
"Pokoknya aku mau tante nikahkan aku sama mas angga secepatnya. Sudah setahun lebih tapi ga ada kejelasan dari perjodohan yang udah tante janjikan."
Nada masih terus memburu marini agar segera menikahkan dirinya dengan angga. Obsesi untuk menikmati hidup mewah dan memiliki suami yang bisa dipamerkan karena angga termasuk pria idaman setiap wanita.
"Nada, halo nad halo."
Marini belum sempat menjawab nada sudah memutus sambungan telponnya. Beberapa hari ini, marini terus mendapat teror dari nada. Nada meminta kapan kepastian dirinya bisa menikah dengan angga.
Sambil memijat kepalanya yang mulai berdenyut. Marini kebingungan, cara apa yang harus ia lakukan agar angga mau menikahi nada.
"Sekarang angga udah semakin keras, bahkan sekedar mengobrol saja kami sudah ga pernah."
Ada rasa rindu dihati marini, rindu kehangatan keluarga yang dulu begitu indah. Satu atap bersama bramantyo tapi tak pernah ada interaksi ditambah angga yang sudah memutuskan untuk tetap tinggal bersama nadia dan putri mereka membuat marini semakin dirundung sepi.
Pembenaran akan semua tindakannya membuat marini semakin berubah. Ego yang tinggi dan keras kepalanya menjauhkan suami dan anak yang dulu begitu menyayanginya. Bohong jika marini tak rindu. Tapi kembali lagi, egonya yang besar membuat marini tetap bertahan pada keras kepalanya agar anak dan suaminya mau menuruti semua perintah dan keinginannya seperti dulu.
"Bu, dipanggil bapak. Ditunggu diruang kerjanya."
"Iya"
Dengan pikiran yang sedang kalut, marini menuju ruang kerja suaminya.
__ADS_1
Ceklek
Bramantyo sempat mendongak untuk melihat siapa yang masuk kedalam ruangannya. Setelah tau istrinya yang masuk, bramantyo kembali fokus pada layar didepannya.
"Ada apa?" Tanya marini singkat.
"Duduk dulu sebentar, papa selesaikan ini dulu."
Sepuluh menit menunggu, akhirnya bramantyo menyelesaikan pekerjaannya.
"Langsung saja, tadi papa ga sengaja ketemu sama orangtuanya nada. Gadis yang mama jodohkan dengan angga."
Marini menatap wajah suaminya dengan ekspresi yang tidak bisa diartikan.
Sekarang marini mendelik tajam, dengan wajah yang sudah mulai merah tanda ia sedang menahan emosi.
"Papa sudah batalkan perjanjian perjodohan yang mama sepakati. Dan mama tau? Mereka minta uang ganti rugi ke papa. Entah uang ganti rugi untuk apa papa ga ngerti."
"Kenapa papa ambil keputusan sepihak? Harusnya papa bicara dulu sama mama."
"Kenapa? Mama membuat rencana perjodohan sampai dua kali tanpa adanya persetujuan papa bahkan pada angga yang bersangkutan saja mama tidak bicara meminta persetujuan darinya?"
__ADS_1
"Pa, kenapa papa sekarang berubah? Kenapa papa ga mau mengerti mama dan selalu menentang semua keinginan mama?"
"Sepertinya semua memang perlu diluruskan sekarang."
"Bertahun-tahun kami memahami mama menjaga mama agar tetap stabil agar kondisi kesehatan mama tidak terganggu sampai mengabaikan diri kami sendiri khususnya angga yang selalu mendapat imbas dari egoisnya mama."
"Papa dan angga diam karena tak ingin mama sampai kolaps karena penyakit yang mama derita. Papa dan angga menjaga mama karena rasa cinta kami."
Marini menggeleng, ia tetap tak bisa terima dengan alasan yang bramantyo sampaikan.
"Terserah mama mau percaya atau tidak. Tapi kali ini kalau mama lagi mengganggu kebahagiaan angga, papa tidak akan segan-segan pada mama."
"Apa, apa yang akan papa lalukan?"
Tantang marini dengan suara lantang.
"Mulai hari ini, papa stop uang bulanan untuk mama. Silahkan mama hidup dari hasil saham yang mama miliki. Papa lelah meladeni mama bertahun-tahun yang selalu egois dan mau menang sendiri."
"Papa, papa apa-apaan. Mama ini istri papa."
"Sekarang hanya istri didalam kertas, hanya status saja karena sudah selama setahun ini papa tak merasakan memiliki istri lagi."
__ADS_1
"Silahkan keluar dari sini sekarang, kalau dirasa mau pingsan atau kambuh tolong minum obatnya terlebih dahulu karena papa tidak akan mau bersusah payah mengurus mama dirumah sakit lagi."
__________