
Nadia sudah terlambat hadir keacara ulang tahun teman sekolah aruna, dengan perut besarnya nadia berjalan semakin cepat.
"Huft, ya allah perut ku kram." Gumam nadia sambil memegangi perutnya yang terasa kram.
"Sayang" panggil angga yang ternyata juga sama terlambatnya dengan sang istri.
Karena kesibukan kedua orangtuanya aruna terpaksa diantar oleh sopir dan ditemani mba marni. Sejak pagi nadia harus sibuk di konveksi untuk mengecek kesiapan pesanan seragam pernikahan sementara angga ada beberapa meeting yang tak bisa diwakilkan. Beruntung aruna tidak ngambek saat harus pergi lebih dulu bersama pengasuhnya.
"Mas perutku kram."
"Mas sudah lihat kamu jalannya buru-buru pas keluar taksi tadi. Mau mas kejar tapi belum dapat parkiran. Ayo kesana, disana ada kursi. Masih kuat jalan sampai kesana?"
Angga membantu nadia berjalan. Ingin menggendong namun sayangnya angga tak akan sanggup mengingat bobot tubuh madia sudah bertambah entah berapa kilogram karena nadia tak pernah mau memberitahukan berat tubuhnya saat ini.
"Ssstttt"
"Yaampun sayang." Wajah angga terlihat panik.
"Nanti tolong mintakan air hangat atau minuman hangat ya mas."
__ADS_1
"Iya iya, ayo duduk dulu. Kakinya dinaikan saja jangan ditekuk."
Celingukan angga mencari siapa saja yang bisa dimintai tolong untuk menjaga nadia sebentar karena dirinya ingin mencari minuman hangat.
"Pak" mba marni yang ternyata jeli langsung menghampiri majikannya sambil menggandeng tangan aruna.
"Mama kenapa?"
"Ga apa sayang." Jawab nadia sambil berusaha menahan kram diperutnya.
"Pak angga tunggu disini saja biar saya carikan minuman hangat untuk mba nadia."
"Iya iya, terimakasih ya mba."
"Hmm"
"Lihat siapa lu ra?
"Itu, mantan suami gue sama istri barunya."
__ADS_1
"Angga? Angga wijaya?"
"Hmm"
"Serius mana? Anaknya teman anak inez? Kok gue ga dapet info dari si inez ya."
"Lu lihat, bahagia banget mereka. Beda banget si angga waktu sama gue dulu. Cuek jangankan perhatian kayak gitu tanya kabar gue gimana aja ga pernah."
"Hmm, ra. Itu udah masa lalu, sekarang lu juga udah bahagia sama anak dan suami lu kan."
"Tapi teta beda. Kalau sama dia gue bebas sekarang apa apa harus hemat."
Tiara menikah dengan ayah bayi yang dikandungnya. Walau memang atas dasar cinta tapi tetap saja tiara merasa tidak menemukan kebahagiaan yang benar benar diinginkannya. Uang adalah nomor satu dari segala-galanya bagi tipe orang seperti tiara.
"Ingat bersyukur ra, lu udah pernah menikmati kekayaan mantan suami lu itu bahkan gono gini yang lu dapetin menurut gue udah lebih dari cukup. Sekarang lu jangan nyesel karena emang jodoh lu sama dia ga ada."
"Ck, harusnya gue emang ga bodoh dengan hamil waktu itu. Tapi gue penasaran siapa sekarang perempuan yang dia nikahin sampe bisa bikin dia seperhatian itu sama istrinya."
"Ga tau juga, semenjak kalian cerai suami gue cuma cerita kalau pak angga udah nikah lagi tapi istrinya emang ga pernah dibawa keacara acara. Kayak sengaja disembunyikan."
__ADS_1
"Beruntung banget perempuan itu."
__________