JODOH KU

JODOH KU
JANGAN LUPA


__ADS_3

Dengan suara lantang marini tetap bersikeras dengan keinginannya untuk menjodohkan nada dengan angga. Tentu saja mendapatkan pembelaan seperti itu membuat wajah nada sumringah bukan main, ia merasa berada diatas awan. Menjadi yang kedua bukan masalah baginya asalkan bisa menikmati segala kekayaan yang keluarga miliki. Picik sekali isi kepala nada, dengan santainya ia duduk dan menonton sebuah keluarga jadi terpecah belah seperti ini.


"Pokoknya mau tidak mau angga harus menikahi nada, karena janji mama pada orang tua nada tidak bisa dibatalkan. Perempuan ini mau jadi istri pertama tidak masalah tapi kalau mau diceraikan itu malah bagus sekali." Entah kemana pemikiran marini, bisa dengan gampangnya ia berbicara soal perceraian padahal dengan sangat jelas marini melihat perut buncit nadia yang hanya tinggal hitungan hari saja sudah melahirkan penerus untuk keluarga bramantyo wijaya.


Nadia duduk tenang dengan menegakkan kepalanya ia terlihat menatap datar bergantian antara ibu mertuanya dan nada gadis yang digadang-gadang menjadi menantu pilihan marini. Nadia sudah kebal ia bersikap acuh tak acuh dengan setiap perkataan yang keluar dari mulut marini.


Angga tak sekalipun melepas genggaman tangannya dari tangan nadia. Seolah ingin memberitahu jika angga tak akan pernah mau berpisah dengan nadia. Berat memang jalan yang angga dan nadia lalui untuk mencapai titik dimana mereka bisa menikah bahkan disaat status pernikahan sudah mereka dapat, jalan terjal tetap tersaji didepan mata.


"Mba, kamu sudah di kode sama tante marini apa ga ngaca? Pernikahan tanpa restu orang tua itu tak akan pernah berhasil apalagi ini ibu kandungnya mas angga loh yang ga setuju." Nada suara yang nada keluarga seolah sedang mengejek dan merendahkan harga diri nadia.


Tetap bergeming nadia tak menjawab apapun. Sampai lagi lagi suara marini kembali memenuhi ruang kerja suaminya.


"Perempuan macam dia akan tetap bertahan hanya untuk menikmati hidup mewah dari uang yang angga berikan. Lintah darat, menggerogoti sedikit demi sedikit agar sampai ia kenyang dan kemudian mati."


Tanpa aba-aba nadia bangkit dari duduknya. Ia menatap nyalang kearah marini tapi sepatah katapun keluar dari mulut nadia.

__ADS_1


"Sayang" angga menyusul langkah istrinya yang keluar dari ruang kerja sang ayah.


"Sayang, hei."


"Mas, aku ingin pulang. Capek, pinggang ku sudah panas dan nyeri."


"Aku pamit ke papa sebentar ya?"


"Hmm"


Didalam ruang kerja bramantyo.


"Pa aku pamit pulang dulu, besok kita ketemu dikantor baru ketempat meeting ya."


"Iya hati-hati." Bramantyo mengangguk pada putranya.

__ADS_1


"Angga kamu mau pulang kemana? Disini rumah mu, bukan pulang rumah perempuan itu. Kamu kenapa jadi begini? Ga mau nurut sama mama lagi."


"Ma cukup, jangan pertontonkan pertikaian kita pada orang asing. Tidak baik, bisa saja dia menyebarluaskannya ke orang banyak." Angga berusaha meredam perasaanya yang kembali disakiti oleh sang ibu.


"Satu lagi ma, aku ga akan pernah mau menikah lagi apalagi harus bercerai dari istriku. Kalau mama memang tak mau nadia sebagai menantu mama tak masalah dan kalau mama ingin gadis yang mama bawa ini menjadi menantu mama silahkan nikahkan dia dengan anak mama yang lain. Kalau mama punya anak lain selain aku."


Mendapat jawaban menohok dari putranya membuat wajah marini kian merah.


"Angga" herit marini lantang saat angga baru membuka berhasil membuka pintu.


"Cukup ma, kalau kamu begini terus kamu boleh keluar dari rumah ini. Jangan lupa aset sudah beralih atas nama angga dan kita hanya punya saham diperusahaan." Pelan sekali bramantyo berbicara ditelinga istrinya karena tak ingin nada mendengarkan setiap kata yang bramantyo ucapkan pada marini.


Deg


Seketika nafas marini langsung tercekat jantungnya memompa dua kali lipat lebih cepat.

__ADS_1


__________


__ADS_2