
"Pak, itu ayam udah dititip pak Burhan dulu?" tanya Ibu.
"Udah," bapak memutar kunci yang hampir berkarat di semua incinya. Meski butut begini, tetap harus dikunci jika pergi lebih dari seharian.
Upa memegang tangan Naya dan menggoyangkannya ke depan juga ke belakang bahagia, ia begitu excited dan penasaran seperti apa sebuah hotel.
"Ceu, hotelnya jauh engga? Di hotel itu ada permainannya engga, ada kolam renangnya?" tanya Upa mencecar seraya mendongak ke arah Kanaya.
"Ada Pa, makanannya enak-enak!" timpal Arif yang juga sama senangnya dengan Puspa, anak kelas 5 sd itu cukup senang jika akhirnya kakak nakalnya itu mendapatkan jodoh yang baik seperti Andro dan keluarganya, Ceceu emang beda...meskipun seringkali Arif harus menebalkan telinga, kulit wajah karena cemoohan para tetangga atas ceceu, tapi ia turut bahagia. Seperti baru-baru ini, banyak selentingan yang bertanya padanya, "Rif, kakak kamu hamil berapa bulan emangnya, kok kawinnya buru-buru?!"
Tapi Arif cuek saja, ia malah enteng menjawab, "tunggu aja nyembelih dombanya bulan apa, nanti pasti bisa ngitung!"
Karena percuma juga menjawab dengan benar, toh mereka tetap percaya dengan keyakinannya sendiri, yang buruk tetap akan terlihat sama buruknya di mata mereka, sudah terlalu biasa bagi mereka dicerca begini....
Apa salahnya bermimpi? Toh tak bayar! Satu-satunya hal gratis di dunia ini ya bermimpi!
"Ada," jawab Naya pada Upa.
Mereka berjalan dengan pakaian terbagus, ter rapi yang mereka punyai, entah lebaran yang mana!
Dering ponsel berbunyi kencang, dan Kanaya yang sejak tadi memegangnya langsung mengangkat panggilan.
"Assalamu'alaikum, mas."
"Udah sampe hotel?"
Naya menggeleng, "baru sampe di luar rumah bapak," ia terkekeh.
"Pantes aja, ya udah hati-hati. Salam buat bapak, ibu, Arif sama Upa."
Andro menutup kembali panggilannya, hanya untuk bertanya hal itu saja, kening Naya berkerut, "aneh."
"*Nay! Selamet ya, kawin sama orang kota, kaya pula*!"
Beberapa orang sepanjang jalan menyapanya ramah, namun ada pula yang saling berbisik julid dan mencibir. Tapi sekali lagi, bagi Naya sekeluarga ini adalah hal biasa, mental mereka sekuat baja untuk menghadapi cemoohan, hingga mereka sampai di gerbang batas desa dan bertemu dengan Desi bersama Salman.
"Naya," sapa Desi.
Tatapan Salman dan Naya bertemu, lelaki itu menatap Naya dengan alis menukik, penuh intimidasi seperti ingin memuntahkan seluruh keluhan dan rasa tak terimanya, sementara Kanaya hanya menatapnya kosong untuk kemudian beralih melihat Desi.
"Bu," sapa Desi pada ibu Naya, ia mengenal bu Arum saat ia membantu di nikahannya bersama Salman waktu itu.
"Neng, neng Desi sakit?" tanya ibu.
"Iya ini bu, mual-mual! Perut berasa dikocok sama pusing, lemes juga. Barusan mau kerja aja sampe ngga jadi."
"Teteh punya maag?" tanya Naya.
"Engga." ia lantas tersenyum, "do'ain lancar ya Nay.... teteh hamil, udah 3 bulan..." akuinya yang langsung mengundang deheman Salman.
Naya dan ibu serta bapak saling melihat keheranan satu sama lain, sementara Arif hanya diam dan menunduk kalem, ia tak mengerti dengan hal begituan, lain halnya dengan Upa yang menunjukan jarinya, "3 bulan...3 itu segini ya ceu?"
*Bocah! Pake ditunjukin pake jari lagi*!
Untuk usia anak 4 tahun, Puspa terbilang anak yang pintar, ia sudah bisa berhitung, berbicara huruf R dengan jelas, mengobrol nyambung dan fasih, mengaji dan itu semua ada andil Kanaya, bagi Puspa, Ibu dan Kanaya adalah ibu keduanya.
"Oh," Kanaya beroh singkat tanpa suara seraya mengalihkan pandangannya ke samping.
__ADS_1
"Alhamdulillah, ibu do'ain semoga sehat, lancar persalinannya nanti, selamat dan sehat ibu sama bayinya..."
Bapak? Jangan ditanya! Sejak tadi ia tak menatap keduanya, jujur saja ia tak pernah suka dengan Salman, ia lebih memilih melihat ke sekitar jalanan, mencari angkutan umum.
"Ibu sama Naya mau kemana?" tanya Desi.
Ibu tersenyum hangat, "mau ke hotel."
"Oh iya! Desi sampe lupa, besok Naya kan nikah ya, kalo ngga salah....bapak juga diminta jadi saksi sama pak Akbar, ya kan a?" Desi memiringkan kepalanya ke arah Salman.
"Naya mau undang teteh sama a Salman buat jadi tamu VIP di akad," lirih Naya.
"Wahh!" seru Desi namun tidak dengan Salman yang terkejut.
"Wah, makasih banyak Nay. Sampe VIP segala!" ujar Desi gembira, Naya tersenyum lebar, "iya dong...a Salman tuh banyak kasih Naya pelajaran tentang hubungan, Naya banyak belajar sama a Salman..." jelas Naya mengunci netra hitam Salman. Ibu tersenyum getir dan garing, karena tau akan masa lalu Salman dan Naya.
"InsyaAllah! Teteh sama a Salman pasti datang! Ya kan, a?!" tarik Desi. Naya telah memaafkan masa lalunya meski tak akan pernah lupa.
"Ceu, ada angkot di depan! Bu, Arif, ayok!" titahnya tergesa.
"Kalo gitu kita tinggal dulu ya neng Desi, a Salman...mari!" Naya membawa serta tas miliknya berjalan berlalu, begitupun Salman yang melajukan motornya.
"Terus mau naik apa?! Taksi?! Ngga ada duit, ceu!"
"Ya naik taksi lah, kemaren kan mas Andro udah kasih uangnya, malu-maluin, ke hotel naik angkot!" gerutunya mencebik.
"Halah! Manja amat ceu! Tinggal turun sebelum gedung hotelnya aja, lumayan kan....sisa uang buat naik taksi pake buat jajan jus!" debat bapak.
"Bapak ih! Mas Andro kasih uang lumayan banyak, ngapain mesti naik angkot. Lagian naik angkot bikin Naya makin mabok, pak!" dumel Naya.
"Lagian kamu, malu-maluin! Pake punya kebiasaan mabok kendaraan segala, masa calon istri yang suaminya punya mobil doyan mabok! Nanti sekalinya suami kamu pergi-pergian kamu ngga diajak!"
"Ya gampang lah, pak!" timpal ibu.
"Nanti nak Andro tinggal tuker tambah pake mobil pick up. Ceceu kalo di arak kaya kambing kurban baru anteng," lanjut ibu lagi.
Arif dan Upa tertawa begitu kencang mendengarkan perseteruan pasal mobil, mana di pinggir jalan pula!
Akhirnya bapak harus mengalah untuk mencari taksi, dan membiarkan Kanaya duduk di samping pengemudi dengan kondisi jendela terbuka.
__ADS_1
Namun tetap saja, mau kaca pintu mobil dibuka selebar dunia pun Naya tetap merasa mual, wajahnya bahkan sudah pucat, sesampainya di hotel ia malah terduduk lesu di depan halaman hotel hingga terpaksa Arif lah yang mengirim pesan pada Andro lewat ponsel Naya.
*Mas Andro, kita sekeluarga udah sampe hotel*.
Hingga tak lama kemudian Andro menghubunginya.
"Halo,"
Awalnya Andro mengernyit dengan suara anak lelaki, namun ia langsung mengenali suara Arif.
"Ceceu mu mana, Rif?"
Arif melirik Kanaya prihatin yang duduk tertunduk di pijiti ibu di halaman hotel dengan tatapan prihatin.
"Ceceu mabok, mas. Lagi dipijit ibu," Ia meringis malu.
Andro meloloskan nafasnya lelah namun tak bisa untuk tak tertawa juga.
"Rif, langsung aja masuk ke dalem. Bilang sama resepsionis reservasi atas nama Kanaya--Andro, nanti pihak hotel tunjukin kamarnya."
Arif mengangguk meskipun Andro tak dapat melihatnya, "iya mas. Makasih,"
Andro menutup panggilannya dengan masih tertawa kecil.
"Cieee! Ketawa-ketawa sendiri. Momy tuh jarang liat kamu ketawa Ndro, ngga kaya sekarang," goda Shania pada bujangnya ini. Andro langsung menghentikan tawa dan senyumnya kembali ke stelan awal.
"Oh iya, Naya udah sampe hotel?"
"Udah barusan."
"Oke. Jangan sampe kelewat perawatannya biar paripurna!" Balas Shania seraya melengos pergi.
Akhirnya Kanaya dapat merebahkan badannya di ranjang empuk, Upa dan Arif bahkan sudah melompat-lompat kegirangan, sementara bapak sudah ngorok.
Baru saja gadis itu ingin memejamkan matanya barang sebentar saja, pintu kamarnya diketuk dari luar.
"Mbak Kanaya....ditunggu di ruang fasilitas spa dan salon hotel,"
.
.
.
.
.
__ADS_1
.