Jelajah Cinta To Andromeda

Jelajah Cinta To Andromeda
JCTA # 42. PERMINTAAN ANDRO


__ADS_3

Kanaya langsung turun ketika anak-anak mendadak diam melihat aksi bandit Agus. Naomi dan istri Revan (menantu Guntur) langsung membawa anak-anak ke belakang badan mereka, begitupun orang yang awalnya berada di dalam rumah langsung ambyar membudal keluar. Padahal para Kurawa sudah bersiap beradu otot dan hukum bilamana Agus mengganggu acara dan keluarga mereka, tapi nyatanya Kanaya saja sudah cukup rasanya.


Seolah tak melihat situasi dan tak tau malu Agus masih dengan sompralnya menyatakan perasaan cintanya untuk Kanaya, badan yang sempoyongan dipengaruhi minuman beralkohol.


"Aduhh, itu mah lagi mabok om Den !" tunjuk Niken, Andro tak kalah ingin menghampiri Kanaya.


"Ndroo, itu bahaya Ndro, lagi mabuk ah!" tepuk Gale berucap seraya mendekati anak-anak.


"Siapa itu pak?" tanya Arka memperhatikan drama preman yang tengah patah hati di depannya.


"Agus, dia preman kampung disini, pak. Biasalah, mungkin suka sama Kanaya..." pak Akbar dan pak Acep ikut menghampiri.


"Kamu teh jangan bikin ribut disini, ngga liat ini banyak tamu?!" Kanaya sewot seraya melotot dan mengacung-acungkan sapu lidi yang siap menusuk.


"Neng...aa teh harus apa biar neng Naya batalin terima orang kota ini atuh neng! Masa aa harus gugulitikan di sawah kaya ke bo?! Biar neng Naya kasian?!"


Kanaya bukannya respect ia malah mengayunkan sapu lidi ke arah Agus, "sadar kamu teh! Nyebur sana ke galengan sawah! Biar mata kamu kebuka selebar dunia!" Kanaya melayangkan sapu lidi tepat ke arah Agus.


"Neng! Sakit atuh neng,"


"Da kamu mah banyak se tannya, makanya harus diusir pake lidi!" bentak Kanaya.


Ari tertawa kecil, begitupun Kurawa dan Pandawa lainnya, bahkan anak-anak ikut terkikik melihat Agus di sabet pake sapu lidi oleh Naya.


"Badasss, camer sama camen udah kaya sodaraan!" tawa Deni menoleh pada Shania yang juga menjadi sorotan kaum Kurawa dan Arka.


"Kenapa jadi liat gue semuanya?" tanya Shania menggidikan bahunya tak merasa se bar-bar Kanaya.


"Hajar terus Nay!" tawa Faisal bergumam.


"Aa ngga rela neng, aa mah nunggu neng Naya lama sampe ubanan sampe jamuran dari jaman neng Naya orok, masa atuh dia yang baru datang langsung bisa bawa neng Naya ke pelaminan?!!" Agus benar-benar frustasi dibuatnya.


"Kurang apa atuh aa teh neng, pak?!!" pintanya pada pak Acep.


"Banyak! Kamu teh kurangnya... kurang waras, balik!" jawab bapak Naya.


"Gus balik Gus, jangan malu-maluin di acara orang..." salah satu tetangga sekaligus teman Naya juga Agus kini meraih Agus, kejadian ini sontak saja memancing para tetangga keluar untuk melihat.


Agus menepis siapapun yang mencoba membawanya pulang.


"Gus balik, Kanaya teh sudah ada yang khitbah...gadis disini masih banyak bukan cuma Naya," rayu pak Akbar.


"Balik engga?!" pelotot Kanaya galak. Agus tetap menggeleng, ia malah duduk di jalanan tanah dengan niat demo, memboikot jalan, "kamu liat neng! Aa bakalan panggil cs-cs aa buat boikot jalan disini!"


Agus menelfon teman-temannya, berusaha mendapatkan bantuan. Ia akan memperjuangkan Kanaya hingga titik dar rah penghabisan.


"Kamu mah kayanya kesirep sama ganteng dan hartanya dia, neng. Padahal nanti ujung-ujungnya kamu teh bakalan sakit hati lagi sama yang modelan ganteng gini mah!" salak Agus mengomel sambil menunjuk Andro, Andro yang sejak tadi ditunjuk-tunjuk kaya barang display hanya bisa melapangkan hati seluas samudra, kalau bukan di kampung orang dan di depan banyak orang mungkin ia sudah mematahkan telunjuk kotor Agus.


"Allahuuu bener-bener!" Naya mengomel.

__ADS_1


"Nay, udah biarin aja...selama ngga ganggu, toh acara lamaran sudah selesai, nanti malah jadi masalah." Ujar Andro menarik Kanaya ke belakang badan tegapnya yang masih belum puas dan mengacungkan sapu lidi.


"Pak, bisa panggilkan saja hansip?" tanya Andro pada bapak dan pak Akbar.


Pak Akbar mengangguk namun Kanaya menggeleng, dia yang paling tau Agus....lelaki tengil ini adalah warga paling bandel seantero Giri Mekar dan hanya beberapa orang saja yang ia takuti di desa termasuk, Kanaya, Salman, pak Lurah dan ibunya.


Gadis itu lantas berlari ke rumah dengan hentakan kaki, bukan ke arah pintu namun ke halaman samping menuju belakang rumah, Andro sempat bertaut kebingungan apa yang akan Naya lakukan sekarang, begitu juga yang lain.


Agus melemparkan tatapan penuh kebencian pada Andro, ia sampai ingin meraih Andro dan mengajaknya duel, namun sedetik kemudian ia ingat kejadian malam itu, saat Andro sendirian namun ia mampu membuat Agus cs tepar.


Andro menyeringai tengil menatap Agus, seolah mencibirnya, masih belum kapok?


Beberapa saat kemudian Otoy, Ujang, Atep datang demi sebuah solidaritas pada Agus.


Namun melihat banyaknya manusia di sekitaran rumah Kanaya bersama para tetangga yang membujuk Agus untuk pulang membuat ketiganya malah berbalik mengajak Agus untuk menghentikan aksi demonya.


"Gus, ngges ngerakeun!" bisik Otoy. Andro hanya melihat dan menonton tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya untuk mengusir mereka, ia hanya memasukan kedua tangan ke dalam saku celana, dan malah berbisik pada pak Akbar menanyakan kesediaan juragan Wahid untuk bertemu, "pak Akbar, kapan pak Wahid mau ketemu?"


"Saya belum kasih jam nya mas, soalnya nunggu kepastian dari mas Andro." Jawab pak Akbar.


Andro lantas melirik arlojinya, "kalo sejam dari sekarang bisa, pak? Biar semua urusan beres hari ini...saya ngga mau nunda-nunda waktu sama kerjaan," balasnya. Pak Akbar mengangguk paham, ia pun lebih memilih sedikit menjauh dan menghubungi juragan Wahid, kembali perhatian Andro melihat pemuda kampung ini sedang melayangkan protesnya dengan cara kuno.


"Gus udah lah, balik aja ke rumah! Mungkin Kanaya bukan jodoh kamu," imbuh Atep menarik-narik Agus.


Kanaya datang bersama seember hitam air dan gayung dari halaman samping, sambil misuh-misuh dan mengangkat samping, Kanaya bak samson betawi yang siap lawan Londo.


"Astagfirullah!" Gale sampai menutup mulutnya kemudian tertawa.


"Pergi, syuhhhhh!" Kanaya menyiramkan segayung air ke arah Agus, sontak Andro, pak Acep, dan pak Akbar ikut menghindar takut ikut tersiram.


Byurrrr! !


"Njirrr, hahaha!" Lila menutup mulutnya, "si bontot lele kw inih!"


"Pergi! Kalo ngga bisa dibaikin pake omongan biar air yang bakalan bawa kamu hanyut ke hati yang lain!" ucap Naya, membuat Agus bersama teman-temannya beranjak basah kuyup.


"Nay, elahhh! Masa a Otoy ikut disiram?! Mau apel ini teh! Ahh!" keluhnya mengomel.


"A Otoy juga ngigo makanya ikut kesiram, apel apa yang tengah hari bolong gini?! Ngapelin orang-orangan sawah?!" timpal Kanaya sewot.


"Hadeuhhh," pak Akbar tertawa, seperti ini adalah hal yang biasa terjadi. Karena memang begitu adanya, Kanaya adalah pawang pemuda-pemudi yang cukup bandel di Giri Mekar.


"Suka buat onar?" tanya Shania pada ibu Kanaya.


Ia mengangguk, "lumayan bu. Agus mah sudah biasa. Kanaya juga udah biasa ngadepin Agus cs mah," ibu melemparkan senyuman tenang seolah berkata, ibu Shania tidak usah khawatir.


"Ceu, udah ceu....." Ibu ikut bersuara dan menghampiri.


"Agus, Naya teh mungkin bukan jodoh kamu. Kamu harus terima, kalau kamu memang sayang sama Kanaya...do'ain Naya, semoga Kanaya sama Andro bisa jadi keluarga samawah nantinya, dilancarkan segala urusan sampai hari H. Kanaya sama ibu juga bakal do'ain kamu biar disegerakan dapat jodoh yang baik, yang bisa ngajak kamu ke kebaikan, ya."

__ADS_1


Agus lesu tak bertenaga, kini cintanya yang kandas.


"A Agus, percaya deh! Naya juga pernah sakit, tapi sakit itu yang mengajarkan biar kita lebih setrong menjalani hidup...." imbuh Naya meloloskan nafas berat dan menurunkan emosinya, ia menjatuhkan gayung ke dalam ember yang masih terisi air setengah kosong.


Andro melihat seorang gadis yang berbeda saat ini, gadis yang sama yang dulu pernah terjatuh dan dihina, tak ada yang menolong dan tak ada yang mau melihat kesakitannya, gadis yang meminta pertolongan Andro dimana itu menjadi titik awal perkenalan Andromeda dengan Kanaya.



Acara lamaran sebenarnya sudah selesai. Namun keluarga Shania--Arka masih enggan untuk pulang, seraya menunggu Andro menyelesaikan urusannya, mereka memutuskan untuk bersenda gurau saja sambil cemal-cemil dan menikmati suasana kampung.



Andro mendekati Naya yang sedang duduk mengobrol bersama para onty, "bisa ikut sebentar..." pintanya.



"Kemana pak?" tanya Kanaya, Andro berdecak menyentil mulut Kanaya pelan, "bapak---bapak---MAS ! Panggil saya, mas..."



Kanaya mengerjap mendengar permintaan Andro lalu terkikik geli, "geli ih!" ujarnya tertawa menggidikan bahunya, sontak saja mereka yang mendengar ucapan Kanaya langsung menoleh horor, gagal fokus.



"Eh, ngapain itu geli-gelian gitu?!"



"Andro kebelet kawin kayanya!" tawa Roy.


.


.


.


.



Noted :


\* gugulitikan : guling-guling.


\* galengan sawah : pematang sawah.


\*balik : pulang.


\*ngges : sudah

__ADS_1


\* ngerakeun : malu-maluin.


__ADS_2