JODOH KU

JODOH KU
MELUAP


__ADS_3

Nadia pulang dengan menyimpan kecewa dihatinya. Ia berusaha terlihat baik-baik saja didepan semua orang teruma ketiga anak-anaknya. Melewati makan malam tanpa kehadiran angga dan mengobrol bersama aruna kenzo serta hanzel sebelum mengantar ketiganya untuk tidur juga nadia lakukan seorang diri.


"Aku mau tau apa alasan yang akan kamu kasih nanti ke aku mas."


Melirik jam dinding diruang keluarga lantai dua sudah menunjukkan pukul sebelas malam tapi angga tak kunjung pulang bahkan ponselnya pun sampai sekarang masih belum bisa dihubungi.


Cetak cetak cetak


Langkah kaki menaiki anak tangga terdengar tepat jam menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Nadia masih duduk tenang di sofa ruang keluarga lantai dua yang letaknya pas didepan pintu kamar utama.


"Loh, sayang."


Angga terkejut karena mendapati istrinya masih terjaga sampai tengah malam seperti ini.


"Kok belum tidur, ini sudah tengah malam."


"Mas juga kenapa baru pulang padahal tau ini sudah tengah malam." Ejek nadia sambil memicingkan mata melihat kearah angga.


"Aku tadi ada..."


"Ada meeting dengan wanita berhijab mocca dan duduk di sebelah mas yang didepannya ada mama sampai mas menonaktifkan ponsel sampai sekarang."


Duar


Meledak dada angga mendengar apa yang nadia katakan. Bukan kebohongan karena semuanya benar tapi yang ada dalam pikiran angga saat ini bagaimana nadia bisa tau semuanya dengan sangat detail.

__ADS_1


"Kenapa diem? Mau jawab mama paksa mas untuk ketemuan?"


"Sayang"


"Biasanya pak agus diajak tapi kenapa tadi ga?"


"Supaya lebih leluasa?"


"Mas sepertinya menikmati pertemuan tadi ya? Oke aku ga perlu jawabannya karena aku tau semuanya dengan melihat bagaimana ekspresi mas tadi sore. Atau jangan jangan mas sudah setuju dengan pilihan mama?"


"Kapan tanggal ijab kobul nya?"


"Stop, nad jangan ngelantur!"


"Nad?"


"Nadia berhenti bicara ngelantur. Kamu terlaku berlebihan menghakimi mas."


"Hahahahahaha" tawa nadia pecah tapi air mata mengalir di pipinya.


"Aku sudah lelah dan ini puncaknya. Mendapati orang yang paling aku percaya ternyata berbohong. Selesai mas, aku yang mundur."


Brak


Nadia membanting pintu kamar dan menguncinya dari dalam. Merosot kelantai dan terisak dalam tangis yang sangat memilukan.

__ADS_1


"Anak-anak pasti akan mengerti kalau aku sudah menyerah dan tidak lagi memiliki kekuatan untuk bertahan." Gumam nadia masih terus terisak.


Yang paling menyakitkan adalah berada dalam situasi tertekan tapi orang yang paling dipercaya ternyata ikut menodai kepercayaan itu. Nadia sedang gelap, ia sama sekali tidak bisa berfikir jernih dan siapapun yang akan berbicara memberi penjelasan atau bahkan menenangkannya tidak akan nadia dengarkan. Mungkin sonya dan bramantyo sekalipun.


Tok tok tok


"Sayang, buka pintunya."


Terdengar ketukan pelan di pintu dan sudah pasti itu angga.


Tok tok tok


"Sayang"


Nadia tak bergeming, ia malah menutup kedua telinganya dengan telapak tangan. Seolah kebencian melingkupi relung hati nadia kepada angga. Hanya sekedar duduk dan melihat senyum angga yang terkesan lepas tanpa beban berhasil memantik api cemburu yang tadinya tak pernah muncul kepermukaan.


"Sungguh aku benci kamu mas, kebohongan adalah hal yang paling tidak aku sukai dan kamu tau itu." Batin nadia sambil tetap menutup kedua telinganya karena angga masih mengetuk pelan pintu kamar mereka.


Tok tok tok


"Sayang, buka pintunya. Mas ga mau sampai anak-anak tau kita berantem."


Tok tok tok


"Sayang"

__ADS_1


__________


__ADS_2