
"Iya pak. Iya."
Mata bulat coklat Naya melihat gerak-gerik Andro saat sedang berbicara dengan pak Akbar, terlebih saat beberapa kali Andro yang masukin tangan sebelah ke saku celana sambil menatapnya dengan sorot mata penuh pengawasan nan tajam, kaya burung elang lagi ngawasin buruannya, sampai-sampai Kanaya melihat dirinya sendiri, kenapa sih?!
"Biar nanti saya transfer uang kirimnya, makasih pak sebelumnya. Assalamu'alaikum..."
Andro menaruh ponsel di meja, sementara Kanaya yang melihatnya merasa gugup, panik hingga menelan saliva sulit, apakah Andro tau jika ia kabur?
Andro memandang gadis itu lama dengan penuh arti membuat Kanaya berdehem memutus kontak mata Andro, "bapak kenapa ngga ngomong mau kasih hape ke saya? Tau gitu kan saya ambil tadi pagi pas ketemu pak Akbar sebelum kesini! Hape saya tuh, gimana nasibnya! Hapeeee---" rengeknya, baru juga mau bilang rejeki anak soleha, eh! Yang ngasih malah ngga ngomong, ikhlas ngasih ngga sih sebenernya si bapak-bapak hot?! Padahal nih tangan udah gatel pengen sentuh-sentuh benda pipih pintar dengan layar tonjok itu!
"Yakin kamu bakalan terima? Dijajanin aja kamu embuh, giliran Upa yang nawarin baru kamu mau. Lagian mana saya tau kamu mau kabur kesini buru-buru," ujarnya membalas seraya beranjak dari duduknya dan meraih ponsel di meja.
DEG!
Kanaya membeliak, sepertinya pak Akbar barusan bilang. Itu artinya nama Naya sekarang sedang jadi trending topic di desa Giri Mekar karena ninggalin duda kebelet kawin.
"Bapak tau?" Kanaya ikut beranjak dan mengekor masuk.
Andro menghentikan langkah dan berbalik tanpa aba-aba, membuat Kanaya hampir menabraknya kalau ia tak mengerem dadakan.
"Wush! Untung rem pakem!" tukasnya mendongak terkejut.
"Saya ngga negur kamu bukan berarti dukung ide gila kamu yang kabur-kaburan gini, tapi karena saya rasa kamu pantas untuk berusaha gapai cita-cita disini....cepet siap-siap! Saya anter ke kontrakan!" ucap Andro datar, ia kembali berbalik dan berjalan masuk. Kanaya patut tersenyum selebar bahu jalan, biar dikata sedingin cairan nitrogen, biar dikata sedatar papan nisan dan menyebalkan, Andro adalah lelaki tampan dengan dua lubang hidung, 2 mata, dan satu mulut sexy yang baik. Tidak terhitung sejak beberapa hari mengenalnya berapa jumlah kebaikan Andro padanya tanpa meminta balasan meskipun terkadang ia selalu usil menghitungkan jasanya, Andro juga tak pernah menunjukan gelagat so manis di depan Naya seperti ingin dipuji-puji.
Sedetik kemudian Kanaya meloloskan nafas panjang, nervous. Tiba-tiba saja hatinya berdegup kencang dengan pipi merona menatap punggung Andro. Punggungnya loh! Tapi bikin hati ser-ser'an! Duh bapak-bapak, emang hot! Apakah kini Kanaya sudah beralih selera? Jadi suka bapak-bapak? Ia terkekeh sendiri, "efek kabur dari bapak-bapak! Nyungseb di rumah bapak-bapak, bapak mana bapak mana, dimanaaaa?!" gumamnya.
"Onta, tante Diba di rumah kan?" tanya Andro, bukan hanya Guntur yang menoleh.
"Ada. Lagi ngawasin orang panen jengkol!" jawab Guntur santai.
"Ada perlu apa, Ndro?" tanya Arka ikut bersuara.
"Kanaya mau ikut ngontrak disana, ada yang kosong kan onta?" tanya nya, diangguki Guntur, "ada kayanya." Gale menghentikan kunyahannya lalu menatap Shania dan Fatur kemudian ayah Arka, "kenapa ngga disini aja?" pertanyaan yang sungguh membeokan dari seorang dokter.
"Wah, efek kebanyakan makan micin nih!" geleng Deni.
"Kanaya kan perempuan, masih gadis. Sementara Andro lelaki, masih bujang, sayang. Apa menurut kamu itu hal wajar?" tanya Fatur.
Arka mengangguk setuju, "iya. Sebaiknya memang dianterin, udah mau sore---"
Andro tersenyum miring mencibir, "hati-hati bang. Untung langsung dinikahin, kak Le kalo dibawa kabur orang kayanya mau-mau aja tuh!"
"Sembarangan! Iya gue lupa!" balas Gale.
"Nay, besok kesini lagi! Gue ngga percaya nih laki, elo ngga diapa-apain kan?" tanya Gale ke arah gadis yang terhalangi punggung Andro.
Kanaya menggeser posisinya, "iya teh. Kan belum diinterview sama bu Shania, belum dit---"
__ADS_1
"Saya terima, besok kesini aja. Masalah training sama teknis kerja besok aja!" bukan Shania, namun Deni yang bersuara dengan mata dan tangan yang sibuk ke arah laptop.
Kanaya mengerjap tak percaya jika semudah itu ia diterima, padahal belum juga menyerahkan persyaratan kerja, tapi udah langsung di acc kerja, sedahsyat itu kekuatan orang dalam!
"Bener pak? Alhamdulillah!" serunya refleks mengguncangkan lengan Andro, "pak, saya diterima dong! Bapak mau saya traktir apa nanti waktu gajihan?!" serunya mengerjap manis, se senang itu Naya. Bukan hanya Andro yang cukup terkejut namun juga para penghuni ruang keluarga.
"Ngga usah," jawab Andro, "bukannya kamu mau kuliah, terus kirim ke orangtua buat biaya makan sama sekolah adik kamu?" lanjut Andro.
"Oh iya, bapak bener! Buat bayar utang ngontrak juga ya pak?!" serunya. Shania menatap Arka dengan sorot mata getir tak percaya, gadis itu----Shania langsung menatap Andro, seolah ingin menyemburkan begitu banyak pertanyaan tentang siapa Kanaya.
"Sha ikut ya mas nganterin Kanaya," Shania ikut menyela.
"Gale ikut mi,"
"Oma, kakak ikut!"
"Dek Liyah ikut!"
"Ck. Ikut kabeh atuh ini mah, janganlah! Riweuh atuh oma ah!" balas Shania sudah beranjak, "kamu tunggu aja disini, tungguin suami momy, takut digondol janda!" ucap Shania.
"Sha," tegur Arka.
Kanaya tertawa kecil melihat calon bosnya yang jarang menyaring ucapannya itu.
"Yaaaa, oma ah ngga asik ah!" dumel Fifah.
Kanaya mengangguk cepat, merasa nyaman dengan emak-emak bar-bar satu ini, rasanya seperti sedang bersama ibu...aahhh! Ibu gimana kabarnya? Apakah baik-baik saja saat ia meninggalkan kampung?
Bu, Naya belum berani pulang kalo belum bisa bawa uang. Batinnya.
Kanaya menyalami Gale, Arka, Deni, Guntur, dan Fatur juga mencubit pelan pipi Arion.
Kanaya berlalu bersama Shania ke luar rumah dan menunggu Andro di teras rumah.
"Bu, makasih ya. Naya seneng banget bisa dapet kerja! Ya walaupun belum tau kerjaannya kaya apa, tapi seenggaknya Naya punya harapan buat bisa menggantungkan cita-cita..."
Shania menatap gadis di depannya, ia jadi ingat dirinya dulu. Hanya saja beda kasus, jika dulu ia sempat tak bisa meraih cita-cita karena menikah dan punya anak di usia sekolah lain halnya dengan Kanaya yang terkendala masalah biaya.
"Sama-sama. Kalo boleh tau usia kamu berapa?"
"19 tahun. Baru keluar sekolah sekitar 1,5 tahun lalu."
Shania duduk di kursi teras, "berapa bersaudara?"
Tak ada kesedihan yang ditunjukan Naya, ia justru menjawabnya dengan raut wajah polos dan apa adanya, "3, teteh saya jadi TKW di Arab, saya anak kedua, jadi punya adik satu lelaki masih kelas 5 SD, teh Marni punya anak satu, perempuan masih kecil..." jelas Naya.
Shania berohria.
__ADS_1
"Yuk," Andro keluar dengan jaket tanpa ia resletingkan, kemudian celana selutut dan topi yang menutupi kepalanya.
Jantung Kanaya kembali berdegup kencang melihat lelaki matang yang tampan itu, Andro tampannya Indonesia punya, kulit yang ngga putih-putih amat bikin hati Kanaya makin kelojotan.
"Gusti, ck---ck! Kasepna si bapak," tanpa sadar kalimat itu terlontar dari mulut kecilnya.
Shania mengulum bibirnya mendengar ucapan Naya, "masih lucu kaya di poto engga? Kamu suka engga?" godanya, membuat Kanaya tertawa garing merasa awkward di tembak begitu.
"Astagfirullah, punteun bu punteun aduhh, saya mah emang hampuraeun! Suka seneng becanda," Kanaya mengetuk-ngetuk kepalanya di tertawai Shania, sementara Andro yang telah duluan memanaskan mobil, memberikan klaksonnya pada kedua perempuan itu.
๐ Giri Mekar๐
"Saya mah ngga mau tau! Ganti rugi semua biaya yang sudah saya keluarkan! !" Pak Agung dengan murkanya memarahi bapak Naya. Kabar berita itu sampai di telinga bu Lurah dan Salman.
"Jadi si Naya teh ngga jadi nikah?! Katanya mau kawin sama orang kota itu tea?!" bu Lurah berkata dengan nada sewot, tak akan ia biarkan gadis itu kembali mendekati putranya.
"Nay, kamu teh sampe kabur? Kemana kamu neng?!" Salman menghela nafasnya.
.
.
.
.
.
Noted :
\*Kabeh : semua
\*kasep : ganteng
\*punteun : maaf
\*hampuraeun : selalu butuh dimaafkan.
__ADS_1