
Meskipun Andro tak sampai jingkrak-jingkrak, apalagi gelar syukuran namun setidaknya ia bisa tersenyum senang karena rasa kecewanya kini terbayar dengan kedatangan Kanaya ke rumahnya sekarang. Andro terbiasa mendapatkan sesuatu yang ia inginkan selama hidupnya, jadi wajar jika ia merasa kecewa saat Naya menolak ajakannya kemarin.
"Kamu pake beginian mau kemana?" tanya Gale merujuk pada pakaian yang dikenakan Naya, hingga refleks Kanaya melirik dirinya sendiri.
"Itu teh, tadi di rumah ada acara..." jawab Naya menatap getir kebaya yang sudah lusuh karena keringat dan jelas bau tanah juga sayuran.
"Oh ya bu, kalo boleh...saya mau numpang ke toilet buat ganti baju," ujar Naya meminta ijin pada Shania, dilihat orang lama-lama itu sungguh risih. Lagipula siapa juga yang tak memandangnya lama bila berpakaian begitu.
"Boleh, boleh--- 2 ribu ya," dibalas tawa Shania diikuti tawa Kanaya, "ibu nih suka becanda juga ternyata!"
"Saya serius," ujar Shania menghentikan tawa dan senyuman di wajah Kanaya. Gadis itu langsung meraba rok lalu beralih ke tasnya, "wah tau gitu tadi ganti dulu di spbu---" akuinya jujur, ia tak tau jika di Jakarta semuanya serba berbayar, termasuk numpang ganti baju di rumah ini, jangan-jangan nafas juga bayar lagi!
Gale mengulum bibirnya, emaknya emang paling bisa ngusilin orang, padahal ia saja tak terpikir sampai ke arah situ. Ospek ala mama Sha dimulai!
"Pak," Naya kini berbisik ke dekat Andro yang sudah memasang tampang datarnya.
"Bapak temen saya bukan? Atau minimal kenalan lah!" imbuh Naya.
Andro menaikan alis tebalnya, kaosnya bahkan masih basah dengan keringat harus kembali dibuat lelah dengan tingkah Kanaya, "kenapa memangnya?"
"Pinjem receh dong pak," gadis itu nyengir, meskipun terlahir dari keluarga serba terbatas tak membuat ia jorok dan bergigi tak rapi. Ia memang tak memiliki biaya untuk memasang behel atau melakukan bleaching gigi, tapi senyuman gadis itu menampilkan 2 gigi kelinci miliknya diantara deretan gigi rapi Kanaya dengan warna gigi putih alami, cocok untuk paras bulat dengan hidung yang tak mancung-mancung amat terkesan pesek.
Shania lalu tertawa, "becanda atuh neng! Ngga usah bayar, gratis disini mah!"
Andro menggelengkan kepala dengan kepolosan Kanaya yang mau-maunya diusili momy Sha.
"Yu masuk, saya kenalin sama suami dan owner Pawon Kurawa lainnya---"
Gale dan Shania berjalan duluan, sementara Kanaya mengekor di belakang, ia menjiwir lengan kaos Andromeda dengan seenak jidat kaya jiwir punggung anak kucing. Andro sampai melirik ke arah tangan Kanaya yang menjiwir kaosnya, baru kali ini ada gadis yang megang-megang dirinya persis megang plastik sampah, padahal di luar sana mereka berlomba untuk menggelayuti lengan sandarable itu.
__ADS_1
Emang dasar nih cewek, ngga tau barang bagus!
"Kamu jijik apa gimana?" tanya Andro membuat Gale dan Shania kembali menoleh, hawa-hawanya Andro akan bernasib sama dengan ayah dan Fatur dapet cewek magic, wong dia sendiri yang menjatuhkan pilihannya pada Kanaya.
"Baru kali ini Gale liat cewek ngga mempan sama pesona Andro, mih!" Gale tertawa puas.
Pesonamu sudah pudar brother! Silahkan cuci kembali kaki ayah!
Kanaya mengehkeh lalu melepas kaos Andro, "bukan gitu pak, takut bapak ngga mau dipegang-pegang aja."
"Jangan galak-galak Ndro, gantengnya makin pudar tuh! Kaya warna jeans, lagian cewek ngga akan betah sama lelaki galak!" sela Gale, Andro hanya bisa mendengus saja. Ia memang tak berpengalaman memiliki hubungan spesial dengan seorang gadis.
"Kenapa lagi? Mau pinjem duit? Atau minta makan?" tanya Andro. Shania berdecak, sikap suaminya saat pertama mengenal Shania nemplok banget di Andro. Galak-galak pengen tikam pake cinta. Suka, tapi susah nurunin ego. Mau-mau, tapi gengsi buat ungkapin.
"Ih bukan itu. Coba liat deh! Ini perasaan Naya aja atau emang iya ya...bapak sama suaminya bu Shania kok mirip?!" tunjuk Kanaya bergantian ke arah wajah Andro dan foto Arkala Mahesa. Wajah Andro benar-benar datar tak tertolong lagi, "tuh kan! Tuh kan, sama! Kaya kembar," seru Kanaya.
"Hahaha, ayah! Gale ngga kuat pengen pi pis!" Gale menyeru masuk ke dalam.
"Mi, jangan mulai mi..." ucap Andro frustasi.
"Kamu yang bawa gadis extraordinary ini kesini, jadi jelas kamu yang paling tau resikonya..." bisik Shania kini merangkul Kanaya dan membawanya masuk, tak sabar mempertemukan Kanaya dengan Arka, jika ternyata selain paras yang hampir mirip ternyata kemiripan Andromeda dan Arkala tak terbantahkan dari selera gadis pujaan.
"Emang iya ya, bu? Soalnya saya pernah penasaran juga sama teori imposibble itu?" tanya Naya menunjukan jika ia gadis berpengetahuan hanya saja otak bohlamnya itu tertutup dengan keluguan khas gadis desa. Andro pintar menemukan Kanaya.
"Iya. Emangnya kamu belum tau siapa pak Andromeda kenalan kamu ini?" tanya Shania mengedip genit pada putranya, Andro sudah berkali-kali menghela nafas mengekor di belakang momy Sha dan Kanaya, meskipun ia sedikit kleyengan dan semaput dengan duet momy dan Kanaya seperti kata onta Guntur mereka bikin semaput! Namun ia cukup senang, jika ternyata momy Sha welcome pada Kanaya. Tidak seperti gadis-gadis yang pernah datang ke rumah dan berlomba-lomba menunjukan kepintaran, kekayaan, kebaikannya pada keluarga Andro bikin mereka bosan binti jenuh, Naya justru menunjukan apa adanya diri seorang Kanaya Dewi.
Kanaya menggeleng, sungguh sejak pertama mengenal Andro tak terpikir oleh Kanaya untuk mencari tau siapa Andromeda sebenarnya, apa pekerjaannya, atau dimana rumah tempatnya tinggal beserta keluarga, yang ia tau Andromeda adalah orang suruhan yang tengah mencari lahan bisnis di kampung Giri Mekar, menurutnya Andro baik, cukup baik untuk ukuran lelaki asing yang mau menolong gadis menyedihkan macam dirinya, Andro juga tinggal di Jakarta, bagi Kanaya---- ia cukup tau kalau Andromeda adalah figur lelaki yang baik untuk ia anggap sebagai teman.
"Andromeda adalah kembaran suami saya, kembaran beda ibu!" tawa Shania, gadis ini hanya mengerutkan dahi, tak terkejut sama sekali karena di dalam pikirannya kembaran beda ibu ya orang lain yang kebetulan mirip saja.
__ADS_1
"Oh," jawab Naya, Andro dan Shania tak habis pikir dengan reaksi Naya, mereka sampai melongo di tempatnya.
"Kamu ngga kaget gitu?" tanya Andro.
Kanaya menggeleng, "udah biasa kan. Orang yang mirip sama pak Joko Widodo aja banyak, iya kan?"
AMAZING! Shania sampai menggelengkan kepalanya, gadis ini memang extraordinary!
"Kenapa jadi bawa-bawa pak Joko?" tanya Andro. Gadis ini sudah sukses membuat otak 2 orang berpendidikan berputar kaya gasing.
"Ada apa?" tanya Arka yang ternyata ketiganya sudah berada di ruang tengah keluarga ini bersama yang lain.
"Ohm," Kanaya mengatupkan mulutnya melihat banyak orang terlebih sosok lelaki yang begitu mirip dengan Andro hanya saja dalam versi yang lebih tua, kulit Andro juga agak lebih putih dibanding Arka.
"Beneran mirip, bu!" bisik Naya pada Shania, nenek 3 cucu ini menyemburkan tawanya.
"Kamu bisa lihat disitu, Naya." Shania menunjuk foto keluarganya.
"Anak saya yang lelaki tadi sudah besar, Andromeda Putra Mahesa..." jelas Shania.
"Jadi pak Andro teh, anak ibu?!" tanya Naya.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.