JODOH KU

JODOH KU
AYANK DEMAM


__ADS_3

"Mas bisa pulang kan? Ayank panasnya makin tinggi." Nadia terisak dengan ponsel masih menempel di telinganya.


Saat angga akan pergi kekantor untuk menghadiri meeting penting, nadia sudah mengeluhkan suhu tubuh aruna yang sedikit hangat. Tapi dengan janji bahwa angga tak akan lama dan akan segera pulang, nadia mau melepas angga untuk pergi kekantor.


Tepat jam sebelas siang, nadia dibuat panik dengan panas tubuh aruna yang sangat tinggi. Bahkan mba marni saja sampai ikutan panik dan meminta sopir untuk bersiap jika nadia ingin membawa aruna kerumah sakit.


Tangis aruna yang kencang membuat nadia ikuta menangis, dirinya yang baru menjadi seorang ibu membuat nadia belum bisa menguasai diri dengan bagus.


"Mba nad, ayo duduk dulu. Dekap aruna tanpa baju."


Sambil terisak nadia menuruti saran mba marni, ia melepas kancing bajunya sementara mba marni melepas baju aruna. Lima menit berada dalam dekapan nadia, aruna berangsur-angsur tenang dan mulai mau terlelap.


"Coba kasih mimik mba."


Walau sedotannya tak begitu bersemangat, tapi aruna masih mau meminum asi. Sampai angga tiba dirumah dengan dokter anak yang juga baru sampai atas permintaan angga.


"Sayang" wajah angga terlihat sangat panik.

__ADS_1


"Baru mau tidur, daritadi nangis terus." Nadia berbicara dengan bisikan karena takut putrinya akan terbangun.


"Mari bu, saya periksa." Dokter anak yang datang untungnya adalah seorang wanita jadi nadia tak perlu merasa sungkan karena saat ini dirinya sedang tak berpakaian dengan benar.


Dokter mendiagnosa demam yang aruna alami akibat pergantian cuaca jadi hanya perlu diberi obat dulu tapi jika sampai dua hari demamnya taj kunjung reda terpaksa harus dirujuk kerumah sakit untuk dirawat inap.


Sonya nadira bahkan bramantyo sampai datang karena mendapat telpon dari nadia dan angga yang mengabari keadaan aruna yang sedang demam tinggi. Raut wajah khawatir terlihat juga pada kakek dan nenek aruna yaitu bramantyo dan sonya. Walau sudah lebih dulu mengalami hal serupa tapi tetap saja mereka khawatir pada cucu sematang wayang yang menjadi kesayangan mereka.


"Kamu sudah makan nad?" Sonya mendekati putrinya yang masih mendekap erat tubuh gembul aruna yang terlihat sangat nyaman menempel pada sang ibu.


"Dir, ambilin mba mu makan."


"Siap"


Tanpa menolak, dira langsung melesat kelantai bawah untuk mencari makanan apa yang bisa ia bawakan untuk kakaknya yang sedang duduk memeluk keponakan gembul nya. Nasi hangat dengan lauk capcay dan ayam goreng berhasil nadira bawa dan ia dengan telaten menyuapkan sendok demi sendok makanan ke mulut nadia.


"Udahan dir, kenyang."

__ADS_1


"Ck" nadira melanjutkan nasi yang tersisa di piring.


"Mba harus minum vitamin habis ini buar ga ikutan tumbang, biasanya kalau bayi sakit suka rewel dan begadang."


"Hmm"


Kini giliran sonya yang datang dengan tablet vitamin ditangannya. Beruntungnya nadia memiliki ibu dan adik yang sangat perhatian bahkan ayah mertuanya pun sampai rela datang untuk menyambangi cucunya yang sedang demam. Dibalik cobaan yang belum usai antara dirinya bersama marini masih ada berkah lain yang menyertai kebahagiaan nadia.


"Makasih bu."


"Iya, kamu ikut tidur sekarang. Ibu sama dira mau kebawah, kami menginap disini kok."


"Iya bu, makasih ya. Nanti ibu sama yang lain makan malam aja duluan takutnya aku masih tidur."


"Iya, sudah tidur. Ibu sama dira keluar dulu."


_________

__ADS_1


__ADS_2