JODOH KU

JODOH KU
BERSIHKAN SEMUA


__ADS_3

Sambil berteriak, marini memanggil asisten rumah tangganya.


"Bersihkan kamar anak saya. Sampai bersih, ganti sprei gorden dan ingat vakum kasur dan sofanya. Sikat kamar mandinya juga."


Nadia yang mendengar perkataan marini langsung tersulut emosi. Sejak di mall nadia sudah berusaha menekan egonya agar tak mudah terpancing. Tapi sepertinya marini memang dengan sengaja menabuh genderang perang.


Menuruni tangga tanpa menoleh kearah marini yang sedang berbicara pada salah satu asisten rumah tangga yang tadi datang.


"Maaf mba, lihat anak saya?" Tanya nadia sopan.


"Masih diteras belakang sama pak tyo mba."


"Terimakasih ya mba."


Menyusuri rumah besar milik bramantyo, akhirnya nadia melihat putrinya sedang asyik bercanda dengan sang kakek.


"Pa" nadia memanggil ayah mertuanya dengan lembut.


"Angga mana?" Tanya bramantyo tak melihat putranya.


"Mas angga masih diatas. Pa, aku mau pulang dulu ga apa kan? Hehe, ada deadline gambar yang diminta sekarang sama yunus soalnya besok harus pilih kain." Bohong nadia pada ayah mertuanya.


"Loh, ga makan malam dulu disini?"


Nadia menggeleng, "Lain kali aja ya pa, besok besok aku sama ayank pasti kesini lagi." Nadia berusaha menghibur bramantyo yang terlihat kecewa.

__ADS_1


"Hmm, ya sudah. Pulang lah, lain kali kalian bisa makan malam disini. Pekerjaanmu harus segera diselesaikan."


"Makasih ya pa, papa memang opa terbaiknya ayank."


"Tentu saja."


Saat nadia menoleh kearah pintu, ternyata angga sudah berdiri disana dengan tatapan mengiba tapi tarikan nafas menunjukkan kalau angga sedang menahan emosi.


"Pa"


"Kalian mau pulang sekarang?" Bramantyo bangkit dengan menggendong aruna.


"Iya"


"Hmm, oke. Papa memang harus menginap karena ayank pasti akan rindu opa." Angga berusaha bergurau dengan ayahnya.


"Pasti, papa juga akan sangat rindu dengan aruna gembul."


Sementara dilantai atas.


Marini semakin emosi, ia meluapkan amarahnya dengan mengobrak abrik kamar angga yang tadi menjadi saksi bisu cinta angga dan nadia.


"Cepat, bersihkan semuanya. Lepas ini, ini juga. Besok saya akan ganti semua furniturnya catnya semuanya."


Dua asisten rumah tangga yang berada didalam kamar angga tak berani buka suara. Mereka diam seribu bahasa dan hanya menganggukkan kepala sambil dengan cekatan mengerjakan semua perintah yang marini berikan.

__ADS_1


Didalam hati, kedua asisten itu mengungkapkan keheranan mereka atas sikap yang marini berikan kepada nadia. Dilantai bawah tadi, bramantyo dengan wajah berbinar memperkenalkan cucu serta menantunya. Tapi dilantai atas marini malah menunjukkan ekspresi yang berbanding terbalik dengan bramantyo.


.


.


"Bye ayank, lusa kita akan bermain sampai puas." Janji bramantyo saat melepas cucu kesayangannya didepan pintu rumah utama.


"Sepi lagi, bengong lagi."


Bramantyo masuk kedalam rumah dan melihat dua orang menurunkan barang-barang yang berada didalam kamar angga.


"Pak" sapa salah satu dari mereka.


"Hmm, kerjakan saja apa yang istri saya perintahkan. Masukkan barang-barang itu ke gudang. Tolong disusun yang rapih supaya tidak rusak."


"Baik pak"


Ceklek


Bramantyo menutup pintu ruang kerjanya dan merebahkan tubuhnya ditengah kasur yang ia taruh disana. Menerawang jauh, bramantyo memikirkan jalan apa yang bisa ia ambil guna memberikan efek jera untuk marini istrinya.


Bukannya menemukan ide, bramantyo malah terlelap dengan sangat damai. Matanya terpejam walau ekspresi wajahnya menunjukkan bahwa dirinya sedang memikirkan banyak hal.


_________

__ADS_1


__ADS_2