
Sudah jatuh tertimpa motor pula, begitulah ungkapan yang pas untuk Naya sekarang, tapi bukannya menangis ia malah tergelak puas di bahu jalan dengan badan yang tertin dih motor.
Yang niat balas dendam pun bukannya tersenyum puas, mereka malah nyengir meringis, entah mimpi apa mereka semalam bertemu dengan wanita ini untuk pertama kalinya sudah diamuk kuda besi hampir tertabrak pula.
Ada yang lompat tinggi sekaligus kaya lagi tradisi lompat batu dari Nias, ada pula yang lari kencang bak lagi marathon sea games.
Si empunya rencana jahat bahkan secara tak sengaja melangkahkan kakinya ke selo kan depan rumah penghuni kompleks yang cukup hitam pekat.
Mereka akan mencatat dan menandai wajah Naya, agar jangan sekali-kali lagi bertemu dengannya.
"Arghhh, anjimmm!" pekik Elyas melihat tubuhnya yang sudah seperti men in black dalam baluran lumpur selo kan hitam.
Naya bangkit sendiri, meski meringis ia segera bangun dan kembali naik ke atas jok, lutut dan kaki yang sudah banyak luka jadi penanda jika wanita ini memanglah tangguh, tak pantang menyerah apalagi sama terong-terongan.
"Dibilangin awas juga! Ngga denger sih! Jadinya kan Naya susah ngendaliinnya, tau ngga kalo Naya baru belajar?!" ucapnya, Naya menyalakan kembali mesin motor Andro, tampilan motor kini dihiasi goresan-goresan bekas terjatuh.
"Waduh! Mas Andro minta ganti ngga ya?! Motornya baret-baret gini?!"
"Woyy! Cewek! Awas lo ya!" seru Elyas, Naya memeletkan lidahnya dengan kedua bola mata ia julingkan lalu pergi dari sana meninggalkan Elyas dan kawan-kawannya yang masih mengontrol suasana hati sehabis kejadian lolos dari maut barusan.
"Lama," decak Andro, Naya meringis menepuk-nepuk kakinya yang kotor.
"Kamu jatoh lagi?" tanya Andro, Naya menggeleng, namun lelakinya ini tak akan mudah dibohongi, Andro maju dan menangkup wajah istrinya, memperhatikan dengan seksama sampai wanitanya salah tingkah dan mengaku.
"Apa sih, mas ih!" bibirnya sampai mengerucut karena Andro benar-benar menangkupnya gemas.
"Iya, barusan Naya jatoh. Tapi itu gara-gara dihadang orang, mas." akuinya melihat ke bawah.
"Mas masih inget ngga, cowok yang kepergok subuh-subuh itu! Nah itu sama temen-temennya!" seru Naya, Andro melepaskan tangannya dari wajah Naya.
"Untuk besok sampai kamu bener-bener mahir dan punya SIM, biar dianter mas atau pak Samsul ke kampus," ujar Andro tanpa bantahan, "oke." Naya mengangguk pasrah, dan kemudian mundur saat Andro mengambil alih motor, lelaki dingin ini bahkan menunjukan kemahirannya berakselerasi hingga saat belokan, posisi motor sampai hampir rebahan di jalan. Naya sampai mengeratkan pegangannya di perut Andro.
Bi Yani menyerahkan kotak P3K pada Andro, Naya cukup meringis sekarang, pasalnya setelah mandi dan terkena air wudhu, luka-lukanya baru terasa perih.
"Aduh, udah atuh neng. Jangan motor trail lah! Beli aja matic, kaya momy dulu," Shania saja sampai mengernyitkan dahinya selagi Andro mengusapkan alkohol di area luka lalu obat merah dan Naya hanya bisa mencengkram kaos Andro.
Naya tak berani merengek apalagi mengeluh dan menangis, karena memang ini inginnya.
"Besok ngampus gimana?" tanya Arka.
"Dianter mas Andro, yah. Aw!" pelototnya saat Andro dengan sengaja menekan alkohol di luka Naya. Dan Andro hanya terkekeh, selagi Naya mencengkram lengannya.
Pakaian hitam putih sudah dipakainya, Naya siap pergi ke kampus hari ini. Ia mengecek jadwal kegiatan pertamanya.
"Ciee, jadi mahasiswi!" Gale yang kebetulan sedang off ada disini juga.
"Semoga bisa gaet senior ya!" tawanya setengah mencibir Andro.
"Yakin sih! Bakal jadi salah satu junior yang ditandain," tambah Fatur semakin menambah kejengahan Andro. Kakak dan kakak iparnya itu memang 11 12, sepertinya Fatur yang sehat ketularan Gale yang kurang akhlak.
"Ngga usah macem-macem, mantapkan niat buat belajar aja!" balas Andro dengan santainya seraya menyeruput kopi.
__ADS_1
Naya menarik kursinya di samping Andro, "ditandain apa teh? Emang artinya apa kalo ditandain? Bisa dapet apa?" tanya Naya membuat Fatur tergelak dengan polosnya Naya.
"Ditandain di jidat kamu, nah ini yang bibit berkualitas, yang ini bibit gagal!" jawab Shania ngasal membuat mantunya itu mengangguk-angguk.
"Mau lah ditandain, tapi jadi produk pilihan!" seru Naya mengambil nasi dan lauknya. Seketika Andro menegurnya, "kamu tuh udah nikah, ngga usah lah, tebar-tebar pesona. Belajar mah belajar aja yang bener!"
Gale kembali tertawa, "cieee om Indroooonya anak-anak cemburu istrinya jadi mahasiswi! Mantap ya om?!" goda Gale.
"Nay, sini deh aku bisikin cara buat make up korea style, biar makin yahud!" Gale malah semakin gencar membuat adiknya itu panas, seumur-umur Gale tak pernah melihat seorang Andromeda cemburu, maka kali ini Kanaya lah kelemahannya.
"Eh, ngga juga Naya udah cantik kok Le...cuma perlu poles-poles dikit lah! Ditambah sikap nyelenehnya," balas Momy 2in.
Andro berdecak, kedua perempuan kaum Mahesa ini memang kompor yang sumbunya paling panjang, paling tebel dan paling bisa menyulut api.
"Berangkat yuk! Momy sama kak Gale ngga usah kamu dengerin. Belajar yang bener, ngga usah macem-macem. Pake tuh cincin kawin, jangan dilepas!" jika umumnya wejangan pada calon mahasiswa baru itu semangat berjuang, selamat belajar dan sebagainya maka wejangan Andro lain daripada yang lain. Bapak-bapak hot satu ini sudah termakan hasutan sang kakak.
"Iya." jawab Naya melahap nasi dalam piringnya. Sebelum benar-benar pergi ia sempatkan bercengkrama dengan Arion, bahkan Naya sempat menggendong bayi itu sampai membuatnya terkikik karena wajah konyol dan tingkah konyolnya yang menggoda bayi itu di meja makan.
"Mii, ayah...Naya pergi dulu!"
"Iya."
"Udah bilang sama yang di Cianjur?" tanya Arka.
"Udah yah, semalem Naya udah bilang sama ibu sama bapak juga kalo hari ini Naya mulai ke kampus,"
"Udah dibawa semua? Tugas masa orientasi?" tanya Andro, Naya mengangguk menunjuk tasnya.
"Assalamu'alaikum..."
Ditatapnya mobil Andro yang semakin menjauh dari pandangan, Naya sejenak memandang kampus yang akan menjadi tempatnya menuntut ilmu, lalu kemudian ia mulai melangkah sesuai arahan mahasiswa senior dengan almamater kampus.
Perintilan barang khas pertanian Naya bawa, ia pun digiring diantara lapangan dengan isian manusia berstatus sama.
Diantara anak fakultasnya, jumlah mahasiswi lebih sedikit ketimbang fakultas lain, mungkin karena fakultas dan prodi yang kurang menarik bagi perempuan.
"Hay, gue Geby...." ia menaruh tas di samping kaki kanan. Cuaca yang mulai terik dilatari suara senior yang bercampur entah menginterupsi apa. Gadis berambut panjang terikat satu itu mengulurkan tangannya pada Naya, "Kanaya."
"Ambil prodi apa?"
"Agroteknologi," jawab Naya.
"Same!" senyumnya kembali fokus melihat ke depan dimana seorang rektor membuka secara resmi acara.
__ADS_1
Masa orientasi tidak se-seram yang Naya bayangkan, mungkin karena sekarang dinas pendidikan dan pemerintah melarang keras tindakan perploncoan meskipun tetap saja masa-masa begini selalu berselimut kegiatan di luar akademik agar ada sensasi menyenangkan.
Naya meneguk air setelah hampir setengah hari ia habiskan untuk acara, bersama teman barunya Geby ia duduk di dekat lapangan berpohon rindang, apakah itu kiara payung? Ataukah pohon tanjung?
"Mau ke foodcourt ngga?" tanya Geby.
"Boleh, boleh...yuk!" angguk Naya. Karena banyaknya mahasiswa baru, foodcourt cukup ramai diserbu sampai-sampai mereka harus teliti celingukan mencari tempat kosong, bahkan untuk jajan saja harus menganter, alhasil Naya dan Geby memilih membagi tugas, sementara Naya mencari tempat duduk, Geby mengantri makanan yang mereka sepakati.
Kanaya memberikan uangnya pada Geby, lalu ia mencari-cari tempat yang cukup menampung 2 orang untuknya dan Geby.
"Disitu," gumamnya diantara ramainya foodcourt, Naya menyingkirkan beberapa sampah tissue dari atas meja dan membuangnya setelah menaruh minumnya terlebih dahulu disana.
Tak sengaja ia berpapasan dengan Bela, "bu Bela?"
Bela mengerutkan alis, "aduh ini tuh...." ia mencoba mengingat-ingat nama Naya.
"Kanaya,"
"Ya! Istrinya Andromeda kan!"
Naya mengangguk.
"Gimana? First day lancar?" tanya nya.
"Alhamdulillah, sejauh ini aman dan lancar."
Bela mengangguk kembali meneliti Naya dengan seksama, "unbelievable tau ngga sih, Andromeda tau-tau nikah aja! Bela kira bakalan nikah sama Raisa, Enzy, atau Hana. Eh, tapinya sama yang muda...berapa ya umur kamu?" tanya Bela.
"19," jawab Naya mulai merasa tak nyaman dengan obrolan yang masuk ke ranah pribadi.
"Mungkin udah jodohnya." Lanjut Naya.
"Iya sii, cuma dulu temen-temen pada gadang-gadangin seorang Andromeda, yang....notabenenya apa ya," Bela seperti sedang mengagumi membayangkan Andro.
"Cowok idaman, yang susah ditaklukan gitu! Dingin-dingin perfect lah! Pinter iya, punya usaha iya, cakep apalagi, hampir mendekati idaman semua temen-temen lah! Sama cewek-cewek yang pernah jadi pacarnya."
Oke, maksudnya bu dosen apa nih? Naya mengangkat kedua alisnya.
"Ketemu dimana?"
"Di Cianjur," jawab Naya.
Bela mengangguk paham, "padahal seleranya tuh yang pinter-pinter, yang dewasa-dewasa, sepadan lah sama Andromeda yang kalem sama dewasa."
Naya memutar bola matanya dan berdecih, so tau!
Naya mulai menatap jengah, bisakah ia tendang saja wanita satu ini ke planet Merkurius?!
"Mungkin tahun ini seleranya mas Andro lagi pingin sama bocah sexy bu," jawab Naya ngasal.
"Yaa...yang manja-manja gemesin lah kalo di ranjang!" lanjutnya lagi tanpa tedeng aling-aling, "biar awet muda!" tawanya garing.
"Kalo sama-sama dewasa, nanti mas Andro awet tua lagi!" Naya kembali tertawa garing dengan ocehannya. Bisa ia cium dengan hidungnya jika wanita di depannya itu sedang meremehkannya atau mencoba membuat mentalnya jatuh, meski sebenarnya Naya cukup tersentil dan terhasut.
Bela ikut tertawa sumbang, "ya udah deh, have fun ya disini! Semangat, salam buat Andromeda! Kapan-kapan kalo reunian angkatan kita, kamu ikut!"
Kanaya tersenyum, "pasti bu! Pasti!" jawabnya.
Naya mendengkus kesal, "ck! Borokokok dasar! Apa coba maksudnya ngobrol kaya gitu sama Naya!" Naya jadi kesal sendiri.
Ucapan Bela tadi cukup mengusik hatinya, ia memang benar! Sebaik-baiknya lelaki tetap memiliki naff ssuu. Banyak juga di luar suami baik-baik tapi ujung-ujungnya udah punya istri kedua, apalagi Andromeda, masih muda, tampan, punya bisnis, pintar bergelar, sudah pasti wanita di luar sana banyak yang ngantri!
Selagi menunggu Geby, Naya lantas menyibukan diri dengan mencari artikel di mesin pencarian ponselnya. Jika mahasiswa lain akan mencari artikel kesenatan atau kegiatan ekskul yang ada disini, Kanaya justru mencari caranya mempertahankan hak milik! Kalo udah emak-emak ya beda kebutuhannya!
Alisnya mengernyit kemudian bergerak bertaut, ia menimbang-nimbang sesuatu yang terlupa, lalu tersenyum lebar, "ntar baliknya lah, coba Naya beli! Moga-moga hasilnya baik!
.
.
.
.
.
__ADS_1