Jelajah Cinta To Andromeda

Jelajah Cinta To Andromeda
JCTA # 55. BARANG HA*RAM


__ADS_3

"Hoaaa...hoeeee!"


Kanaya berjingkrak-jingkrak dan bergoyang menggoda Andro, sementara lelaki lempeng itu ya mirip gedebong pisang. Bahkan Ganis sudah menarik suaminya namun Wira 11 12 seperti Andro ia malah bergidik geli.


Karena suasana riuh, anak-anak yang awalnya tengah bermain jadi ikut-ikutan bergoyang.


Upa melihat sosok bocah lelaki yang mungkin seumuran dengannya duduk bersama bocah 2 tahun, tak ikut bergabung.


"Hay, aku Upa...kamu sodara om Andro juga?" tanya Upa mencoleknya mencoba mengajak bergabung dengan yang lain, tapi bocah lelaki itu terkesan jutek kaya emak-emak di akhir bulan dan lebih memilih duduk saja menunggu mpap dan ibun di kursi.


Tak jua mendapatkan jawaban darinya bahkan Upa merasa dikacangin, gadis kecil itu memilih mundur. Ganis yang melihat tertawa dan mencolek Wira, "anak kamu tuh! Bikin anak orang ngibrit! Karena dicuekin!"


"Abang ngga boleh gitu, coba kenalan itu sama temen baru...eh sodara deh!" Ganis menghampiri, sementara Alva hanya tersenyum yeahhh, like father like son!


Gale juga ikut berkomentar, "Alvaro introvert ngga sih kalo di lingkungan rumah?"


Ganis menggidikan bahu, "mesti dikasih secuil pelangi sama bubuk little pony dulu, dia mah! Maklum lah turunan pangeran kegelapan!" tawanya.


Shania tertawa melihat kekakuan Andromeda dan kecentilan Kanaya di atas panggung, "aduhhh aing mah! Meni kaya gedebong pisang sama cacing kremi gitu!"


Habis dengan euforia rungkad, acara di tutup dengan berdansa bersama, musik di putar oleh Leli dan disambungkan dengan speaker, "biar kaya di luar negri lah!" ujarnya.


Mungkin lagu ini yang cocok untuk Andro karena kalem, ketimbang Naya yang ceria dan senang berkelakar, ia lebih senang sesuatu yang melibatkan ketenangan dan perasaan.


Dengan dadha yang masih naik turun karena lagu sebelumnya dan butiran keringat yang bersinar di bawah lampu, Andro menarik kedua tangan Naya ke arah pundaknya untuk mengalung indah.


Kanaya cukup tersentak kaget, begitu kedua tangan Andro memegang kedua sisi pinggangnya, hanya berbekal naluri gerakan lembut tercipta, keduanya saling menatap menyelami kedalaman hati masing-masing lewat musik yang mengalun, love.....


"Mas,"


"Hm," jelas Andro tidak sedang berusaha mengalihkan sorot matanya.


"Kamu tinggi, aku pegel dongaknya..." akui Naya.


Andro tertawa kecil setengah mendengus lalu menunduk, "besok kita berangkat ke Bintan..."


"Liburan?" Andro mengangguk singkat sebagai jawaban.


"Liburan plus...plus..." senyumnya menyeringai, meski tak berjakun, namun Andro dapat melihat jika Kanaya meneguk salivanya sulit, "plus belanja, plus mengenal Indonesia kan?!"


"Plus mabok!" sarkas Andro kesal dengan sikap oon dadakan Naya.



Ia menjatuhkan badan di atas kasur hotel, setelah semua yang dilalui kini mereka membuka lembaran baru dengan memulai menapaki jejak di Bintan. Tiket pemberian Galexia sang kakak sudah di tangan, Andro juga ikut merebahkan badannya, lelah...sebelum ia kembali ke rutinitasnya, maka ia akan memakai tiket honeymoon yang Gale berikan.



"Mas, Naya lapar..."



"Kita pesan layanan kamar aja, saya males keluar...capek!" terlihat betul wajah lusuh dan letih Andro, lelaki itu melakukan panggilan, lalu setelahnya memejamkan mata meski tak benar-benar tertidur. Setelah kepulangan keluarga Kanaya dan keluarganya, Andro dan Naya memutuskan untuk berangkat ke kep. Riau dari hotel saja.



Lain halnya dengan Andro, Naya lebih memilih untuk bangun dan membuka kado yang sejak tadi menumpuk di sisi lain kamar, kado-kado itu seolah melambai minta di telan jangin isinya.



Kanaya berjalan mengambil kado-kado itu, dengan duduk melantai ia mulai sibuk membuka bungkusan, "kadonya gede-gede mas, ngga mungkin isinya bom kan?" tawanya berkelakar. Andro mengangkat kepala barang sejenak demi melihat apa yang sedang dilakukan Naya.



Tangannya menarik bungkusan kado dengan kasar, sekasar tembok rengginang.

__ADS_1



Isinya sukses bikin mulut Naya membentuk huruf O, tidak seperti kado-kado orang hajatan di kampungnya yang banteran ngasih satu set piring gelas biar nanti pasangan menikah, kalo berantem tinggal lempar satu sama lain.



Kemudian Naya mengambil bungkusan yang paling cerah, "penuh cinta untuk bapak Andro sama bu Kanaya dari rekan owner Angkringan." dibubuhi emoticon love dan wajah memakai kacamata hitam, Kanaya menyunggingkan senyumannya tak sabar membuka isinya.



Raut wajahnya terlihat kebingungan, tangan-tangan lentiknya membentangkan sesuatu yang asing dan aneh, mirip-mirip liat musang dipakein rok.



"Mas, ini tuh temen-temen kamu ngapain ngirimin kelambu?" tanya Naya. Mata yang hampir terpejam harus kembali terbuka mendengar kata kelambu.



"Emang di rumah banyak nyamuk ya?" tanya nya lagi.



"Siapa?" tanya Andro parau.



"Temen owner Angkringan," Naya kembali membaca kertas kado yang sempat ia sobek tadi, dimana kartu ucapan menempel dengan seksama.



"Kelambu?" tanya Andro balik memastikan.



"Iya, nih liat! Tapi kok kelambu gini...ini mah sih mirip-mirip dale mann atau baju renang perempuan engga sih?! Liat dulu deh, mas!" Kanaya berusaha menebak-nebak seperti sedang mengikuti kuis tebak benda.




Andro berdecak pelan, jika ia terbangun karena hal tak penting, maka ia bersumpah akan memerawani Kanaya saat itu juga agar diam.



Andro memaksakan dirinya untuk bangun, dan mengusap wajahnya kasar, saat penglihatannya benar-benar jelas, Andro dapat melihat jika Kanaya kini sedang melihat sebuah linge rie.



Ia mengulas senyuman tipis, "pasti kerjaan si Andrew!" Andro tersenyum usil melihat Kanaya yang masih masam karena merasa aneh.



"Ini mah kayanya baju renang mas buat aku, tapi kok gini ya mas?! Ini mah atuh keliatan aurat kemana-mana ihhh, jijik ah!" ujarnya, setelah diteliti dan dibayangkan Kanaya bergidik ngeri jika ia memakainya.



"Cobain," titahnya mengejutkan Kanaya, gadis itu menoleh horor, "ih engga ah! Mas ngajarin ngga bener nih!" tunjuk Naya nyinyir dan memasukan kembali jaring itu ke dalam kotaknya, menutup rapat-rapat seolah itu adalah barang paling lak nat untuk dilihat.



"Eh, kenapa dimasukin lagi?!" Andro membukanya kembali.



"Orang ngasih tuh biar kamu pake, itu artinya kamu ngga hargain pemberian orang," bujuk Andro menggida dengan wajah datarnya. Selama ini, ia merasa menjadi lelaki paling sabar, paling soleh diantara teman-temannya, jika Andrew dan Yudha terkadang memiliki sisi liar sebagai seorang lelaki dengan menyimpan majalah dewasa, lalu membayangkan wanita sexyy sebagai alam fantasi mereka, tidak dengan Andro...maka sekarang, sah---sah saja jika ia membayangkan Naya?

__ADS_1



"Engga mau! Dosa mas, aurat!" tolak Naya.



"Dosa itu kalo kamu pakenya di depan orang lain! Kalo cuma di depan saya itu malah wajib," seketika wajah Naya memerah panas. Naya mendelik sinis, ia tak membantah tapi pula tak semudah itu Andro dapat melihatnya sesuai ekspektasi, Kanaya berdiri dari tempatnya, dengan tanpa membuka busana sekarang ia mendouble pakaiannya dengan linge rie yang dipegang.



Andro menjewer telinganya membuatnya mengaduh, "yang ada sobek itu, Kanaya...."



"Aduhh ih mas! Katanya tadi disuruh cobain?!"



Ia meloloskan nafasnya lelah, "ngga di double gini...dibuka dulu baju kamunya..." ia hampir saja mengunyah gadis di depannya karena kesal.



"Engga ah mas! Malu atuh, ih!"



Andro menatapnya tajam dengan tangan terlipat di dadha, Naya tak kalah menatapnya sengit dan manyun. Namun sejurus kemudian Kanaya menyerah, "iya...tapi----" ia menghembuskan nafas kasar, merasa kalah dengan tatapan Andro yang menukik setajam tikungan pelakor.



Akhirnya Naya membawa itu ke kamar mandi, beberapa kali ia meloloskan nafas sepanjang uap kereta api uap, mendadak ia diserang demam, Naya menatap dirinya di depan cermin kamar mandi lalu membuka t shirt tanpa membuka dala maaannnya.



"Ihh meni malu!" rengeknya saat mencoba memakai jaring itu dengan hati-hati, ketarik dikit auto sobek!



"Meni merah gini?!" dadhanya berdegup begitu kencang, kulitnya meremang karena dingin dan gugup. Naya melapisi badannya itu dengan bathrobe, meski ragu sedikit demi sedikit ia membuka handle pintu kamar mandi, seperti gerakan slow motion di film-film, kali aja pas keluar udah esok hari.



Pertama-tama ia menyembulkan kepalanya lalu sebalah kaki, membuka mata sebelah demgan hati-hati berharap Andro tidur! Tapi kenyataannya sepahit biji mahoni, Andro malah sedang asik menunggunya sambil duduk membongkar kado yang lain, padahal barusan Naya sempat komat kamit melangitkan do'a, tapi sepertinya do'anya kurang kencang menggedor pintu langit.



Naya berdiri di depan Andro dan membuka bathrobenya dengan gemetar, ia bahkan sudah berkeringat dingin.



Begitupun Andro yang meneguk saliva sulit, meski Naya masih melapisinya dengan dala maann, namun sosok Kanaya memakai jaring, langsung menghantam si otak solehnya. Ia memang gadis berusia 19 tahun, tapi properti Naya bikin iman Andro *rungkad*.(ambyar)



Andro ikut berdiri dan menyunggingkan senyuman, "bagus! Warnanya cocok,"



"Udah ya mas, ngga nyaman ah!" alasannya menutup bathrobenya kembali dan menutup pemandangan indah itu, hendak kembali ke kamar mandi.



Namun belum ia melangkah memangkas jarak, Andro menarik tangan Naya hingga keduanya tak berjarak terkesan menempel, "mas..." mata Naya membola karena serangan dadakan Andro.


__ADS_1


*Benar-benar barang haram*! batin Naya.


__ADS_2