
"Ceraikan saja dia, perempuan pembawa sial. Kamu sampai kecelakaan dan mengalami koma berhari-hari karena menuruti acara ngidamnya yang tidak tau waktu."
"Kalau saja kamu mau mendengarkan mama tidak menikah dengan dia pasti kamu tidak akan pernah celaka seperti kemarin. Coba saja kalau kamu tidak siuman mama pastikan perempuan itu akan mendekam di jeruji besi. Tidak perduli dia istrimu, mama pastikan dia akan menderita."
Marini terus mengoceh memaksa angga menceraikan nadia yang tengah hamil besar. Jangan tanyakan dimana letak hati nurani marini sebagai seorang perempuan sampai bisa dengan begitu teganya mengeluarkan kata-kata yang sangat kejam. Angga terus menghembuskan nafas kasarnya sambil sesekali menggelengkan kepala.
"Lebih baik mama pulang saja." Angga berbicara dengan suara rendah. Sejak kedatangan ibunya kekantor angga sudah menahan emosi agar tidak sampai terpancing. Angga yakin sebentar lagi mereka pasti akan terlibat cekcok luar biasa jika sang ibu tidak pergi secepatnya.
"Selaku bela perempuan itu, apa apa dia salah pun masih kami bela. Kamu lupakan mama yang melahirkan mu hanya karena menikah dengan perempuan sial itu."
"Mama mau kita berkelahi? Bertahun-tahun ma, aku lelah."
Angga mendudukkan dirinya kembali, ia tak lagi melanjutkan ucapannya. Perasaan lelah sakit hati kecewa semua menjadi satu, memilih diam duduk dikursi kerjanya dengan menebalkan telinga.
"Anggap saja mama ga ada disini." Batin angga sambil memeriksa email di laptopnya.
__ADS_1
Marini terus mengomel, menaikkan nada suaranya tak juga membuat angga terpancing. Mendapat perlakuan seperti itu dari putranya membuat marini semakin meradang.
Brak
Angga menggebrak meja,
"Berkaca lah ma, sebagai seorang mertua dan nenek apakah mama sudah sempurna?"
"Angga"
"Mama minta menantu yang seperti apa? Cucu dari ibu yang bagaimana?"
"Kamu ............ (Bla bla bla)"
Bukannya berfikir marini malah kembali mengomel.
__ADS_1
"Memang dasarnya mama keras kepala, beruntung istriku itu nadia dan putriku itu aruna. Kalau tidak entah bagaimana sekarang mereka berdua." Angga membatin sambil kembali duduk dikursi.
Membuka laci meja dan meraih sepasang headset kecil tanpa kabel. Angga menyumpal telinganya dengan headset yang sudah tersambung dengan bluetooth. Duduk tenang sambil mendengarkan musik angga kembali melanjutkan aktifitasnya memeriksa dokumen dengan marini yang juga masih terus mengoceh entah apa karena angga sudah tidak lagi mendengarkannya tanpa sepengetahuan sang ibu.
Brak
Tak tak tak
Suara pintu dibanting hak sandal menjauh tak juga membuat angga mengalihkan pandangannya dari layar laptop. Angga jauh lebih fokus setelah menyumpal telinganya dengan headset. Sekitar satu jam baru angga sadar jika sang ibu sudah tidak berada diruangan.
"Kapan mama pergi?" Bisik angga sambil mengedarkan pandangan ke seluruh ruangannya.
Tak ambil pusing, angga menelpon madia untuk mengabarkan jika sore nanti dirinya bisa mengantar nadia untuk melakukan cek kandungan.
"Dibalik derita mama terus menolak istri dan anak-anak ku beruntungnya aku masih punya papa anak dan istri yang senantiasa memberikan ku kebahagiaan."
__ADS_1
"Mama saja yang belum tau bagaimana indahnya keluarga ku. Bagaimana gemasnya aruna dan sebentar lagi anak kedua ku akan segera lahir."
__________