
Baru seperempat jalan Andro mendadak menghentikan motornya, rupanya sejak mengantarkan Naya ia dibuntuti oleh Agus bersama 2 kawannya, lalu kini mereka mencegat Andro kaya poling (pocong keliling) di jalanan kampung. Padahal Andro pikir jika di kampung begini, yang masih banyak rumpun bambunya. Maka yang akan mencegatnya adalah pocong, kuntilanak atau sejenis dedemit lainnya tapi rupanya posisi mereka sebagai begal mental tergeser oleh para berandal kampung yang meresahkan macam Agus.
Agus melemparkan puntung rokok tanpa menggerusnya sama sekali di jalanan setelah mengepulkan asap putih di udara, baju kaos kemeja seragam rapi melekat di badannya, sepertinya ia akan berangkat bekerja tapi Andro tau Agus bukan hanya sekedar ingin menyapanya apalagi mengucapkan hati-hati di jalan malam ini, itu terlihat dari raut wajah keruh bak air tumpahan banjir bandang dan gaya tengil yang siap menghajar siapapun orang di depannya.
"Bisa ke pinggir? Saya mau lewat?" tanya Andro baik-baik, meskipun versi baiknya Andro tuh ya sedatar penggaris anak SD, bikin lawan ngomong auto pengen bengkokin lehernya.
"Weheyyy, mau lewat cenah brother! Abis ngajak Kanaya jalan, masih bisa anteng...Gus, sikat wae lah bro!" seru Atep yang masih duduk di atas motor, sementara Otoy sudah turun dari boncengan bersama Agus.
Wajah Agus sekeruh air selo kan menatap Andro, udah kotor bau pula. Fix, pria kota ini adalah ancaman terbesarnya setelah Salman. Padahal Agus tak tau saja, di belakang sana pak duda si kepala bagian pabrik justru sudah mencuri garis start dengan curang lewat bapak Naya.
"Kamu cuma orang baru dan numpang tidur di rumah pak Akbar. Jangan macem-macem disini! Kamu ngga tau siapa saya? Yeuh, kenalin! Agus bentar---siapa yang ngga tau saya? Macem-macem, tinggal nama!" ia menepuk-nepuk dadha tripleknya yang nampak rawan longsor, mungkin kena hantam dengan skill bela diri Andro saja dadha Agus langsung amblas bersama dengan jantung dan isiannya yang penuh dengan hati dengki.
"Jauhi neng Kanaya, kamu teh jangan berani-berani deketin Naya, neng Naya punya saya!" ancamnya pada Andro dengan menguarkan aroma sohib daj jal dari mulutnya, jemari tangan yang kukunya menguning karena nikotin itu menunjuk-nunjuk wajah Andro, namun tak membuat putra dari Arkala Mahesa itu gentar apalagi sampai pi pis di celana.
"Saya kira Kanaya belum menikah. Toh di jidatnya pun tak ada bacaan kepunyaan Agus, benar?" tanya Andro menyeringai tengil, rupanya gen tengil Shania cukup netes dikit-dikit di aliran da rah Andro dan semakin membuat Agus geram. Bukan Andro yang memulai, tapi Agus sudah mengganggunya.
"Eh, dikasih tau malah nantangin!"
"Gus! Udahlah sikat aja lah!" ucap Otoy mengompori, ia bahkan sudah bersiap-siap dengan kepalan tangannya. Agus mendengkus sebal, lantas ia melayangkan bogeman ke arah wajah Andro namun refleks Andro untuk menghindar begitu baik, ia justru balik mendorong pemuda itu ke arah samping hingga hampir tersungkur, Andro sudah dapat menebak jika pemuda itu tengah dipengaruhi oleh alkohol.
"Anjirrr!" Otoy ikut andil menyerang Andro, tapi sepertinya Andro tak perlu mengeluarkan tenaga yang cukup besar melawan orang mabuk, hanya perlu menghindar dan mendorongnya saja, toh mereka sudah kepayahan dengan aksi dan kondisi mereka sendiri yang hampir sempoyongan.
"Bang sadhh!" Atep ikut membantu. Tak berapa lama, beberapa bapak-bapak melintas, mungkin baru saja menunaikan salat isya berjamaah.
"Astagfirullah!"
"Hey! Hey!"
mereka membantu Andro yang tengah dikeroyok 3 pemuda kampung itu. Meskipun terlihatnya mereka nampak seimbang.
"Angger si Agus mah!" omel salah satu bapak melerai dan menjadi penengah seraya mengangkat sebagian ujung sarungnya biar ngga bikin ribet, "loh, ini bukannya saudara pak Akbar?" tanya nya mengernyit melihat Andro sambil menunjuknya.
"Iya pak." Andro mengangguk.
"Ehhhh--- si Agus mah kumaha?! Jangan atuh, ini teh tamu di Giri Mekar, mau bangun cafe, malah kamu cegat! Dasar borokokok!" omelnya lagi.
"Ada masalah apa emangnya ini teh?"
"Ngga ada apa-apa!" Agus segera bangkit menuju motornya, "cuma mau bilang salam kenal aja, mang!" ia menatap Andro dengan sengit lalu pergi bersama kedua temannya dengan motor berisik dan asap knalpot pekat.
"Cabut, cabut ah!" ucapnya. Asap knalpot putih persis lagi foging mengepul memenuhi area itu.
"Dasar si borokokok! Loak motor teh!" omel si bapak sambil terbatuk-batuk.
"Maaf, akang ngga apa-apa kan? Ngga ada yang luka?" tanya si bapak. Andro menggeleng, "engga pak. Makasih,"
"Sami-sami. Maaf ya kang, atas kelakuan si Agus...sebenernya disini mah aman-aman aja, cuma si Agus cs aja yang agak gelo mah. Jadi mendingan jangan dilayanin lah," ia menepuk pundak Andro.
Andro hanya mengangguk saja, lagipula siapa juga yang mau nyari masalah di kampung orang, "kalo gitu saya permisi dulu, bapak-bapak. Assalamu'alaikum," Andro menyalakan kembali mesin motor dan pergi dari sana.
"Wa'alaikumsalam."
Lelaki itu menatap langit-langit kamar Rezki, putra pak Akbar, lalu bangkit dan meraih paper bag kecil berisi ponsel masih tersegel, ia menatapnya nyalang.
Ponsel keluaran terbaru, meskipun bukan yang tercanggih, termahal dan terbaik namun cukup bagus juga bukan barang second baru saja ia beli tadi di mall.
Andro memasang sebuah kartu provider ke dalamnya seraya menyambungkan pengisi daya baterai.
Ia terlebih dahulu menyimpan nomor kartu itu ke dalam memory kontak ponselnya. Ia bukan tipe manusia pemaksa yang melakukan aksinya dengan terang-terangan. Dari gelagat dan sikap Naya selama di mall, ia dapat menilai jika gadis itu tak mau menerima pemberian dari sembarang orang. Maka kemungkinan besar jika Andro memberinya ponsel, sudah pasti akan ditolak mentah-mentah oleh Kanaya.
Tangannya menaruh ponsel yang masih mulus itu di nakas kecil samping ranjang, besok saja sebelum pulang ia akan menitipkan ponsel itu lewat pak Akbar, jadi Kanaya tak mungkin menolak tepat di depannya, apalagi mengembalikannya, kalaupun memang gadis itu kekeh menolak dan mengembalikan justru bagus, maka ia akan menyusul ke Jakarta, smart!
Ting!
__ADS_1
*Andro, jangan lupa pesenan momy*!
Andro menghela nafas, momy nya itu ngingetin bawa oleh-oleh udah mirip ngingetin solat 5 waktu.
*Iya, mi*.
Andro memejamkan matanya, esok ia akan kembali ke rutinitas padatnya lagi, mengurus pekerjaan yang menggunung dan hanya berkutat dengan laptop dan per'cafean.
"Anak sama bapak, sama aja. Sesusah apa sih ngetik. Iritttt banget kalo jawab w.a!" Shania mendumel di tempatnya, membuat Arka melirik, "emang maunya kamu dibales sepanjang apa? Kalo panjang bukan balasan pesan singkat, tapi bikin surat!" balas Arka keberatan dengan dumelan istri nakalnya itu.
"Ya apa kek mas, bukan cuma iya atau engga doang. Kan kalian tuh bukan lagi ngobrol sama tembok!" omel Shania menyapukan lotion di kulitnya.
Arka menepuk-nepuk kasur di sampingnya, "udah stelan dari orok. Udah, ngga usah ngedumel terus, sini bobo---mas kelonin!"
"Ck!" Shania berdecak menaruh ponselnya namun sejurus kemudian mendekat dengan heboh, "hayuk atuh mas!" tawanya segera masuk ke dalam selimut. Arka ikut tertawa dengan kelakuan absurd istri kesayangannya.
"Mas tau ngga sekarang julukan mas apa? Bukan guru kimia turunan hades lagi," Shania menarik ujung selimut hingga menyelimuti separuh badan.
"Apa?!" tanya Arka. Turunan Hades? Arka menaikan alisnya sebelah mendengar satu fakta baru jika selama ini Shania menganggapnya seperti dewa neraka...
Arka menaikkan alisnya, "apanya yang jadi? Mas kan emang dari dulu gini, Sha?"
"Yang jadi ubannya, mas! Jadi banyak! Pake nanya, mas tuh makin *maceh* di ranjang!" sewot Shania.
"Oh, harus....biar tetep harmonis," Arka menarik selimut hingga menyelimuti keduanya.
\*\*\*\*\*\*
Kanaya sesenggukan di bibir ranjang, ia bahkan sudah melempar satu stel kebaya berwarna off white pemberian pak Agung ke pojokan kamar, biar saja! Biar dibawa semut, rayap, dan hewan-hewan lainnya buat jadi sarang.
Ia kira bapak akan mengerti kalau ia sedang berusaha menjadi tulang punggung keluarga, Kanaya hanya meminta waktu *barang sebulan saja* untuk mencari pekerjaan, tapi rupanya bapak mengambil keputusan sepihak. Hingga tak terasa isakan dan tangisan itu membuatnya lelah. Saking lelahnya, ketukan Upa yang seperti bedug takbiran saja dari luar pintu kamar sampai tak terdengar, ia pun sampai tertidur di atas lantai kamar dengan pakaian yang belum diganti sejak sore kemarin.
Dirasa badannya pegal, Kanaya bergerak kecil, "eunghhh---" ia meringis dan tersadar.
Sadar akan posisinya tertidur di atas lantai kaya upik abu dan hawa dingin yang menjalari tubuh, Kanaya bangkit, "eh, pantesan sakit. Naya teh tidur di lantai," wajahnya cukup lengket bekas air mata. Kanaya mengucek matanya, tatapannya nyalang menyapu seluruh sudut kamar lalu jatuh kembali pada tumpukan kebaya. Cukup sudah! Ini hidupnya, cukup matanya kaya disengat tawon nangisin Salman kemarin, ia tak mau sampai nasibnya lebih buruk lagi dengan menikahi duda kolot!
"Pokoknya Naya ngga mau sama pak Agung!" ucapnya parau.
__ADS_1
Naya mengeluarkan kartu nama pemberian Andro.
"Shania...." gumamnya.
Kanaya juga mengeluarkan seluruh uang yang ada di dalam tas beserta uang yang tadi Andro berikan, "ongkos ke Jakarta berapa?" tanya nya bermonolog, lalu meraih tas dan membuka laci meja untuk mencari beberapa file penting untuk melamar pekerjaan.
Kanaya baru tersadar dengan waktu, "jam berapa ini?! Pak Andro!!!"
*Tok-tok-tok*!
"Ceu!" suara bapak memanggil seraya mengetuk-ngetuk pintu.
"Cepet mandi, ada orang salon mau dateng buat make up'in kamu, pak Agung mempercepat lamaran..." teriak bapak.
Kanaya tersentak kaget, ia sampai menganga, "cilaka!"
"Ceu! Jangan coba macem-macem kamu, jangan bikin bapak malu! Sekali aja, kali ini kamu bisa bikin bapak bangga, teteh kamu cuma bisa bikin malu, bawa aib! Kamu mah jangan atuh ceu, kamu mau berbakti kan sama bapak, sok buka pintunya. Nikah sama pak Agung!"
Kanaya mencebik kesal, ia juga menghentak kakinya, kenapa juga ia harus tak enak dengan bapak. Kenapa ia tak bisa jadi anak durhaka sekali ini saja!
Dengan ragu, Kanaya membuka pintu kamarnya, pemandangan pertama yang ia dapati adalah bapak bersama dengan seorang perempuan yang membawa kotak make upnya di belakang bapak.
"Ibu mana?" tanya Naya.
"Ibu kamu lagi siapin makanan."
"Sok atuh nyi...di make up'in sampe *manglingin*, anak saya Kanaya mah da udah dasarnya cantik, jadi kalo di make up pasti lebih cantik lagi!" ucap bapak jumawa memuji Naya, tapi justru hal itu membuat Kanaya menatapnya getir. Sementara Teh Yani mengangguk setuju, "iya, Kanaya mah emang cantik! Kembang desanya Giri Mekar. Sok atuh neng, udah mandi belum?"
.
.
.
.
.
Noted:
\*Cenah : katanya.
\* Yeuh : nih!
\* Loak : rongsok.
\* maceh : super aktif.
\* manglingin : bikin pangling.
__ADS_1