
"Udah ga usah dilihat terus yang ada lu terus membandingkan hidup lu sama hidup orang lain."
"Harusnya gue yang ada disana sama angga, menikmati semuanya bahkan cinta dan perhatiannya."
"Ra, jangan terus terpuruk sama masa lalu. Hidup lu sekarang udah anak dan suami jadi fokus ke mereka aja."
Tidak ikhlas begitulah perasaan tiara saat ini. Melihat angga begitu mendewakan nadia didepan matanya sangat berbeda saat dirinya menjadi istri angga dulu. Hanya sikap dingin lah yang selalu angga berikan bahkan sekedar menanyakan bagaimana tiara hari ini pun angga tak pernah. Hanya uang lah pengobat rasa kesepian yang tiara rasakan saat itu. Uang uang dan uang yang selalu menemaninya ditambah ibu dan kedua adiknya terus merongrong tanpa henti.
"Nasi sudah menjadi bubur, menyesal pun tak akan mengembalikan pundi pundi emas yang dulu begitu gue suka." Jerit batin tiara dengan mata yang tak lepas memandang kearah dimana angga dan nadia sekarang berada.
"Ayank sama mba marni aja ya nak, kasihan bunda belum bisa ikut berdiri." Rayu angga pada aruna yang terus menempel dan tak mau jauh dari nadia.
"Mas"
"Mau disini aja sama mama." Dengan mata berkaca-kaca aruna menggenggam tangan ibunya.
"Sayang, anak mama. Mama ga apa nak."
"Ayank kesana kasih selamat sama temannya ditemani papa mau?"
__ADS_1
"Mama?"
"Mama disini, ditemani mba marni. Mama duduk disini, ayank kesana sama papa ya nak."
"Hmm" merasa ibunya aman bersama mba marni akhirnya aruna mengangguk walau dengan anggukan lemah.
"Mas, ajak ayank kesana ya?"
"Iya, kamu duduk aja disini ya. Mas sekalian pamit sama yang punya acara."
"Iya" sambil masih menahan kram diperutnya nadia berusaha memasang wajah biasa saja didepan putrinya karena tak ingin membuat aruna semakin khawatir.
"Mba nad," mba marni tau jika sejak tadi nadia menahan sakit.
"Duh, kok tumben ya mba. Apa perlu ke dokter aja?"
"Kayaknya iya harus ke dokter deh ini. Duh, ssssttt."
Sementara angga yang menggendong aruna sedang menjadi bahan perbincangan para ibu-ibu muda yang menemani anak mereka tanpa didampingi suaminya. Seperti biasa angga sellau menjadi pusat perhatian ditambah angga memang termasuk jarang hadir keacara yang aruna miliki selain karena kesibukannya juga karena memang angga tak begitu menyukai keramaian.
__ADS_1
"Bos" sapa ayah dari teman aruna yang kebetulan angga kenal jadi mau tak mau akhirnya angga menyempatkan diri untuk hadir guna menemani putri sulungnya.
"Selamat untuk anak lu."
"Makasih makasih, kadonya udah sampe tadi pagi."
"Hmm" mereka berjabat tangan dan mengobrol sejenak lalu angga berpamitan untuk pulang lebih dulu karena kondisi nadia yang sedang kram perut.
Dipintu keluar dengan sengaja tiara mencegat angga yang sedang menggandeng tangan nadia.
"Masa lalu, kenapa dulu dan sekarang sangat berbeda. Bersama ku tak ada kehangatan bahkan sekedar perhatian pun tak terlihat."
Deg, angga sangat mengenal suara yang sudah lama tak didengarnya.
"Mba mar ajak ayank ke mobil duluan ya. Ini kuncinya."
Tak ingin orang lain dan putrinya mengetahui masa kelamnya dulu angga langsung meminta mba marni pergi membawa aruna ke mobil lebih dulu.
"Mas" nadia langsung paham dengan kata-kata yang tiara ucapkan.
__ADS_1
Anggukan kepala angga semakin meyakinkan nadia jika tebakannya benar.
__________