
Andro menjabat tangan pak Acep mantap, "saya nikahkan dan kawinkan engkau Andromeda Putra Mahesa dengan putri saya yang bernama-------"
Shania bahkan tak bisa berkedip dengan benar, bukan karena beban maskara yang melebihi beban batu pondasi, namun karena kini putra kebangaannya sedang mengucap janji di depan Allah.
Shania bahkan mere mas tangan Arka saking tegangnya, "mas, kira-kira Andro keceletot ngga ya ijabnya, lancar ngga ya? Kok Sha yang takut!" ujar Shania, oma 3 cucu ini menelan saliva sulit memandang Andromeda, putra yang selama ini sudah ia urus, ia lahirkan, ia besarkan penuh cinta, setetes air mata membasahi ekor matanya. Kalo ada singkong mungkin udah ia kunyah saking gugupnya.
Arka menoleh penuh kelembutan, "Andro bibitnya mas, so pasti ngga akan gagal!" jawabnya.
Shania mencubit lengan suaminya, "tapi yang ini kepanjangan mas, maharnya tuh ngabisin satu buku kimia!"
Wajah-wajah pendahulu Kurawa tegang bukan main, pasalnya sejumlah mas kawin yang harus Andro sebutkan cukup panjang mirip-mirip rel kereta api. Tapi saat Andro mengeluarkan suara sedalam lautan tak berdasarnya memenuhi setiap sudut masjid tanpa hambatan apapun dengan lancar, wajah-wajah penuh ketegangan itu sirna....berubah menjadi lega dan haru, namun tidak dengan bu lurah dan Salman yang menganga di tempatnya mendengar sederet mahar yang Andro berikan.
"Bagaimana saksi, sah?" tanya penghulu pada pak lurah yang berperan sebagai saksi.
"SAHHH!"
"Alhamdulillah!"
"Wuhuuuu! Sah Ndro! Sah! Siap-siap panen enaknya!" seru mereka tertawa.
Andrew, Yuda dan Enzi turut hadir disana, "gila yak! Ngga nyangka banget, bapak Andro kita ini malah jadi sama cewek gembala, padahal waktu ketemu ngga keliatan hawa-hawa mau pedekatean, malah cuek! Dua-duanya malah kaya musuh!"
"Alhamdulillahirabbil'alamin...." pak penghulu membaca do'a bersama dengan mereka semua menengadahkan kedua tangannya.
Tapi kemudian mereka mengernyit dengan ketidakhadiran mempelai perempuan. Sementara di jalanan dekat masjid, "Jangan muntah ceu jangannnnn!" teriak Arif, ibu dan Upa yang melihat wajah pucat Naya.
"Gimana atuh?" pak Akbar sebenarnya ingin tertawa tapi takut dosa di situasi begini pula.
"Naya jalan aja lah bu, udah deket kan?! Kita juga ngga tau ini macetnya sampe kapan?!"
"Yakin?!" tanya bu Dewi, Naya mengangguk mantap daripada ia tepar, orang resepsi manten perempuannya malah ambruk karena mabok, kan ngga lucu!
"Ya udah atuh sok! Hati-hati!" akhirnya ibu mengijinkan Naya untuk berlari ditemani Arif di belakangnya.
Sore-sore kita Cianjur di hebohkan dengan penganten yang lari-lari menuju masjid. Ada yang tersenyum geli, tertawa tergelak, syok lahir batin, dan memvideokan adegan itu lalu memasangnya di sosial media masing-masing, namun Kanaya bo do amat, yang penting ia sampai di masjid dengan selamat.
"Kakak Kartininya mana, oma, bunda?!" tanya Afifah kebingungan seraya mengedarkan pandangan.
Disaat semua celingukan dan terkesan sedikit gaduh karena sang mempelai perempuan tak hadir, dari ruangan lain...tiba-tiba terdengar musik yang mengalun lembut, a thousand years milik penyanyi Christina Perri.
Hingga sejurus kemudian, pandangan semua orang kini menoleh ke arah pintu masuk masjid dimana seorang perempuan berdiri tanpa alas kaki dan berjalan pelan sepaket wajah gugup dan dadha yang naik turun.
Bibir merahnya sesekali terbuka sedikit demi meraup nafas yang terasa sesak, kakinya boleh saja tanpa alas, namun kaki-kaki bersih itu melangkah semakin indah karena dihiasi oleh gelang kaki emas yang sebelumnya Shania berikan.
Kebaya simpel tak banyak menjuntaikan ujung-ujung panjang yang bisa nyapu ubin masjid melekat pas di badan Kanaya, wajahnya cantik mulus tanpa cacat hanya mungkin sedikit berkeringat karena ia setengah berlari menuju masjid dari jalan besar.
Kerah kebaya sabrina menampakan tulang se langka Naya yang indah bersama kalung yang juga Shania berikan tempo hari, pipi-pipi merona berpadu cantik dengan mahkota siger diatas sanggulan rambut hitam dan untaian melati, netra bulat itu memandang dimana Andro berada bersama bapak, ada rasa haru bercampur aduk di ruang dadha.
__ADS_1
"Nay..."
Gleuk!! Andro begitu berusaha menelan salivanya.
"Naya..." begitupun Salman yang ikut terperangah melihat Naya, begitu besar rasa penyesalan dalam dirinya.
"Maaf Naya telat pak eh mas..." Kanaya mengerjap salah tingkah melihat Andromeda yang gagah dan kini sudah sah menjadi suaminya.
"Hahaha!" Guntur menyemburkan tawanya yang langsung dipelototi Shania.
"Alhamdulillah, sok atuh neng di tanda tangani dulu!" ujar pak penghulu, Naya sampai harus diam terlebih dahulu sambil mengibaskan tangannya di depan wajah karena mendadak otak kecilnya itu blank, wajah bapak-bapak hot ini bikin oleng, ditambah lari-lari memakai kebaya untuk kesekian kalinya bikin Naya hampir semaput. Bukan lari karena kabur, melainkan lari untuk menyambut.
"Nah sekarang mah sudah sah, mau panggil aa, kang mas, sayang, atau honey kalo jaman sekarang mah, udah boleh neng!" kelakar pak penghulu. Gadis itu diminta memasangkan cincin di jari Andromeda begitupun Andro yang memasangkan cincin di jari Naya.
Untuk kali pertamanya, Kanaya merasa gemetar meraih tangan seseorang terkhusus lelaki, karena kini ada tanggung jawab yang membebani pundaknya sebagai seorang istri Andromeda lantas Naya menyalaminya takzim, ia semakin dilanda demam tinggi saat Andro mengecup keningnya tipis yang sontak mengundang seruan riuh dari tamu yang datang, seperti ada sengatan lebah kecil yang memantik keseluruhan organ tubuhnya untuk tersentak.
Keluarga Kanaya yang lain baru saja datang setelah berjuang karena kemacetan parah di dekat masjid sana karena sebuah kecelakaan lantas, dan kini mereka sedang melakukan prosesi serah terima barang seserahan dari pihak keluarga Andro yang se-abrek-abrek.
Mendadak bu Lurah panas dingin melihatnya, kayanya sih gula darah naik gara-gara liat mahar dan barang seserahan Naya dari Andro, fix! Balik dari sini langsung medical check up!
Pihak WO menggiring dan menginterupsi tamu undangan untuk keluar, untuk menyaksikan pelepasan puluhan balon berwarna pink, putih, silver dan hijau mint.
Sontak saja hal itu memancing kegembiraan keluarga terutama anak cucu Kurawa Pandawa, Upa bahkan sudah berlari bersama Arif menyusul si kembar Afifah dan Aliyah keluar masjid takut tak kebagian balon, "kak Fifah, kak Liyah!" teriak Upa.
"Cepet Upa!" ajak Liyah melambaikan tangan cepat.
Naya menyeringai usil, "orang-orang atau mas?" cubitnya nakal di perut Andro, Andeo berdecak memegang tangan nakal Naya, "iya. Saya!" gerutunya.
Kanaya tertawa kecil, "tadi pak Akbar udah nyoba buat nelfon pak Deni, tapi kayanya ponselnya di silent. Mau nelfon mas batrenya abis. Lagian mas tau sendiri Nay ngga bisa lama-lama naik mobil, tadi aja ampir-ampiran mabok, jadi Nay jalan kaki kesini,"
Ingin sekali Andro menjitak kepala Kanaya yang mabok ngga tau waktu itu.
"Naya juga lupa cas hape, mas." Ia nyengir kuda menatap wajah datar Andro.
"Kamu datang ngga pake sendal? Selop kamu mana?" tunjuk Andro ke arah kaki-kaki telan jank Naya.
Ia kembali tertawa renyah, "tadi Naya lari mas, pake selop gitu susah lah, jadi Naya nyeker...pas di depan sana kaki Naya dicuciin sama akang-akang sama teteh yang batikan," tunjuknya lagi ke arah depan masjid.
Andro menghela nafasnya, begini nih kalo mempersunting tarzan wati, bawaannya telan janggan. Lalu Andro menarik dan melingkarkan tangan Kanaya di lengannya untuk kemudian berjalan bersama ke area depan masjid, "biar ngga bikin panik orang terus!"
Kanaya mendongak melihatnya dan tak lama tersenyum gemas nan geli, "gandengan gini kaya truk,"
"Anggap aja lagi gandeng orangtua," balas Andro, Kanaya tergelak, "mas loh yang ngomong, bukan Nay..."
Saat keduanya keluar, seruan menggema bersama tepukan tangan mirip-mirip nepukin merpati yang lagi balapan.
Potret kebersamaan itu tentulah tak luput dari jepretan kamera dokumentasi.
__ADS_1
Pihak WO menyerahkan balon hidrogen pada Andro dan Naya, untuk nantinya diterbangkan bersama-sama sebagai simbol menerbangkan do'a dan harapan.
Disaat suara renyah nan empuk mc masih melangitkan do'a dan memberikan intruksi pada para tamu, keluarga dan kerabat, Andro menoleh pada Kanaya yang juga memandangnya.
Sejenak dunia seakan terhenti untuk keduanya, degupan jantung seirama menghasilkan perasaan membuncah diantara kedua insan ini.
1....2....3....!!!!!
Lamunan keduanya dibuyarkan oleh suara tepukan tangan dan teriakan euforia bahagia dari sekitarnya seiring bulatan-bulatan berwarna-warni itu mengisi langit jingganya Masjid Agung Cianjur.
"Wahahahah bagus!"
"Kerennn!"
"Bagus ya, A!" seru Desi, "foto dong A!" pinta Desi pada suaminya.
"Pak, sudah waktunya ke tempat resepsi..." bisik WO.
"Kamu naik mobil mas sama momy sama ayah, biar nanti yang lain nyusul pake mobil lain..." ujar Andro, Naya yang fokusnya menatap langit kini menoleh masih dengan senyuman lebarnya, "hah? Kemana?" beonya.
"Ke kamar!" jawab Andro menyentak yang dihadiahi cebikan Naya.
"Ndro, duluan sama momy sama ayah...gue yang beres-beres disini, nanti keluarga Kanaya nyusul bareng kita-kita!" ucap Gale diangguki Andro.
"Yuk!"
Kanaya mengangguk, namun Andro menghentikan langkahnya saat menyadari jika Kanaya tak memakai alas kaki, "sendal kamunya mana?"
Naya celingukan bingung, "tadi dititip sama siapa ya ?! Lupa mas, abis tadi buru-buru takut telat..." jawabnya meringis.
Di luar dugaan Naya, dalam sekali gerakan bapak-bapak hot ini telah begitu berani menggendongnya di depan semua orang hingga ia menjerit terkejut, "Ehh! Mas!"
"Waduhh! Waduhhh! Baru aja sah udah maen gendong-gendongan!" goda Yuda.
"Udah kebelet ngamar Yud!" tawa Andrew.
Kanaya menunduk malu dan menepuk dadha Andro, tapi seperti tak memiliki malu, lelaki ini acuh saja berjalan dan menggidikan bahunya seolah tak peduli dengan ucapan dan kelakar yang mencibir. Ia berjalan ke arah parkiran dengan menggendong Kanaya, "mas ih malu! Nay bisa jalan sendiri, tadi aja dari depan sana lari ngga pake selop kok!" ia menyembunyikan wajahnya di dhada Andro hingga hampir tenggelam, wajahnya sudah benar-benar merah karena malu sekarang.
.
.
.
.
.
__ADS_1