JODOH KU

JODOH KU
NUMPANG HIDUP


__ADS_3

"Kamu boleh pulang, usahamu hanya sampai disini saja. Saya doakan kamu bisa mendapat pria single yang bisa kamu jadikan suami. Terakhir kali saya bicara, berhentilah dan mari kita tetap berhubungan hanya sebatas kenalan jauh saja."


Begitu halus bramantyo mengusir nada dari rumahnya. Tak ada perkataan kasar atau nada bicara tinggi tapi jika nada memang orang yang mengerti adab maka ia harusnya sudah kehilangan malu saat ini.


"Tante"


"Nada, kamu tenang dulu. Tante akan usahakan cara lain untuk kamu bisa menikah dengan anak tante. Asal kamu tetap tak masalah menjadi yang kedua."


Mengangguk mantap nada menyetujui usulan yang marini berikan.


"Sekarang kamu pulang saja ya, tante akan minta supir untuk antar kamu pulang.


"Oke tante, aku permisi ya."


"Iya, hati-hati ya sayang."


"Bye tante."


Didalam kamar.

__ADS_1


Marini menutup pintu dengan sangat keras.


"Maksud papa apa tadi meminta mama keluar dari rumah ini?"


"Papa hanya mengingatkan status mama saja. Rumah dan aset lain semua sudah atas nama angga. Bahkan sebagian besar saham juga milik angga, papa hanya punya 15% dan mama hanya 10% saja. Dengan kata lain kita ini menumpang hidup dengan angga."


"Pa, angga itu anak mama."


"Angga juga anak ku, aku ayahnya dan aku tak akan membiarkan kamu selalu mengacaukan kehidupan angga."


"Tapi angga tidak akan bahagia jika menikah dengan perempuan itu."


"Dan, kalau kamu bilang angga tak akan bahagia menikah bersama nadia bagaimana mungkin akan hadir buah hati dari pernikahan itu."


"Konyol, jawaban sudah ada didepan mata kamu terus membenarkan spekulasi mu yang salah itu."


"Pa"


"Apa lagi? Kita sudah tua ma, papa leha dengan semua ini. Ijinkan papa menikmati masa senja papa dengan memangku cucu, papa ingin tenang."

__ADS_1


"Tapi tidak kalau cucu yang lahir dari perempuan itu."


"Terserah bagaimana mama saja, papa tidak akan perduli lagi. Papa akan diam, tapi jika mama sudah mulai bertindak anarkis dan melukai fisik. Papa tidak akan tinggal diam, sudah cukup bertahun-tahun mama bebas melakukan apapun. Papa dan angga selalu menuruti mam, tapi sekarang. Papa sudah lelah,"


Bramantyo memilih merebahkan dirinya dikasur setelah tadi sempat mengganti setelan jasnya sebelum marini datang.


"Pa"


"Papa ingin istirahat ma, papa lelah tadi menghadiri meeting dan harus menonton teriakan mama. Papa yang menonton saja sampai capek, apa mama tidak pernah capek berteriak memaki mengumpat dan menghina orang?"


Sindiran telak yang marini dapatkan dari suaminya tak urung membuat dirinya merasa sakit hati tapi ia malah jadi semakin mengumpat nadia didalam hati. Api kebencian selalu berkobar dihati marini untuk nadia, seakan tak mungkin pernah padam walau apapun yang terjadi.


Bramantyo terlelap karena semenjak keluar dari rumah sakit ia sekarang jadi lebih mudah lelah dan membutuhkan banyak istirahat. Tenaganya sudah habis terkuras karena memikirkan bagaimana cara agar istrinya mau berubah atau hanya sekedar mau berdamai dengan keadaan dan membiarkan putra mereka dengan pilihan hidupnya.


"Sudah tua jadi tak bisa memberi dukungan seperti dulu, malah membela anak sampai rasanya aku mau mati saja." Marini menggerutu sambil masuk kedalam kamar mandi.


"Mandi ganti baju dan minta teh madu sama bibi dibawah."


__________

__ADS_1


__ADS_2