
Ex guru kimia ini tuh... udah kaya pawangnya gerombolan meerkat yang berisik, doyan makan, doyan bikin kerusuhan. Niat hati keluarga inti doang, ini malah kaya ngajakin nobar voli tarkam.
Shania memasukan kotak cantik satu set perhiasan emas putih yang menurutnya simpel untuk dipakai Kanaya. Bukan barang seserahan pada umumnya yang Kurawa bawa, melainkan kawanan cucu, termos dan cemilan. Namanya juga dadakan iye kan? Sebut saja mereka hendak piknik singkat sambil anterin bungsunya mamak Sha lamar anak gadis orang, karena satu fakta menarik yang mereka temukan adalah....desa Giri Mekar dekat dengan kawasan wisata curug. Bukan batik ataupun kebaya namun kaos Pawon Kurawa saat family gathering edisi 2 bulan lalu sebagai seragam dadakan mereka, mirip timses partai.
Bahkan Naomi yang tengah hamil besar pun tak ingin ketinggalan rombongan ini, padahal anak-anak gen Kurawa lainnya banyak yang absen kecuali Revan anak Guntur yang kebetulan membantu Guntur menjalankan usaha keluarga.
"Si Lele ngikut ngga sih? Bukannya ngga bisa cuti? om Fatur?" tanya Andini sudah menunggu di dalam mobil Irvan.
Dari kejauhan mobil Galexia terlihat datang, ia masih dengan pakaian saat prakteknya datang membawa anak-anak, "untung gue bisa dapet ijin cuti darurat!"
"Gusti! Orang tuh riweuh bawa seserahan, ini kita malah bawa anak-anak!" ujar Lila.
"Situ bawa anak, onta bawa cucu!" tunjuk Ari pada cucu lelaki yang masih berusia 3 tahun dalam gendongannya.
Roy tertawa berjalan dari dalam, "gue mah heran aja dari tadi, ini tuh acara lamaran apa mau penimbangan balita ke posyandu?!"
"Elu disuruh cek gula darah Roy," jawab Melan.
Dan meledaklah tawa mereka, nasib Andromeda yang beban hidupnya di temploki orang-orang ngga waras.
"Momy! Abang kayanya ngga bisa ikut, ada pasien darurat tadi, mau operasi butuh analisa abang..."
"Ngga apa-apa. Fatur cuma satu aja mah kesilep sama nih.. Rombongan timses partai apaan nih yang warnanya pink item?! Cuma ngga lengkap aja ngga ada kakak ipar," tunjuk Denial. Sebenarnya owner Angkringan lainnya tak kalah heboh ingin ikut, tapi Andro hanya meminta do'a nya saja agar acara berjalan lancar tanpa hambatan berarti, bukan apa-apa, ia khawatir jika nanti keluarga Kanaya akan syok lahir batin, ditambah kondisi rumah Kanaya yang apa adanya tidak mendukung berkumpulnya manusia-manusia berlumur dosa ini. Jangan sampai nanti saat acara berakhir, rumah Kanaya malah ambruk tak kuat menanggung beban.
Terhitung 8 mobil kini berjejer di depan rumah Arka sampai tetangga.
"Nom-nom, ampun ih! Kamu tuh kan udah bulannya, gimana kalo brosot di jalan ih?!" Gale meringis bergidik.
Naomi yang masih cukup manja pada kedua orangtuanya itu memeluk Lelicia sang ibu, "biarin. Kan ada kak Lele.."
"Dih! Gue mah dokter anak, bukan dokter kandungan!" cebik Gale mengangkat Arion dan memindahkannya ke mobil Andro.
"Udah siap?" tanya Shania.
"Siap! Tan..."
"Yang jaga produksi Pawon Kurawa siapa, Den?" kembali ia bertanya.
"Ada laki gue, Sha. Ada Mamat juga yang handle tim audit." Jawab Niken.
"Oke."
"Kuy lah! Gaskeun!"
Andro keluar bersama Arka, dan pemandangan itu membuat mereka terkesiap, bak pinang dibelah dua. Benar-benar plek ketiplek mulai dari postur badan, wajah dan coolnya...sifat? Jangan ditanya, meski Andro ada sedikit gen usil Shania. Kedua ayah anak ini sama-sama memakai batik lengan panjang, senada dengan dress selutut Shania yang dipadukan dengan blazer, begitupun Gale yang baru saja berganti pakaian.
"Aaaa! Jatuh cinta lagi Sha, mas! Lope yuuuu mas Arka!" ia melingkarkan tangannya di lengan Arka, pria tua yang sudah menemaninya selama 32 tahun.
"Love you too," bisiknya. Di usia pernikahan 32 tahun ini masih saja Shania selalu merasa merona dengan sikap romantis singkat Arka, mungkin karena Arka jarang romantis.
__ADS_1
"Aahhh! Gue jadi pengen lamaran lagi!" imbuh Ari yang dihadiahi pelototan istrinya, "malu sama cucu!"
Andro mengambil alih bangku pengemudi dimana di dalamnya sudah ada si kembar dan Arion, "cieee cieeee! Om Andro mau lamar kaka Kartini!" Tapi kemudian Aliyah merengut, "om! Liyah ngga mau om nikah!"
Andro tak bisa untuk tak menoleh ke bangku belakang. Begitupun Arka dan Shania juga Galexia sang bunda, "dek Liyah kenapa ngomongnya gitu?" tanya Gale dari bangku samping pengemudi sambil memangku Arion.
"Oma!" Ia memeluk Shania yang berada di bangku tengah dari belakang dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher omanya itu seraya terisak.
"Eh, eh...kirain becanda?! Malah nangis beneran?!"
"Dek Liyah kenapa?" tanya Arka. Sementara Afifah hanya diam namun ia telah mengusap matanya kasar, beda dengan Aliyah yang melow Afifah lebih terlihat tegar tak ingin menampakan kesedihan di depan orang lain. Tiba-tiba saja suasana mendadak haru diantara suara mesin mobil lain yang sudah dihidupkan.
Andro keluar sejenak dari mobil demi merangkul para keponakannya.
"Kenapa turun lagi?" tanya Naomi dari mobil belakang pada Deni sang ayah, Leli menggeleng.
"Sini!" Andro merentangkan tangannya langsung saja Afifah dan Aliyah beranjak dari bangku paling belakang, dan melewati celah saat Shania bergeser memberikan ruang pada kedua cucunya untuk keluar.
Keduanya langsung menghambur memeluk om tampan kesayangan dan menumpahkan seluruh keluh kesahnya, "nanti om Andro ngga sayang lagi sama kak Fifah sama dek Liyah..." Liyah terisak, begitupun Afifah. Tangannya mencengkram kuat punggung baju Andro.
Andro menghela nafas dan tersenyum, "kok gitu bilangnya? Sayangnya om sama kaka, dedek, sama Rion itu ngga akan berkurang sedikit pun. Justru nanti nambah, ada kak Naya...jadi kalo om kerja, kak Naya bisa nemenin kaka, adek, Rion..."
"Ma...Ma---apin kakak sama adek, selama ini sering usil sama om, sama temen-temen cewek om Andro."
Gale mencelos bersama mata yang mulai berkaca-kaca, sedekat itu anak-anaknya pada Andromeda.
"Ngga apa-apa. Ya udah, mau nemenin om ke rumah kak Naya ngga? Disana banyak sawah sama kebun, kaya di Pondok..."
"Gendong om!"
"Apa-apaan nih! Berat! Badan kamu mon tok gini!" Andro tertawa namun tak urung menggendong badan bongsor Afifah mendekati pintu mobil, "dah masuk. Nanti keburu siang!"
Kanaya sudah siap dengan kebaya sederhana milik bu Dewi sewaktu muda. Riasan yang dipakai pun cukup sederhana dan simpel karena hanya mengandalkan bu Dewi dan ibunya saja. Sementara untuk makanan, kemarin Andro memberikan beberapa lembar uang pada bu Dewi untuk diberikan langsung pada ibu Kanaya.
Kanaya menatap nyalang dirinya di cermin yang retak, "jangan keruh gitu atuh Nay, mukanya. Orangtuanya mas Andro itu orang berada. Mungkin Naya sudah ketemu di Jakarta,"
Kanaya mengangguk menatap bu Dewi, "Naya teh ngga enak sama keluarga bu Shania, bu...apa kata mereka, udah banyak bantu, diterima kerja sampai dicariin kontrakan, tapi ini balasan Naya... Mungkin setidaknya mereka pengen punya mantu dari keluarga yang jelas, pendidikan jelas juga..." jelasnya dengan raut wajah tak enak hati.
"Percaya! Bu Shania sama pak Arka bukan orangtua yang kolot, mereka sudah kasih restu buat kamu," ucap bu Dewi menutup bedak miliknya.
__ADS_1
Bapak menatap cerminan dirinya di cermin yang buram di beberapa bagian pinggir, ada hati mencelos melepas Kanaya secara tak layak. Sebagai seorang ayah, ia memang akui tak memiliki malu meminta mahar layaknya lagi rampok orang.
*Kelak, kamu bakal ngerti ceu*.
Pak Akbar mengulas senyuman melihat mobil Andro disusul dengan mobil lainnya di belakang Andro, "waduhhh...cukup engga ya markirnya..sini aja coba mas! Cukup kayanya lah, kalo engga nanti separo di depan sana!" pak Akbar berubah jadi tukang parkir.
"Itu bapaknya Kanaya?" tanya Gale.
"Bukan. Itu pak Akbar. Rumah Kanaya harus jalan kaki dari sini, soalnya ngga masuk mobil," jawab Andro.
"Hah? Jalan?! Yang bener aja, jauh engga? Bawa bumil tuh di belakang, mana bawa aki-aki sama nenek-nenek juga," imbuh Gale.
"Paling-paling pada pingsan di pinggir sawah," acuh Andro.
"Ck! Jangan becanda, masa momy mau gendong ayah!" omel Shania.
"Maksudnya?" tanya Arka.
"Mas gimana sih, mas kan udah aki-aki...ngga sadar?" ia mengernyit melihat Arka.
"Mas masih muda, Sha." balasnya datar.
.
.
.
.
__ADS_1
.