
Marin dengan penuh emosi membuang semua barang milik aruna dan nadia. Penyebab marini terbakar amarah adalah karena angga mengalami kecelakaan motor saat tengah malam membelikan nadia sate didepan gerbang komplek perumahan. Sebab itulah marini menjadi murka, pasalnya saat ini angga masih belum sadarkan diri akibat kecelakaan itu. Tentu saja ditengah malam menerima kabar mengenai kondisi angga membuat seisi rumah dilanda kepanikan, nadia langsung menangis sama halnya dengan marini.
"Perempuan pembawa sial." Bentak marini pada nadia yang baru saja pulang dari rumah sakit.
"Karena kamu angga sampai koma, kalau aja kamu ga manja minta sate tengah malam ga mungkin angga kecelakaan dan koma seperti sekarang. Pergi kamu dari sini, pembawa sial."
Mata masih sembab bahkan nadia belum sepenuhnya sehat setelah mendengar kabar bahwa suaminya mengalami kecelakaan dan tidak sadarkan diri. Pulang kerumah kembali harus melihat kenyataan pahit. Tanpa menjawab dan sempat masuk kedalam rumah, nadia meraih tangan aruna untuk ia genggam.
"Mba marni, saya minta tolong ajak siapa saja untuk membereskan semua barang saya dan ayank."
"Baik mba"
"Nanti kalau semua sudah beres telpon saya ya. Biar nanti yunus yang datang untuk urus semuanya. Mba marni juga kemasi barangnya, ajak yang dulu pernah ikut sama saya."
"Baik mba"
__ADS_1
"Tunggu kabar dari saya atau nanti mba marni ikuti saja yunus."
Nadia berlalu sambil menggandeng tangan mungil putrinya. Ia kembali menuju mobil milik angga yang tadi dikendarai oleh agus untuk mengantar nadia pulang kerumah.
"Pak agus bisa tolong carikan saya hotel terdekat dengan rumah sakit?" Tanya nadia pada agus.
"Bisa non"
Agus dengan sigap membuka pintu penumbang dan membantu istri serta putri bosnya untuk ia bawa pergi lagi. Melihat bagaimana perlakuan marini kepada nadia membuat agus merasa kasihan. Situasi yang sedang tidak baik malah marini menambah luka dihati menantunya.
Didalam mobil, nadia hanya terdiam sambil sesekali menjawab pertanyaan aruna yang menanyakan sesuatu. Pikiran yang kalut membuat fokus nadia buyar. Sandaran yang biasanya begitu sigap kini sedang terbaring tak sadarkan diri dirumah sakit. Hati istri mana yang tak sedih jika suaminya sedang berjuang dalam tidurnya.
"Iya nak, supaya dekat kalau mau jenguk papa."
"Papa kenapa boboknya lama sekali ma?"
__ADS_1
"Papa masih capek, sekarang ayank nonton TV dulu ya nak. Mama mau telpon tante dira untuk bawakan keperluan kita selama disini."
"Oke"
Nadia menelpon adiknya nadira yang kebetulan sedang libur untuk membawakan semua keperluannya selama tinggal dihotel dan juga membawakan susu serta pampers untuk aruna.
"Oke mba, sekitar dua jam lagi aku sampai ya. Ini ibu sekarang langsung siapin semuanya. Aku ke indom*ret dulu belanja susu sama pampers nya ayank."
"Makasih banyak ya dir."
"Iya"
Tut
Sambungan telpon terputus, nadia menatap sendu kearah putrinya yang sedang fokus pada televisi didepannya. Sedang mengandung diusir oleh mertua dan suami mengalami koma yang entah kapan angga akan sadar. Nadia harus menguatkan dirinya, ada aruna bayi dalam kandungannya serta angga yang membutuhkan dirinya.
__ADS_1
"Cepet bangun mas, aku ga akan sanggup bertahan seorang diri terlalu lama ga ada kamu." Nadia mengusap perut buncitnya sambil tangan satunya mengusap air mata yang keluar.
___________