tadinya Wati teh udah mau beli kado di Singapura, mumpung udah gajihan terus lagi pengen healing ke negri singa! Ya ceu ya?!" colek Wati membuat Naya membeo. Suaranya itu loh! Mirip announcement di masjid kalo ada yang meninggal.

__ADS_1


"Ah, nikahnya biasa aja ngga rame-rame," jawab Salman meringis.


"Ah masa atuh anak pejabat ngga rame?! Suka merendah aa mah! Kata Naya nanggap reog ponorogo, debus, marawisan, wayang 7 hari 7 malem, singa depok, pongdut, kecapi suling?!"


Naya melipat bibirnya, singa depok? Reog? Dikata khitanan!


"Siapa yang bilang, ah fitnah! Fitnah lebih kejam dari pembunuhan Wati! Jangan bikin gosip ngga bener! Tau ngga kalo gosip tuh dibuat oleh orang iri, disebarkan oleh orang bo do, dan diterima baik oleh orang gelo!" jawab Naya berapi-api membuat Wati tertawa renyah, "berarti Wati gelo atuh, karena percaya gosip?!" Naya menggidikan bahunya.


"Kalo lebih kejam mah penjara penuh atuh sama warga Giri Mekar?!" tanya Wati to the point.


Naya menyunggingkan senyumnya miring.


"Kenapa?"


"Ya itu, pembunuh aja masuk bui, lah ini fitnah lebih kejam dari pembunuhan, kamu abis di fitnah ngga perawan sama a Salman malah nikah sama kang Andro ngga niat laporin ke polisi?!" tanya Wati.


Naya menggeleng, "astagfirullahaladzim, ngga apa-apa lah, biar nanti dibales sama Allah aja tinggal itung-itung aja berapa banyak dosa gosip yang dibuat selama di dunia berat ke kiri engga? Jangan sampe oleng ke kawah neraka. Dunia emang udah mau kiamat!" jawab Naya berlalu sambil menggelengkan kepalanya berdecak.


Bu Kholil berdehem tak nyaman, ucapan bocah-bocah itu membuatnya keringat dingin, jadi ia lebih memilih kembali memperhatikan obrolan Marni, suara obrolan Wati dan Naya tentu saja terdengar mengingat dinding rumah terbuat dari bilik, belum lagi suara Wati yang menggelegar bak petir.


"Duluan, a!" Wati membungkuk sopan lalu menyusul Naya dengan gaya sengaknya, "ceu! Nanti mah tah di aci atuh nih tanah merah teh, high heels Wati jeblok kotor kalo lewat sini teh, nancep ke tanah! Kalo bisa mah pake kayu parkit atau marmer gituh!" teriaknya menggegerkan seantero rumah hingga radar 5 km rumah Naya.



Naya dan Wati tertawa renyah saat berada di halaman belakang, "aduhhh, kamu teh masih melihara ayam gini ceu?! Ampun! Bau atuh, buang hajat dimana-mana ceu ah jorok!"



Naya terkekeh melihat kegelian Wati lalu membuka pintu dapur agar keduanya bisa masuk.



"Kamu ngga pengen bales gitu ceu, kelakuan mereka?"



Naya mengurai senyuman, "ngga usah lah, ngapain! Masih banyak kegiatan berfaedah buat Naya urus, Wat. Ketimbang ngurusin hal ngga penting gini, terserah mereka lah mau ngomong apa!" ia bergidik acuh tak acuh.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2