Jelajah Cinta To Andromeda

Jelajah Cinta To Andromeda
JCTA # 25. KABUR


__ADS_3

Kayanya semalem Naya mimpi bok3r dan belum sempet goresin tanah pake ranting! Buktinya, sepagi ini ia sudah ketiban apes. Apes karena ia harus terlambat bangun, apes karena bapak dan teh Yani sudah berada di depan kamarnya dengan membawa satu koper make up yang akan diaplikasikan ke wajahnya biar cantik, siapa tau kan abis di dempul bisa semirip artis Ra_iso.


Kanaya melirik singkat ke belakang sesingkat guratan kilat di kala hujan petir, dimana sebelumnya ia sedang tanggung-tanggungnya masukin persyaratan melamar pekerjaan sekaligus lipatan pakaian untuk bekalnya selama merantau nanti. Namun naas, belum rapi beresin...bapak sudah bertindak jadi dewa Zeus yang kirim sepaket petir di pagi buta untuk Kanaya.


Gadis itu, mau tak mau membiarkan teh Yani untuk masuk ke dalam kamarnya, dengan wajah kebingungan Naya segera menyingkirkan tas ke samping meja dan menyambar handuk, "teh Yani...Naya mau mandi dulu ya, soalnya belum mandi..." ia meninggalkan teh Yani sesaat setelah mendapatkan anggukan dari teh Yani, sementata bapak malah sibuk tak karuan mengatur rumah.


Setidaknya dengan mandi aliran darah dan oksigen ke otak bisa lebih lancar, membuat ide cemerlang bisa mengalir deras di kepala, yeah! Ide gila jadi anak durhaka sehari.


Naya melihat ibu di dapur yang menata kue-kue basah hasil berburu di pasar, sadar akan kehadiran Kanaya membuat ibu menoleh seketika, "maafin ibu, ceu..."


Kanaya melilitkan handuk di lehernya. Ia hanya diam, bahkan sampai detik ini ia masih tak percaya jika bapak dengan teganya menyerahkan anak gadisnya pada seorang duda talas.


"Ceceu boleh marah sama ibu, ceceu boleh kecewa sama ibu." Ucap ibunya, namun Kanaya menggeleng kuat, justru ia lah yang seharusnya meminta maaf pada ibu, karena mungkin setelah ini, ia akan kembali membuat geger keluarganya, mencoreng nama bapak dan ibu.


"Ceceu ngga mau nikah sama pak Agung, bu. Ceceu yang harusnya minta maaf sama ibu, jangan pernah benci ceceu setelah ini..." balasnya memeluk ibu, mungkin ini adalah pelukan terakhirnya sebelum nanti dia akan mencoba kabur.


"Kalo gitu ceceu mandi dulu ya bu," ijinnya.


"Mana Upa?" tanya Naya.


"Sama Arif."


Baiklah, mungkin untuk saat ini ia tak perlu pamit pada Upa, mengingat waktunya begitu mepet. Kanaya masuk ke dalam kamar mandi, untuk melakukan mandi kilat kaya ular.


Ia menyiram kepala hingga menimbulkan sensasi dingin yang menjalari sekujur tubuhnya.


Teh Yani bekerja sesuai keahliannya, meskipun hanya salon kampung namun kualitas jemari tangannya bisa disamakan dengan MUA ternama. Terbukti dengan sanggulan rumah siput dan wajah bak manten anak raja.



"Sok atuh ganti baju, biar teteh liat dan bantuin..." pintanya.



*Glek*!



Padahal kan rencana Kanaya akan kabur saat teh Yani keluar pada waktu ia berganti pakaian. Oke, plan B.



Kanaya segera mengganti pakaiannya dengan kebaya pemberian pak Agung, teh Yani menyunggingkan senyuman, "kan cantik..." ia membalut dan merapikan sinjang yang melilit tubuh bagian bawah Naya, lebih mengencangkan ikatannya hingga mencetak leku kan badan gadis 19 tahun ini.



"Udah cocok jadi penganten ini mah Nay," ujarnya, Kanaya hanya bisa tersenyum kaku. Ia melihat pantulan dirinya di cermin, cantik gini! Enak aja aki-aki bangkotan mau nikahin Naya!



"Udah beres, kalo gitu teteh keluar dulu sebentar. Mau sekalian ambil minum ngga?" tanya teh Yani.



"Ngga usah teh, makasih."



Kanaya menahan tangan teh Yani, "teh!"



"Ya?"



"Maafin Naya ngerepotin ya." ucapnya, karena akan mungkin usaha teh Yani mendandaninya akan sia-sia setelah ini.



"Ih, apa sih Naya! Biasa aja atuh, kan emang tugas salon!" balasnya.



Ia menaruh sebagian uang di dalam kotak kayu, lalu dimasukan ke dalam laci untuk ibu dan Upa, sementara ia membawa setengah miliknya.



Tak lupa Naya mengunci kamarnya dan membuka jendela samping yang menghadap tepat ke arah rumah tetangga, oke! Jalur kaburnya adalah melewati halaman belakang rumah tetangganya yang kalo jam segini udah berangkat ke sawah dan kebun, lalu ia akan melewati jalanan kecil untuk sampai di rumah pak Akbar. Bukan jalanan besar yang biasa dilewati banyak orang.


__ADS_1


*Pluk*!



Ia jatuhkan tas lewat jendela, kemudian ia naik ke atas ranjang, menaikkan ujung sinjang dengan kesulitan, "ampunnn! Kabur pake sinjang ternyata susah sister!"



Kaki-kaki putihnya memakai sendal flatshoes andalan melewati gawang jendela yang kecil. Fix, besok-besok jika membuat rumah ia akan membuat jendela sebesar pintu stadion! Biar kalo kabur lebih afdol, biar gajah aja bisa keluar-masuk!



*Srekkkk*!



"Ya Allah, gusti! Sobek," ia terkekeh melihat robekan di ujung sinjang yang ternyata tersangkut di paku, "ah *riweuh pisan*! Ribet lah!"



Kanaya akhirnya melonggarkan *sinjang* agar bisa melangkah.



*Bluk*...


Ia turun di samping rumah, lalu mengangkat tasnya, "maafin ceceu pak, bu...ceceu bakal pulang kalo udah bawa kabar ceceu kerja..." gumamnya, menatap jendela kamar untuk terakhir kalinya lalu menutupnya kembali. Kanaya berlari melewati pagar kayu rumah, berkali-kali sinjang dan kebayanya tersangkut membuat gadis itu geram.



"Argghhhh, astagfirullah!" ia menarik sinjang, biarkan saja sekarang tampilannya kaya orang gila dengan rok samping yang compang-camping yang penting bisa kabur.



Kaki-kakinya lihai menapaki jalanan setapak dengan hati-hati menyusuri sawah dan kebun. Beberapa warga yang bertemu cukup mengernyitkan dahi melihat Kanaya, "neng.." sapa mereka.



"Pak," balas Naya, "bu..." ia berlari sebisanya.



Andro melirik jalanan yang biasanya dilewati demi mencapai rumah pak Akbar, berharap gadis itu datang, namun nyatanya Kanaya tak ada. Ia melirik jam di tangan, sudah pukul 7 lebih ia harus segera kembali berhubung pekerjaan sudah menanti.


Pak Akbar dan bu Dewi mengangguk, "hati-hati mas Andro...insyaAllah amanatnya nanti saya sampaikan sama Kanaya,"


"Neng Naya mah gimana sih, katanya butuh kerjaan. Diajakin kerja malah ngga datang," imbuh bu Dewi.


"Mungkin minta ijin dari ceu Wati dulu sama kang Acep." sela pak Akbar.


Andro hanya tersenyum melihat perdebatan keduanya, yang mendebatkan Kanaya.


"Ya udah atuh mas, sok bisi keburu macet di jalannya,"


Andro mengangguk dan menyalami keduanya, "makasih pak. InsyaAllah untuk urusan selanjutnya masalah keuangan, tanda tangan perijinan kalau saya berhalangan datang, ada Yudha yang akan datang..."


"Iya, hati-hati ya mas,"


"Rezki, Devi, Dena. Mas Andro pamit ya!" ia mengusap satu persatu kepala anak pak Akbar dan masuk ke dalam mobil.


Andro sempat meloloskan nafas beratnya menatap sekitar halaman pak Akbar, berharap ada seorang gadis yang berlari menyusulnya.


Mesin mobil dinyalakan, Andro menekan klaksonnya sekali hingga membuat pak Akbar sekeluarga melambaikan tangan padanya.


Benar, gadis itu tak akan datang...


Andro melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumah pak Akbar hingga keluar dari gerbang kampung dan menuju jalan besar.


.


.


.


Kanaya berlari sekencangnya menuju rumah pak Akbar, sampai sanggulannya turun-turun, ia tak peduli! Keringat mulai mengaliri pelipis dan keningnya.


Tunggu! Ada yang aneh, mobil Andro sudah tak ada!


Kanaya terlambat! Ia sungguh terlambat.


Tanpa melepas flatshoesnya ia menginjak teras rumah pak Akbar dan mengetuk rumah pak Akbar.

__ADS_1


Tok--tok--tok!


"Pak Akbar! Bu Dewi!" teriaknya.


"Siapa itu?" pak Akbar yang sudah bersiap untuk bekerja kembali di kecamatan mengernyit saat memakai arloji.


Bu Dewi menggeleng, "kaya suara Naya..."


Keduanya langsung menuju pintu rumah, pak Akbar membukanya.


"Kanaya?!"


"Astagfirullah!" bu Dewi mengerjap melihat tampilan Kanaya.


"Kamu mau kemana? Pake kabaya acak-acakan gini? Mana sararoek?!"


"Ngga ada waktu buat jelasin pak, bu...mas Andro??" tanya nya dengan dadha yang naik turun karena nafas yang memburu.


"Mas Andro udah pergi lah, kamunya lama..." jawab bu Dewi. Kanaya menepuk jidatnya, lalu ia berpikir kembali, tak boleh frustasi dan menyerah begitu saja, usahanya sudah setengah jalan.


"Kamu teh kabur apa gimana?" tanya pak Akbar menyadari kostum Kanaya dan keburu-buruannya.


"Kalo gitu, pak Akbar sama bu Dewi jangan pernah bilang ketemu Naya pagi ini, kalo bapak atau ibu nanya bilang aja ngga liat! Naya pergi ya pak, bu...assalamu'alaikum!" ia meraih tangan keduanya kasar dan salim takzim.


"Wa'alaikumsalam..." mereka masih terheran dengan apa yang barusan dilihat, tapi gadis itu sudah pergi berlari.


Kanaya berlari sebisanya, satu-satunya tujuan Naya saat ini adalah kota Jakarta, harus mencari kendaraan menuju Jakarta. Hingga suara lantang meleburkan rencana di otaknya.


"Rapiin Jar terpalnya! Soalnya masuk supermarket alus ieu mah!"


Kanaya melirik, "kol sayur!" ia tersenyum lebar, biarkan ia menyatu dengan alam, dengan sayur-sayuran yang penting ia sampai Jakarta, ditambah orang rumah pasti sudah menyadari kehilangan dirinya sekarang, tidak menutup kemungkinan mereka sedang mencari dirinya.


"Rapi?!" tanya salah satunya, lalu diokei satunya lagi.


Kanaya menunggu waktu dimana si supir dan kernetnya lengah.


"Aduh astagfirullah! Ampun da, kalo ngga pake ini udah lancar kaburnya dari tadi, ngga harus ketinggalan pak Andro !" dumelnya naik ke atas mobil pick up berisi sayuran yang telah siap masuk supermarket di Jakarta. Gadis itu menggeser-geser sayuran agar dirinya bisa menumpang sambil ngumpet.


"Kayanya ini mah mobil pick up juragan Rizal, yang suka ngirim sayur mah!" kekehnya menunduk dan kembali menutup terpal di atasnya.


Blugh!


Terdengar suara pintu mobil tertutup, dan mesin dinyalakan tanda mobil akan segera bergerak.


"Ceceu pamit bu, Upa...insyaAllah nanti balik udah dapet uang segede pintu!"


Mobil bergerak meninggalkan desa Giri Mekar menuju Jakarta.


Sementara di rumah Kanaya, semua orang sibuk mencari Kanaya, termasuk pak Agung yang sudah datang bersama rombongan.


"Cepet cari ceceu kamu!" teriak bapak pada Arif.


Pak Agung cukup murka pada bapak, bisa-bisanya Kanaya kabur.


"Ya Allah ceu," gumam ibu menekan dadhanya dan memeluk Upa.


"Ceceu!!!!" jerit bapak memanggil-manggil Kanaya seraya mencarinya ke setiap sudut rumah, area sekutar rumah, dan jalanan kampung.


.


.


.


.


.


Noted:


* riweuh : ribet, hectic.


*pisan : banget.


* sinjang : kain jarik batik.


* alus : bagus.


* sararoek : sobek-sobek.


* sok : silahkan.

__ADS_1


*bisi : takutnya, khawatirnya.


__ADS_2