JODOH KU

JODOH KU
NADIA TUMBANG


__ADS_3

Saking lemas nya nadia sampai harus dilarikan kerumah sakit dan mendapat penanganan serius. Kehamilan yang ketiga ini benar-benar menguras energi nadia. Kenzo yang kerap kali menolak jika bukan nadia yang menemani atau menuruti keinginannya mengharuskan nadia standby setiap saat disamping putra itu. Kerap kali tantrum bahkan sampai mengamuk membuat nadia tak tega jika harus berjauhan dalam kurun waktu lebih dari satu atau dua jam.


Pekerjaan nadia diluar rumah bertemu klien harus sering kali dilakukan dirumah tentunya atas permintaan angga agar anak dan istrinya merasa aman dan nyaman. Nadia masih ingin terus berkarya mengingat awal perjuangannya merintis usaha membuat fokus dan kondisi tubuh nadia semakin menurun.


"Pak, pak angga. Mba nadia kami bawa kerumah sakit karena tadi setelah menerima tamu mba nadia pingsan." Mba marni mengabari angga yang sedang rapat dengan suara bergetar menahan tangis dan panik.


Bisa dibayangkan bagaimana paniknya seisi rumah saat nadia pingsan. Belum lagi dua balita yang juga pasti membuat pergerakan orang dirumah semakin heboh.


"Share loc rumah sakitnya dimana mba."


"Iya pak."


Tut


Angga langsung mematikan sambungan telponnya dan meminta intan untuk menghentikan rapat dan mengajak agus untuk bergegas pergi kerumah sakit. Khawatir sudah pasti apalagi saat ini nadia tengah mengandung. Ada rasa bersalah hinggap dihati angga, seandainya ia tak egois dengan membuat nadia hamil kembali pasti saat ini istrinya akan baik-baik saja.


"Jangan menyesal karena bapak sudah menghamili non nadia lagi." Agus menebak diamnya angga dikursi belakang.


"Sejak kapan kamu jadi cenayang gus? Sampai tau apa yang lagi saya pikirkan sekarang."

__ADS_1


"Ck, saya ikut sama pak angga bukan baru sehari dua hari. Tentu saja saya paham apa yang sedang mengganggu pikiran pak angga sekarang."


"Kondisi nadia semenjak hamil ketiga ini memang berbeda dari dua kehamilan sebelumnya. Padahal dia ga mengidam seperti hamil kenzo kemarin."


"Berdoa saja semoga non nadia dan bayi tidak mengalami hal yang serius pak."


"Hmm"


.


.


"Sudah diinfus pa, tapi harus dirawat beberapa hari disini."


"Kamu temani nadia disini biar kantor agus dulu yang urus dan untuk anak-anak aman bersama papa." Tanpa memberitahukan kegundahan hatinya seperti biasa bramantyo yang sangat mengerti putranya langsung meringankan pundak angga yang sedang dilanda kebingungan.


"Makasih banyak pa, seandainya mama mau ikut andil seperti papa pasti aku jauh merasa lebih tenang lagi sekarang."


"Hmm, sudahlah. Asal kita jangan berhenti berdoa saja sisanya biarkan allah yang perlahan-lahan membuka pintu hati mama mu."

__ADS_1


"Iya pa."


Bramantyo menggendong kenzo dan menggandeng tangan aruna untuk dibawa pulang kerumah utama karena bramantyo berencana mempertontonkan kedekatannya dengan dua cucunya dan memperlihatkan betapa lucunya mereka berdua kepada marini.


"Kita pulang kerumah opa ya?"


"Buwung?" Sorak kenzo yang sangat menyukai burung peliharaan milik bramantyo.


"Iya, ada burung kesukaan kenzo dirumah opa."


Berbeda dengan aruna yang lebih banyak diam karena gadis kecil itu memikirkan ibunya yang sedang terbaring lemas diranjang rumah sakit dan tangannya dipasangi jarum infus.


"Besok kita kesini lagi kak, jangan menangis lagi oke." Tak lelah bramantyo terus merayu cucu perempuan kesayangannya itu.


"Kasihan mama, pasti tangannya sakit dipasangi jalum infus."


"Dipasang infus supaya mama dan adek bayi cepat sehat dan bisa pulang kerumah untuk menemani kakak dan kenzo bermain."


"Iya opa."

__ADS_1


__________


__ADS_2