JODOH KU

JODOH KU
LELAH


__ADS_3

Bertahun-tahun nadia bersabar menahan diri atas semua perlakuan yang ibu mertuanya berikan. Sampai detik ini nadia masih kerap menangisi ketidaksempurnaan pernikahannya bersama dengan angga. Anak-anak sudah semakin besar tapi masih saja marini acuh terhadap ketiga cucunya. Ibu mana yang tak terluka melihat buah hatinya tak sama sekali mendapat perhatian dan cinta kasih dari sang nenek. Apalagi marini belum juga berhenti menjodohkan angga dengan banyak wanita yang menurutnya pantas menjadi menantunya pendamping putra semata wayangnya.


"Berhenti menangis, semua tidak akan berubah dengan air mata yang menetes dari matamu."


Dengan gerakan cepat nadia mengusap kebasahan di pipinya saat mendengar perkataan sonya ibunya.


"Bu"


"Ibu tau kamu lelah dengan keadaan ini, tapi nad. Kamu harus ingat selama ini kamu bertahan sejauh ini bukan untuk terus menangis."


"Aku lelah bu."


"Beristirahatlah saat kamu lelah, jangan satu permasalahan ini sampai menghancurkan kebahagiaan keluarga kecil mu."


"Sampai kapan ibu mertua ku akan terus begini bu?"


"Entah, ibu tak tau. Yang pasti kamu harus terus melewati semua ini. Cobaan dalam rumah tangga itu akan selalu ada jadi kamu jangan pesimis di pertengahan jalan begini."


"Aku sudah berusaha menurunkan ego untuk mengambil hati mama tapi hasilnya masih saja sama. Mama tidak berhenti mencarikan wanita untuk mas angga dan yang paling menyakitkan adalah anak-anak selalu diacuhkan tak sekalipun mama menganggap mereka ada. Melihat mereka bertiga terluka yang paling membuat hati ku sakit."

__ADS_1


"Ck, sayang dari ibu untuk ketiga anakmu sudah lebih dari cukup nad. Apalagi opa mereka luar biasa menyayangi mereka, jangan karena satu orang saja kamu jadi seperti orang tak waras begini."


"Bu"


"Selesaikan air mata mu sekarang dan tersenyumlah."


Sonya menepuk pundak nadia dan beranjak pergi. Bukan tidak perduli atau merasa kasihan hanya saja sonya juga merasa begitu terluka saat mengingat kepedihan yang selama ini nadia alami.


"Ibu adalah orang yang paling pertama merasa tersayat melihat kepedihan yang kamu alami nad."


Susah payah sonya menahan air mata agar tak keluar didepan nadia karena ia tak ingin membuat nadia semakin bersedih.


.


.


"Kak"


"Ma, kenapa mama selalu saja diam saat oma berulah?"

__ADS_1


"Kak, jangan begitu."


"Aku lelah dengan perlakuan oma kepada kita. Memangnya oma pikir dia berhak mengatur kehidupan kita."


"Kak, tahan emosi mu nak."


"Aku ga akan mau lagi bersikap baik sama oma."


"Aku juga"


"Hans juga."


Melihat ketiga buah hatinya kompak membuat nadia menghela nafas berat. Anak-anak bukan bayi lagi, mereka sudah bisa menilai dengan sudut pandang mereka sendiri. Jadi nadia maupun angga tak lagi bisa mengatur pemikiran mereka seperti dulu.


"Mama hanya bisa bilang, bagaimanapun oma dia tetap oma kalian. Jaga kesopanan kalian dan tetap lah hormat kepadanya."


Aruna kenzo dan hansel memandang sedih kearah nadia yang matanya terlihat sembab karena baru saja selesai menangis. Wajah lelah terlihat jelas membuat penampilan nadia begitu berantakan. Tak lagi bisa menutupi kegundahan hatinya didepan anak-anak membuat nadia begitu menyedihkan. Keberadaan angga yang saat ini sedang dirumah orangtuanya semakin meyakinkan kalau keadaan sekarang sedang tidak baik-baik saja.


"Kak, telpon papa." Kenzo memberi perintah pada aruna untuk menelpon ayah mereka.

__ADS_1


__________


__ADS_2