
Apalagi sekarang, setelah drama mabok ada drama heboh melompat-lompat dari ketiga bocah, mungkin saking excitednya masuk mall. Indahnya jadi bocah, bisa tralala trilili begini tanpa ada beban, Naya memperhatikan tingkah polos ketiganya, mungkin jika usianya masih seumur Puspa, ia akan melakukan hal yang sama dengan mereka tak peduli dengan kondisi sekitar yang akan mencibir kampungan, pokoknya saat itu terjadi, dunia berasa jadi arena bermain aja dan yang lain cuma action figure!
"Dingin ya dingin ih!" seru mereka. Andro tersenyum seraya berjalan di belakang bersampingan dengan Kanaya, mengawasi ketiga bocah bau kencur itu. Baru kali ini ia momong bocah ada seseorang di sampingnya yang cocok disebut ibu dari ketiga bocah ini, ya meskipun masih terbilang bocah juga. Tapi Naya cukup bisa menghandle ketiganya dengan baik.
"Upa jangan lompat-lompat gitu, nanti kena orang lain!"
"Vi, digandeng adeknya ya!"
Kemudian Kanaya pun meneliti situasi sekitar dalam diam, menyapukan pandangan ke arah barang pajangan toko. Mungkin jika harus memilih, ia lebih memilih belanja ke pasar saja yang jelas lebih murah harganya padahal memiliki fungsi yang sama.
"Ada yang mau kamu beli?" tanya Andro, Naya menggeleng tanpa melihat Andro, "engga." Pantang bagi Naya meminta materi pada kaum adam, karena yang sudah-sudah pun selalu ada buntut balas budinya.
"Upa coba liat itu! Bagus ya?!" tunjuk Dena, Kanaya sudah menggaruk kepalanya tak gatal melihat tingkah ketiga bocah itu. Memalukan memang, namun Andro malah tersenyum ikut senang.
Jarang sekali mereka menginjakan kakinya di mall jika bukan setaun sekali pas beli baju lebaran. Begitupun Kanaya yang jarang, bahkan baginya masuk mall adalah suatu moment langka.
Andro menggiring ketiga anak itu untuk masuk ke dalam toko mainan. Semakin saja Upa, Devi dan Dena berseru kegirangan. Memilih mainan yang menurut mereka bagus, meski sebenarnya bagus semua.
"Eh, aduh! Awas nanti jatoh, pelan-pelan, Upa, Dena!" ucap Naya mengejar Upa dan Dena khawatir jika sentuhan heboh mereka bikin lecet bungkus mainan, ntar yang ada disuruh ganti lagi! Mana ada duit!
Jika Devi, ia yakin sudah cukup besar untuk mengerti untuk tak merusak.
Andro memperhatikan gelagat serta seluruh tingkah Kanaya, gadis itu seperti sudah biasa mengurus dan memomong anak, dengan sesekali sikap tegasnya untuk menolak dan menaruh kembali mainan selain dari yang diinginkan.
Drtttt
Andro merogoh ponselnya, lantas mengangkat panggilan.
"Upa mau yang ini ceu!" Puspa menunjukan sebuah barbie dengan peralatan rumah-rumahan salonnya.
Melihat itu yang Naya lakukan langsung tertuju pada bandrol harganya, seketika mata Kanaya membulat sempurna sebesar telur cicak purbakala, "waduh! Mahal Pa, jangan yang mahal-mahal lah! Ceceu ngga enak sama pak Andro, yang murah aja ya, yang biasa dibeli sama mama, sama om Salman..." pintanya pada Puspa, sekali lagi Naya meminta pengertian dari keponakan kesayangannya, bukan karena ia tega namun kondisi yang tak mengharuskan.
Meski kecewa anak itu menurut patuh, baginya sudah biasa menelan pil pahit kekecewaan jika harus menekan ego, Upa tak tau seberapa mahal dan seberapa banyak uang yang harus dikeluarkan untuk membeli itu, yang jelas jika ceceu berkata mahal, itu artinya ia harus mengubur has rat, keinginannya dalam-dalam.
Namun baru saja Upa ingin menaruh lagi boneka barbie dambaannya, Andro menahan.
"Masukin keranjang, sini..." pintanya pada bocah itu.
"Beneran om?!" seru Upa, diangguki Andro dengan mantap.
"Alhamdulillah, makasih banyak om! Om emang malaikat!" akuinya memuji membuat Andro tertawa kecil, sementara Kanaya menoleh horor, malaikat konon, malaikat maut?! Bibir mungil nan merah muda itu merutuk penuh cibiran, mumpung bapak-bapak hot tak melihatnya.
Andro yang sadar akan reaksi Kanaya menyeringai penuh keusilan, "anak kecil aja tau saya itu bak malaikat," bisiknya.
__ADS_1
Naya mengangguk setuju, "iya, malaikat...malaikat pencatat hutang!" balas Naya mencebik, Andro hampir meledakan tawanya diantara keramaian, ia terhibur, Naya sungguh bisa menjadi mood boosternya dikala suntuk. Untuk ukuran seorang perempuan, ia cukup bisa dibilang paket komplit, hanya tinggal satu saja....restu keluarga, maka Andro akan menyerahkan paket yang menurutnya sesuai ini langsung pada keluarganya dengan caranya sendiri.
Andro selalu memiliki pendapat, memang sudah seharusnya lelaki yang mengejar...bukan dikejar, membiayai bukan dibiayai, berusaha mendapatkan cinta bukan dikejar-kejar cinta, entah ia yang terlalu kolot atau memang sudah kolot, ia selalu tak respect dengan perempuan yang terang-terangan mengejarnya sekalipun ia telah mengatakan tak suka.
Tapi apakah Andro sudah mencintai Kanaya? Ia tak tau, sejauh ini ia belum menemukan apa arti kata cemburu.
"Pak, itu harganya mahal. Nanti saya susah gantinya!" ucap Naya menggebu-gebu tertahan oleh geraman gigi.
Andro menyeringai kembali bak serigala berbulu merak, "nah itu kamu tau! Biar kamu susah gantinya! Kalo gitu saya minta nomor ponsel kamu, biar ngga susah nagih?!" Andro meminta, Naya menggertakan giginya, tangannya hampir saja menjambak rambut dengan tatanan sederhana namun sexyy itu, kalau saja ia tidak butuh tumpangan Andro untuk pulang, mungkin ia sudah mendorong pria ini ke lantai bawah.
"Lagipula, setau saya barang mahal itu kualitasnya bagus. Lebih baik membeli barang bagus dan awet meskipun mahal daripada murah tapi sering rusak malah jadi sampah. Ini juga yang dipake keponakan-keponakan saya di rumah kok."
Memang betul prinsipnya, tapi itu buat yang berduit! Lah bagi Kanaya yang punya uangnya se-langka Owa Jawa, gimana nasibnya?! Uang sebanyak itu mendingan dibeliin beras sekarung ketimbang mainan. Masa harus jilatin mainan kalo lapar.
"Eh? Pokoknya saya mah ngga tau, bapak sendiri yang punya niatan traktir Upa. Saya ngga ikutan! Lagian percuma, bapak ngga akan bisa nagih ke saya, saya ngga punya ponsel," desisnya berlalu, lebih baik mencari Dena dan Devi.
"Ceceu, cari Dena sama Devi dulu!" ucapnya pada Upa dan melirik sekilas pada Andro dengan mendelik sinis.
Dari toko mainan mereka beranjak menuju gerai ponsel, entah apa yang ingin Andro beli, hanya saja Kanaya sudah tak berminat melihatnya ataupun kepo dengan urusan lelaki itu, mau dia borong ponsel satu toko, atau borong pegawainya sekalipun, Kanaya tak peduli.
"Saya nunggu disitu aja sama anak-anak pak," tunjuk Kanaya ke arah kursi yang tersedia untuk pengunjung mall.
"Yakin ngga mau ikut?" tanya Andro, Kanaya menggeleng.
"Jalan!" jawabnya, "ya engga lah, ngangkot aja," tambahnya seraya memperhatikan punggung Andro yang semakin menjauh namun tak sampai hilang di pandangan, terlihat lelaki itu sibuk memilih-milih dengan sesekali menatapnya dari kejauhan.
Bukan ia yang kegeeran, tapi mendadak hatinya merasa gugup dengan sikap Andro saat ini. Kanaya memilih untuk membuang pandangan dan memperhatikan sekitarnya, mendekap tas selempang kecilnya persis lagi kekepin harta segudang, serta menghitung berapa jumlah uang yang sempat ia selundupkan tadi siang dari Andro, mumpung lelaki matang itu tak disampingnya.
Matanya membeliak tak percaya, "Hah, njirrr! Didominasi abu-abu semua dong, pantesan tadi yang diambil pak Andro yang ijo-ijo, sama birunya!" serunya tak menyangka akan kemampuan buruk tangan copetnya, unbelievable!
"Apanya ceu yang abu-abu?" tanya Upa ikut melongokan kepala ke arah tas Kanaya.
Kanaya segera menutup kembali tas selempang miliknya, "engga!" ia menggeleng.
Ongkos ke rumah bawa nih 3 bocah berapa ya? Ktp bisa jadi jaminan ngga ya?
Andro kembali dengan paper bag merk gadget ternama, lalu kemudian mereka masuk ke salah satu gerai makanan cepat saji, pokoknya hari ini ia ingin menghabiskan waktu dengan membuat Puspa senang dan lebih mendalami sifat Kanaya, memang butuh penilaian ekstra untuk mencari pendamping yang cocok, bahkan yang sudah merasa klop saja sering gagal saat menuju pelaminan karena sifat aslinya baru terbongkar. Andro hanya ingin meminimalisir kemungkinan itu.
"Pak, kita ngapain masuk kesini?" tanya Kanaya.
__ADS_1
"Ngga mungkin kan saya bilang mau rebahan?" Andro balik bertanya.
Andro bersama ketiga bocah sibuk memilih menu, sementara Kanaya memilih jadi penonton saja di belakang, tanpa mau memberikan request tertentu, ngikut saja yang penting ngga dikasih racun.
Seraya memutar-mutar kartu nama Shania, ia berpikir lalu mencolek bahu Andro.
"Pak---pak, bu Shania ini siapa?" tanya nya dengan wajah polos.
"Kembaranmu yang tertukar..." jawab Andro datar. Kanaya menaikan alisnya, "saya ngga punya kembaran,"
Andro terkekeh, "beliau yang punya toko roti dan kue,"
Kanaya mengangguk-angguk paham, rupanya Andro memberikannya channel untuk bekerja, baiklah jadi harus serapi apa? Kira-kira siapa orang yang bisa ia pinjami pakaian hitam putih?
"Berarti kalo kerja, saya harus pake hitam putih dong, pak? Tapi saya belum punya..." akuinya mengerutkan dahi dan frustasi.
"Pake kebaya kawinan juga ngga apa-apa," jawab Andro enteng.
Kanaya mendengkus kesal.
.
.
.
__ADS_1
.