
Melamun, sejak sampai di kantor yang angga lakukan hanya diam tak ada pergerakan sama sekali padahal pekerjaan diatas mejanya sangat menumpuk.
Ceklek
"Pak, apa beberapa berkas penting yang akan saya bawa siang ini sudah selesai bapak periksa." Tanya agus saat masuk kedalam ruangan angga.
Hanya gelengan kepala sebagai jawaban yang angga berikan atas pertanyaan yang agus berikan.
"Pak, itu berkasnya mau saya bawa dua jam lagi."
"Kamu periksa saja sendiri gus, kalau sudah oke biar nanti saya tanda tangan." Jawab angga lesu dan menelungkupkan wajahnya diatas meja.
"Saya sudah bilang sama bapak ga usah pergi kemarin siang."
Agus meledek atasannya yang saat ini terlihat sangat kacau.
"Semalaman saya ga bisa tidur gus, nadia mengunci pintu kamar dari dalam bahkan aruna pun melakukan hal yang sama seperti ibunya ditambah pagi ini saya ga disiapkan baju dan sarapan pun saya sendirian. Mereka mulai mengabaikan saya."
"Non nadia sudah pergi pagi-pagi sekali. Sepertinya non nadia akan kembali aktif mengurus usahanya."
"Gus" angga mendelik pada agus.
"Saya paham bagaimana lelahnya perasaan non nadia pak. Di semua situasi, sejak awal pak angga memaksakan diri untuk menikahi non nadia ya non nadia lah orang yang paling tersakiti."
Angga tak menjawab tapi dalam diamnya ia membenarkan semua yang agus katakan. Angga memang lelah menghadapi drama yang ibunya ciptakan tapi sudah pasti nadia lah orang yang paling tersakiti dengan semua ini.
__ADS_1
"Dan saya yakin pak, kali ini non nadia akan menarik diri dan pelan-pelan akan mengabaikan bapak lalu meninggalkan pak angga."
"Kenapa omonganmu sangat tidak enak didengar gus." Angga memicingkan matanya kearah agus yang terlihat tidak takut sama sekali.
"Saya bicara kenyataan pak."
"Ya ya, saya tau semuanya benar. Mending sekarang kamu periksa semua berkas ini dan saya mau rebahan disana." Angga menggeser berkas diatas mejanya kearah agus dan menunjuk sofa di ruangannya.
Kring kring kring
Belum angga berhasil merebahkan dirinya di sofa ponsel diatas mejanya sudah berdering.
"Siapa gus?" Tanya angga karena letak ponsel angga yang berada tak jauh dari tempat agus duduk.
"Bu marini."
"Ya ma."
Angga mengangkat panggilan telpon marini sambil berdiri disebelah agus yang mulai memeriksa berkas pekerjaan angga.
"Kamu dimana?"
"Di kantor, pekerjaan ku banyak hari ini."
"Jam makan siang nanti kamu bisa keluar sebentar kan nak?"
__ADS_1
"Ma ...."
"Resto dekat kantor kok."
"Ma, aku makan siang dirumah nanti, lain kali saja ya." Angga berusaha menolak ajakan ibunya.
"Ck, makan siang dirumah bisa lain kali kan."
"Aku sudah janji sama anak-anak."
"Angga, ini mama yang minta lagian mama sudah janjian sama erika. Kan ga enak kalau sampai dibatalkan."
"Ya sudah ga usah dibatalkan, kan mama bisa makan siang berdua sama dia."
"Angga, erika nya kan pengen ketemu sama kamu juga."
"Ma, maaf aku ga bisa lagian pekerjaan ku juga lagi banyak banget."
Tut
Angga mematikan sambungan telpon secara sepihak karena ia tau pasti marini akan terus memaksa sampai angga menerima ajakannya untuk datang ke resto yang marini maksudkan.
"Pak angga matikan ponsel nanti malah non nadia curiga lagi."
"Hah, biar aja. Saya lagi galau ga enak hati ga enak makan ga bisa tidur. Kepala saya mumet, kamu cancel saja semua pertemuan hari ini sampai dua tiga hari ke depan. Kerjakan semua pekerjaan di ruangan saya jangan kemana-mana kamu gus."
__ADS_1
Agus tak menghiraukan ocehan angga dan malah kembali fokus pada semua berkas didepannya.
__________