Jelajah Cinta To Andromeda

Jelajah Cinta To Andromeda
JCTA #84. BAPERAN


__ADS_3

Naya turun bergabung dengan bibi di dapur untuk menyiapkan sarapan, tapi memang dasar otak ceteknya saja sedang kesal dan banyak memikirkan ini dan itu tentang Andromeda yang tidak-tidak, jadinya ia tak konsentrasi.


"Neng, awas itu kebanyakan nanti asin!" tunjuk bi Yani menegur Naya yang tengah menuangkan garam hampir seabrek-abrek!


"Eh, astagfirullah!" Naya menghentikan taburannya lalu menaruh sendok, untung saja bi Yani segera mengerem gerakan refleks tangan Naya di atas wajan. Kalau tidak, satu rumah bisa darah tinggi karena masakannya yang keasinan.


"Ngelamunin apa hayoo!" colek Bi Yani.


"Bi, mas Andro tuh orangnya cuek banget ya...dingin!" keluhnya. Bi Yani terkekeh, "kenapa neng? Lagi berantem, ya?"


Naya menyenderkan pan tatnya di meja kompor, "diaebut berantem engga sih bi, cumannn kok lama-lama kesel ya sama sikap cueknya mas Andro, ngerasa kaya ngga dihargain..." keluhnya lagi, mungkin pada bi Yani lah ia bisa berkeluh kesah, soalnya kalo sama momy Sha jelas Naya akan segan.


"Mungkin yang menurut kita cuek, menurut pandangan mas Andro itu biasa aja. Mas Andro memang cuek orangnya. Maka kita yang harus mengerti...neng, yang namanya menikah itu menyatukan dua sifat, karakter, prinsip, dan keluarga yang berbeda. Bukan perkara mudah, karena sejatinya semua pasangan akan terus belajar saling memahami, jika mas Andro sudah memilih neng Naya itu artinya mas Andro yakin kalau neng Naya bisa memahami pribadi mas Andro yang sudah begitu bawaan dari orok, begitupun sebaliknya...." jelas bibi.


"Kalau memang neng ada uneg-uneg, sampaikan saja. Karena mas Andro bukan cenayang, kalau memang dia tak peka maka kita wajib mengingatkan."


Naya menghela nafasnya, bi Yani benar. Ia mungkin terlalu baper saja akhir-akhir ini, toh biasanya Andro cuek Naya biasa-biasa saja.


Matanya tak sengaja jatuh ke arah jam dinding dan langsung terjengkat, "ha, ya ampun! Naya telat bi!"


Naya segera memasukan sarapannya ke dalam kotak makan, "ngga sarapan dulu, neng?"


"Telat bi, Naya harus datang pagi, mau ketemu Geby dulu di warteg deket kampus. Ada tugas yang Naya titip di Geby," ia tergesa hingga tak sempat sarapan juga melupakan ponselnya.


"Nay, kok buru-buru?" Shania keluar dari kamar dengan membawa nampan obat.


"Telat mii, gimana ayah?" salimnya takzim.


"Baikan, Andro kemana? Udah pergi?" Naya menggeleng tak tau.


"Loh, kok?!"


"Naya pergi ya mii, asaalamu'alaikum!"


"Mau berangkat naik apa?! Dianter pak Samsul?!" teriak Shania.


"Engga mi!"


Naya meloloskan nafas berat, "bismillah!" ia memasukan kunci motor milik Andro dan mendorong motor besar itu ke depan, "pak Samsul, maaf lah bukain pager, Naya udah telat!" gadis itu memakai helm dan pergi dari rumah.


"Siap neng! Udah bisa gituh, ngendarainnya? Mau bapak anter?"


"Ngga usah!" jawab Naya melambaikan tangan di udara.


Deru mesin motor bergaung bersama wanita imut namun gahar yang mengendarainya.


Secepat apapun Naya membawa motor, tetap saja akan terlambat jika jalanan macet terkesan padat merayap.


"Aduhh, Naya teh lupa kalo jam segini mah Jakarta udah macet!" ia menthesah kasar seraya menggerung-gerung motor, mencari celah untuknya bisa lewat.


Sementara di Giri Mekar, Andro berdecak setiap kali nada tunggu menyapanya saat menghubungi istri nakalnya, Kanaya.


"Tumben hapenya ngga aktif?! Kemana sihhh!" Andro lumayan kesal kali ini.


"Naya kuliah Ndro?" tanya teh Marni melihat adik iparnga itu di dapur, lalu diangguki Andro.


"Ya udah ngga usah diganggu dulu. Mungkin sibuk," ucap Marni lagi.


Lantas Andro menghubungi momy Shania untuk menanyakan Kanaya.


(..)


"Loh, momy kirain kamu ijin sama Naya. Pantes aja dia ngga tau waktu momy tanya kamu kemana?!"


Shania menghela nafasnya, ia perlu meluruskan sesuatu pada putra tampannya itu, sehebat apapun Andro, ia tetap manusia yang baru belajar berumah tangga dan tugas Shania sebagai ibu untuk memberitahunya, "Andro, dengerin momy, selama momy menikah sama ayah....seburu-burunya, sesibuk-sibuknya ayah, dia ngga pernah sampe ngga ijin, kemanapun, sekalipun momy tidur. Pasti bangunin," Shania menjeda ucapannya selagi Andro mendengarkan.


"Amit-amitnya kalo ada apa-apa sama salah satu dari kita, setidaknya pasangan tau saat kita pergi...ngga kaya sekarang, kamu sama Naya...kalo udah kaya gini gimana, kalo Naya punya pikiran jelek terus jadinya salah paham gimana?" lanjutnya.


Andro mele nguh berat, merasa jika tindakannya kali ini bisa dikatakan salah.


Naya mau tak mau digiring ke barisan mahasiswi yang mangkir dari tugas, karena terlambat yang berujung dengan ia yang tak membawa tugas.



Salahnya, kemarin ia malah menitipkan tugas miliknya pada Geby dengan alasan ribet dan jarak rumah Geby ke kampus lebih dekat, alhasil hari ini tak sempat bertemu karena terlambat dan akhirnya Naya kena hukuman.



Udah kesel karena Andro yang tak ijin pergi, sekarang ia harus terlambat dan kena hukuman, lalu berjemur yang bikin kepalanya semakin kleyengan, mana belum sempat sarapan. Kayanya semalam Naya mimpi buang air deh! Terus ngga gurat tanah tadi pagi, makanya si al!


__ADS_1


"Ngga bisa lebih si al lagi gituh ni hari?!"



Tanpa menunggu waktu, Tuhan mendengarkan pintanya dengan mengirimkan Ruri, "yang tidak mengerjakan tugas mos, masuk ruang eksekusi!" teriaknya dari pelantang toa.



"Kamu!" tunjuk si cepak mohawk itu pada Naya. Rambutnya itu bagus buat arena trek balapan kutu.



"Semahal itu harga helm, sampe helm aja mesti dibawa-bawa?!" tunjuknya ke arah lengan Naya.



Terang saja Naya membawa helmnya, namanya juga panik ye kan...baru dateng udah digiring baris di lapang.



"Maaf kak, tadi belum sempet naro karena langsung dibaw...."



"Saya ngga butuh penjelasan kamu. Apapun itu, kamu tetap salah! Masuk!" bentaknya.



"Iya kak," keduanya bersitatap dan sempat tak berjarak ketika Naya melewati Ruri begitu saja, namun sejurus kemudian.



Huwekkk!



Naya tiba-tiba muntah di dekat Ruri, meskipun muntahannya itu hanya berupa teh manis yang sempat ia minum tadi pagi.



"Eh!"




"Kamu sakit, apa gimana? Kenapa ngga ijin?!" tanya Ruri. Naya menggeleng dan menggidikan bahunya hingga membuat Ruri melepaskan tengkuk Naya.



"Sorry,"



"Medis!"



"Kamu ikut medis aja ke unit kesehatan, untuk hari ini... kamu, kita kasih toleransi." lanjutnya lagi.



"Makasih kak," Naya mendongak dan menatap netra hitam Ruri lagi yang kini telah menghangat padanya.



Naya duduk di barak medis, tak banyak yang berada disana, hanya beberapa orang saja yang memang merasa kurang sehat.



Naya membuka kotak makan miliknya yang belum sempat dimakan, mungkin karena faktor ia yang belum sarapan jadi muntah-muntah.



Baru saja 2 suapan, perutnya merasa tak menerima rasa dan bau nasi goreng buatannya sendiri, "kok bau ya!" gumamnya, Naya bahkan membaui nasi yang masih hangat itu dan hasilnya rasa mual malah naik ke atas tenggorokan.



Naya menutup dan menyimpannya kembali ke dalam tas dan berbaring di atas brangkar tipis nan keras.


__ADS_1


"Mau telfon pihak rumah?" tanya seorang senior bagian kesehatan.



Naya menggeleng, "ngga usah kak. Biar saya balik ke kelas aja,"



"Emang kuat?"



Naya mengangguk, "kuat."



Waktu istirahat Naya pakai untuk jajan makanan yang menurutnya *tak berbau*. Bahkan Geby menganga melihat bungkus berserakan bekas jajanan Naya, "kamu ngga sarapan, Nay? Ngga niat pesen nasi gitu?"



Naya menggeleng, "bau!" jawabnya singkat.



Motor trail berhasil pulang dengan selamat, tanpa harus mampir terlebih dahulu ke bengkel atau nyuksruk di dalam selo kan.


"Assalamu'alaikum!"


"Wa'alaikumsalam. Nay, kata Andro hape kamu mati?"


Naya berhenti sejenak demi memandang mertuanya yang sedang bicara padanya.


"Iya mii."


"Katanya Andro lagi di Giri Mekar, urusin kasus Teh Marni, si bule arab datang katanya, semalem pak Akbar ada telfon Andro, jadi Andro kesana sama Gem,"


Naya mengernyit, "bule arab?"


Shania mengangguk, "iya. Orang yang dituntut karena udah siksa teteh kamu."


Kanaya segera bergegas ke kamar, bahkan ia tak perlu repot-repot mandi, hanya mengganti pakaiannya dengan celana jeans, dan kaos juga kemeja lalu turun kembali ke bawah.


"Mi, Naya ke Giri Mekar sekarang!" ujarnya tergesa.


"Eh! Jangan atuh, biar Andro sama Gem aja yang urus, disana juga banyak orang, ada pihak berwajib, ayah juga ada koneksi ke kepolisian! Nanti kalo ikut kuliah gimana?"


"Naya cuti sakit aja, mi. Kebetulan tadi Naya...." Naya mengurungkan niatannya berucap.


"Kamu kenapa?" kening Shania berkerut.


"Engga mii, ngga apa-apa!"


"Mau naik apa, jangan atuh ah! Takut celaka ah, dianter pak Samsul aja!"


Tapi Naya sudah beranjak dengan helmnya.


"Ih, mantu nakal! Naya! Aduh...." Shania menyusul ke depan.seraya menepuk jidatnya.


"Neng, jangan nyusul atuh apalagi pake motor, kamu kan belum lancar!"


"Tenang aja mii, Naya bisa pelan-pelan. Tadi aja selamat sampe rumah lagi kan?!"


"Alhamdulillah, bukan tenang aja!" sewot Shania.


"Jadi tadi ke kampus pake??" lirikan matanya ke arah motor Andro. Naya mengangguk, "kuda besi mas Andro."


"Aduuhh, tapi ini mah jauh atuh neng. Kalo ada polisi gimana?!"


Naya melirik jam di tangan, "jam segini polisi istirahat!" jawabnya menstater motornya.


"Pak Samsul, buka pagernya dongggg!" jerit Naya berseru.


"Ampunnn, ngga anak ngga mantu, bebal! Natckalll mirip siapa sih, karma Sha gitu ya ?!" gumam Shania berdecak masuk, "mas! Itu mantu mas gera ih! Nyusulin si ganteng ke Giri Mekar pake motor!"


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2