
Kanaya yang dipindahkan begitu saja sontak tak terima, ia langsung mengejar Andro dan melompat tepat ke arah punggung suaminya itu mirip anak lu tung, "mas ihhh! Curang!!"
"Apaan nih?!" Andro tertawa dan refleks menahan pan tat Naya, takut jika istrinya jatuh dan membahayakan janin mereka.
Permainan bukannya berlanjut, para bocil justru malah menertawakan kejadian itu, "ahahahahaha, tante Nay kaya anak mo nyet di gendong om Andro!"
"Kaya Azil digendong papa!" kikik Azil, begitupun Yesi dengan gigi ompongnya yang sudah tergelak minta juga digendong oleh Andro.
"Om Andro gendong, om Andro!"
Naya tertawa renyah padahal awalnya ia kesal, "mas ih turunin!" jeritnya.
Shania mendengus terharu melihatnya, ia sudah bahagia dengan sang ex guru kimianya Arkala Mahesa, dan kini ditambah oleh Galexia yang sudah berumah tangga, pun memiliki anak.
Lalu Andromeda dengan Naya, do'anya hanya satu semoga anak-anaknya diliputi kebahagiaan selalu.
"Nanti ayah sama momy nyusul pas hari kamu launching bareng om Teguh, om Priyawan, sama om Nino."
Andro dan Naya berangkat duluan 2 hari sebelum launching Angkringan, untuk cafe Route '78 ada sentuhan baru dari Andro dan itu masih ia rahasiakan dari Naya.
"Terus kalo owner yang lain gimana mas?" tanya Naya sudah menaruh beberapa pakaian dan barang yang akan ia bawa ke Giri Mekar. Kanaya memang tak pernah tau dengan urusan pekerjaan Andro, bukan ia tak peduli hanya saja ia tak sampai sekepo itu mengurusi pekerjaan yang tak ia mengerti.
"Besok." Andro menyalakan mesin mobilnya lalu berangkat menuju Giri Mekar.
Sudah menjadi kebiasaannya, menge mutt permen lalu membuka kaca jendela selebar dunia saat berkendara demi menetralisir rasa mual. Naya nuga menghirup aroma teraphy agar penciumannya teralihkan, meski tak menghilangkan setidaknya bisa mengurangi.
Perjalanan yang dulu terasa jauh, kini sudah mulai terbiasa saking seringnya Andro menempuh jalanan dari Jakarta menuju Giri Mekar. Pepohonan aja berasa say hay saking udah akrabnya!
Di awal gerbang masuk desa, Naya sempat menjatuhkan pandangannya pada lapang yang biasanya kosong, kini terisi oleh pasar malam yang masih tutup.
"Kayanya ada pasar malam disini, mas."
"Hm." Andro membanting stir masuk ke dalam gerbang desa.
"Wah, makin rame dong mas. Biasanya kalo ada pasar malam, orang-orang dari kampung lain juga ikut kesini, cafe di sebelah...." Naya menutup mulutnya cukup terpukau dengan apa yang dilihat.
Terakhir, saat ia lihat bangunan angkringan masih berbentuk rangka, tapi kini bentukan cafe yang modern dan cozy dengan dengan papan nama berfont Angelica, sudah berdiri.
...***Angkringan and Lesehan '78***...
"Mas, bagus banget! Cepet banget kerjaannya, terakhir Naya liat waktu sama Wati masih bentuk rangka...."
Andro sengaja masuk ke dalam pagar beraksen bambu persis rumah Naya, meski terlihat lebih kokoh dan artistik, dan menghentikan mobil disana, "terus! Kanan sedikit, op cukup!" teriaknya.
__ADS_1
Ada hansip desa yang Naya kenal dengan baju khas security, "pak Yayat?!"
Andro membuka kaca jendela mobil dan menyapa pak Yayat yang membantu mengarahkan parkir mobilnya.
"Sore mas Andro," ia mengangguk dalam tanda segan pada sang pemilik cafe. Lain halnya Andro yang membalas anggukan pak Yayat dengan pertanyaan, Naya sudah turun dari dalam mobil.
"Sehat pak?" tanya Andro.
"Alhamdulillah, mas."
"Pak Yayat!!!"
"Nay, wahhh ngga nyangka saya mah. Ternyata ibu bos saya teh kamu!" serunya.
"Eleuh si bapak, ganti seragam sekarang mah lah. Jadi mirip polisi! Bukan polisi hajat aja!" balas Naya.
Pak Yayat menyipitkan matanya tanda ia tertawa, "hidup mah harus terus maju atuh Nay, kemaren cuma bisa jadi polisi hajat sama hansip desa yang gajinya cuma seikhlasnya, sekarang mah jadi security cafe yang gajinya alhamdulillah..." jawabnya.
"Alhamdulillah, semoga betah pak. Do'ain aja cafenya laris!" jawab Naya.
Andro sudah turun dari mobil dan memperhatikan interaksi antara Naya dan pak Yayat.
"Sok atuh Nay, mangga. Mau liat-liat cafe!" ujarnya mengerti jika kepentingan Naya bukanlah untuk sekedar mengobrol dengannya.
"Iya pak. Mangga atuh...." Naya membungkuk hormat pada pak Yayat.
"Mas bisa ngajakin pak Yayat kerja disini?" tanya Naya tak percaya.
"Bisa, manager operasionalnya kan pak Akbar," jawab Andro.
"Ha? Iya?" Naya terkekeh senang, namun belum lagi ia merasa bahagia jika belum masuk ke dalam.
Baru menginjakan kakinya di halaman depan, beberapa bangku duduk kayu menyapa sebagai pilihan tempat outdoor berteman dengan pemandangan asri desa Giri Mekar juga udara yang masih terbilang cukup sejuk.
Bagi kaum milenial yang kerjanya duduk di rumah seharian, atau kesibukan yang tak henti-henti dan tingkat stress tinggi, tempat ini cocok sebagai tempat pelarian *healing sejenak*.
__ADS_1
Naya duduk di bangku kayu coklat tua yang berpelitur, macam bangku-bangku piknik keluarga, memposisikan dirinya sebagai konsumen.
Sementara Andro memperhatikannya geli.
"Pasti makanannya mahal-mahal!" Naya memicingkan matanya.
Senyuman miring menghiasi wajah Andro, "cek aja sendiri..." Naya bangkit dan melangkah duluan mendorong pintu kaca yang menampilkan isi dari Angkringan dan lesehan ini, semuanya nampak familiar baginya.
Tak meninggalkan kesan retro, namun bercampur kental dengan gaya angkringan di jogja cafe ini memiliki sentuhan tersendiri, di sudut cemilan yang menunya tersaji menghampar di gerobak angkringan, bergenre prasmanan.
Jadi, pelanggan dapat memilih sendiri lalu membayarnya di ujung, seperti konsep angkringan milik mereka sebelumnya.
Tak ubahnya angkringan, dengan disekat dinding kaca, ruangan samping terlihat banyak karpet-karpet tebal menghampar sebagai tempat para pengunjung duduk. Naya berjalan tak ubahnya siswa yang tengah study tour.
"Itu!" ia menoleh pada Andro.
"Lesehan '78...orang-orang yang nanti datang ke lahan agrowisatanya kamu, pasti bakal cari-cari tempat yang cocok buat makan. Orang-orang yang sibuk kerja di pabrik, akan mencari tempat yang cocok buat weekend dengan harga yang tidak menguras kantong, lebih ke harga warteg atau rumah makan liwetan."
Hawa sejuk dan wangi khas woody menusuk penciuman Naya saat memasuki ruangan ini, beda dengan tadi saat di Angkringan yang memang masih terlihat dari tempatnya berdiri yang beraroma vanilla khas kue.
Masuk ke ruangan ini, Andro seperti menawarkan suasana khas piknik keluarga, tak berbeda dengan Angkringan.
Menu yang dihadirkan disini bergaya warteg dengan makanan khas rumahan orang Sunda dan Jawa, bahkan ada paketan nasi liwet dan nasi kucing.
Naya menyambar buku menu, ia tertawa geli saat di antara jejeran tambahan lauk ada garam bakar yang dicantumkan.
Ia sampai memegang perutnya sendiri dan memukulkan buku menu pada Andro, "mas apa-apaan sih, masa ini masuk ke menu!"
"Karena semua ini terisnpirasi dari kamu..." jawab Andro, "Yang di pusat kota pun, masih dalam proses pembangunan...do'ain usaha mas lancar, jika menu-menu yang ada disini menjadi best seller dan konsep yang ditawarkan berhasil, mas akan bawa ini ke Jakarta dan kota lain..."
Naya tersenyum penuh haru, memeluk Andro sayang.
"Bawa garem bakar juga? Mas jangan malu-maluin!" Naya malah menangis kencang.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.