
Wati sengaja menangkap Naya dan berpura-pura mencekiknya, "a Otoy tolongin Naya, aaaa!" wanita itu membuat gerakan seolah-olah lehernya di pelintir Wati dan kejang-kejang.
Kemudian Wati menggertak dan mengejar ketiganya sampai jarak beberapa meter dari sana. Kedua gadis ini tertawa bersama, saat Otoy cs berlari jauh dengan sangat kencang mengalahkan cheetah.
"Aa ngiring!!!" suara Wati berdengung. (aa ikut!!!)
Secara tak langsung, alam bawah sadar manusia akan selalu refleks menyelamatkan dirinya sendiri jika terkejut, maka itu pula yang terjadi dengan ketiga pemuda kampung itu.
Ujang meringis lelah seraya menekuk lututnya dan membungkuk, bahkan Ujang sudah merebahkan badannya di jalanan dan mengatur nafas yang sesak, Otoy menurunkan kedua sandal dari lengannya yang tadi sempat ia lepas dan masukan, pikir refleksnya sih biar larinya kencang.
"Anjimm cape!" ujar Ujang mengatur nafasnya dirasa sudah jauh dari area tadi.
"Saha sih eta?! Nugelo anyar?" tanya Otoy. (siapa sih itu?! Orang gila baru?)
"Itu si neng Naya gimana?!" imbuh Atep.
"Biarin lah, gue aja takut! Balik ah balik, laporan sama Agus kalo di deket pembangunan cafe teh ada orang gila baru, atau lapor sama pak rt?! Biar diusir!" diskusi mereka seraya berjalan meringis.
Kedua gadis ini masih tergelak dan bertos ria, "makanya a! Jangan macem-macem!"
Andro berjalan bersama pak Akbar menuju arah pembangunan cafe sambil menikmati senja di Giri Mekar, "hari ini nginep, mas?"
"Engga kayanya pak, soalnya besok Naya harus ke kampus. Alhamdulillah baru saja ada email masuk dari pihak kampus kalau Naya sudah diterima."
"Alhamdulillah!" jawab pak Akbar.
"Mungkin ke depannya saya akan banyak merepotkan pak Akbar," ujar Andro. Lelaki yang tak pernah ketinggalan memakai peci hitam ini tersenyum lebar menampakan beberapa lipatan di ekor matanya, "saya yang harusnya bilang terimakasih sama mas Andro, kisaran gaji dari mas Andro jauh diatas gaji saya di kelurahan."
Andro mengulas senyuman tipis, "menurut saya itu sepadan, pak. Untuk perekrutan karyawan, saya mau serap saja pengangguran di lingkungan sekitar, nanti saya diskusi lagi dengan owner lain dan penanam saham/investor."
Dari kejauhan Andro melihat ketiga pemuda kampung yang berjalan pelan lalu mencegatnya dan pak Akbar, "noh suami neng Naya!" tunjuk Otoy.
"Pak! Kayanya bapak harus liat! Tuh, ada orang gila baru geningan di deket pembangunan cafe, lapor pak rt!"
"Oh iya, neng Naya tadi ditangkep orang gila baru, ngga tau dicekek atau apa tadi teh!"
"Hah?!!" pak Akbar terkejut, begitupun Andro yang mengerutkan dahinya menatap pak Akbar.
"Yang bener kamu teh Otoy?! Kalo gitu kenapa atuh Naya bukannya ditolongin, malah ditinggal!" sengit pak Akbar.
"Takut kita juga!"
Andro berjalan cepat bersama pak Akbar demi melihat apa yang terjadi dengan Naya, lalu kemana Wati?
Kedua gadis ini masih bercerita satu sama lain dengan kekonyolan barusan seraya merapikan pakaian Wati, "hahaha! Liat ngga tadi?! Si a Otoy?! Meni sampe nubruk-nubruk Ujang?!" keduanya tergelak kembali.
"Harusnya mah tadi teh Naya pura-pura kesurupan dulu ya Wat?! Biar totalitas!" timpalnya.
"Heem, masa cuma Wati yang kotor-kotor begini, ngga adil! Besok-besok mah kalo mau jail Naya yang jadi tumbal guling-guling di tanahnya ah!" bibir Wati mengerucut, "haduhhh! Baju 500 ribu dapet thr teh abis pake guling-guling di tanah gini!" dumelnya membuat Naya tertawa.
"Bagus lah kamu teh, casting sana jadi artis!"
"Mana garatel ih Nay," Wati menggaruk-garuk kakinya.
Naya tertawa, "pasti atuh, da Naya liat mah tadi teh ada ee kucing atuh!"
Wati membeliak, "dasar ih!" Wati memukul-mukul lengan Naya.
"Udah ini mah kapok kesini lagi!"
"Eta rambut kamu masih ada daunnya," Naya membawa kepala Wati untuk menunduk, "kebawah dulu kepalanya, biar Naya guncangin rambut kamu, kali aja tiba-tiba ada ke bo ikut turun!" tawanya.
"Gelo ih!" omel Wati. Kedua gadis ini masih sibuk merapikan diri disaat dua pasang mata memperhatikan mereka dari tadi, Andro hanya bisa menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan keusilan istrinya.
__ADS_1
"Biang kerok Giri Mekar mah ya ini 2 mas, preman aja sampai begitu tadi!" pak Akbar terkekeh.
"Sendal Wati tadi mana, ceu?!"
"Bareng sama sendal Naya tadi, Wat! Udah ini mandi," jawab Naya.
"Mau mandi bareng ngga ceu? Kaya dulu?!" ajaknya tertawa tergelak mengingat masa-masa kecil mereka membuat Naya bergidik, "engga mau atuh!" Naya mendorong kepala Wati. Dulu mah Naya masih gadis sekarang mah beda!" Naya menyilangkan kedua tangan di dadha.
"Hahaha, kamu mah takut ketauan noda kerak neraka dari mas Andro, pasti penuh!" tawa Wati.
Pak Akbar mendekat bersama Andro saat Wati dan Naya saling menggoda, "jadi ini biang kerok orang gila baru kata si Otoy teh?!"
Jika dulu Pak Akbar akan menjewer kuping keduanya, maka kali ini ia hanya berani menjewer Wati dan membuat Naya tertawa mengompori, "sok pak sing kenceng! Kalo bisa sampe putus! Biar diganti pake kuping wajan!"
"Aduh ih, ceceu juga atuh pak! Da dalang kejahatannya juga si ceceu!" tunjuk Wati yang justru menarik cuping kuping Naya.
"Aduh ih!" Naya berusaha melepas tangan Wati.
"Susah senang bersama, ceu!" jawab Wati.
Keempatnya berjalan seraya Naya yang menceritakan kejadian barusan pada Andro dan pak Akbar.
Senja semakin menampakaan kejingaannya, "Mau mandi dulu atau nanti aja di rumah?" tanya Andro. Tawa Naya dan Wati terhenti, "kamu mau pulang ceu? Kirain nginep di Cianjur?"
Sebenarnya ia pun tak tau jika Andro memutuskan untuk pulang namun Kanaya hanya bisa mengulas senyuman, "iya. Nanti kalo ada waktu Naya kesini lagi, kamu kalo mantep mau ke Korea atau kerja lagi, telfon Naya....jangan sampe pergi tanpa pamit," jelas Naya.
"Naya harus kuliah, Wati. Kan katanya biar bisa patungan beli gunung di belakang kampung, masa kamu udah pernah nyicip keluar negri, Naya belum pernah nyicip cita-cita Naya," Puk---puk! Naya menepuk dan mengusap punggung Wati.
"Ada pertemuan pasti ada perpisahan. Ngga tau karena Wati yang kerja atau Naya yang kuliah sama nikah, Naya do'ain kamu dapet jodoh yang baik, yang mampu biayain hidup kamu sama keluarga kamu biar Wati teh ngga usah jadi tulang punggung lagi," Naya menghembuskan nafasnya panjang.
"Apa harus Wati teh kawin sama orang sini, siapa yang mau sama Wati kalo bukan Agus cs atau duda-duda kolot?!" balasnya, Naya sontak tertawa renyah diikuti tawa pak Akbar.
"Duda kolot disini ngga ada yang ganteng selain pak Akbar!"
"Saravvv si Wati mah! Saya bukan duda!" omel pak Akbar.
"Wat..."
"Ya ceu?"
__ADS_1
"Bisa dilepas ngga pelukannya, idung Naya mulai perih, perut Naya mual!"
"Kenapa kamu teh, flu?"
"Rambut kamu bau ee kucing," jawab Naya tertawa, Wati langsung mencebik dan menyapukan rambutnya.
"Gara-gara kamu ini!" omelnya.
"Kamu lulusan apa Wati?" tanya Andro.
"Smp kang, mana ada perusahaan di Indonesia yang mau nerima lulusan smp, kalo bukan jadi pembantu, ya udah kalo gitu...Wati pulang dulu ceu, mau mandi!" cebiknya berlalu.
"Dah Wati!"
"Kalo gitu saya ikut pamit juga Nay, mas Andro..." pak Akbar ijin pamit.
"Iya pak. Makasih ya pak."
Naya menatap Andro, "apa?" tanya Andro datar.
"Engga. Kenapa nanya-nanya Wati lulusan apa?"
"Ngga boleh ya?" Andro malah balik bertanya.
"Ya boleh. Nay kira mas mau rekrut Wati buat kerja di angkringan atau Route '78?" Naya masuk ke dalam halaman rumah.
"Bisa---bisa! Bisa mas kabulin! Buat Naya apa yang engga?!" goda Andro di tertawai Naya, "mas ih geli ih, liat orang cool gombal!"
.
.
.
.
.
__ADS_1