
Mendengar cerita angga tentang nada yang menuntut pertanggung jawaban atas benih yang tidak angga tanam malah membuat nadia tertawa cekikikan. Angga bercerita dengan begitu menggebu-gebu sampai nafasnya tersengal-sengal tapi respon yang diperoleh malah diluar bayangan angga.
"Kenapa kamu malah ketawa? Harusnya kamu kesel marah, suami mu dimintai pertanggungjawaban atas anak yang dikandung wanita lain."
Nadia masih terus tertawa sampai air matanya keluar dan suaranya serak.
"Aduh, mas."
"Kapok, makanya jangan ketawa."
Angga tersungut sungut kesal tapi berjalan kearah dispenser untuk mengambilkan air untuk istrinya.
"Nih, minum dulu. Tarik nafas yang panjang, jangan ketawa terus. Lagian kenapa sih malah ketawa bukannya marah."
__ADS_1
Masih terus mengomel angga berlalu kekamar mandir untuk membersihkan diri. Pekerjaannya hari ini lumayan banyak ditambah lagi kedatangan nada siang tadi membuat kepala angga semakin panas. Mandi adalah solusi paling pas bagi angga untuk meredakan panas dikepalanya saat ini.
Hampir setengah jam didalam kamar mandi akhirnya angga keluar dengan wajah segar. Tak mendapati keberadaan istri juga putrinya didalam kamar, angga memutuskan untuk turun kelantai satu.
"Lihat istri dan anak saya mba?" Tanya angga pada salah satu asisten rumah tangga yang bekerja disana.
"Lagi di gazebo sama bapak dan ibu mas."
Sempat terkejut mendengar hal itu angga langsung melangkahkan kakinya ke arah gazebo yang letaknya berada diteras samping rumah besar itu. Pemandangan yang menyejukkan mata, aruna tengah bermain dengan seekor kelinci yang sepertinya baru bramantyo belikan. Sementara nadia sedang sibuk dengan nampan buah dipangkuannya dan marini hanya duduk dikursi roda memperhatikan dengan tatapan malas kearah suami serta cucunya.
Angga berusaha mengontrol perasaannya dan menormalkan mimik wajahnya agar tak mengundang kecurigaan orang lain yang melihat ekspresi wajah angga saat ini.
"Lagi ngapain?" Angga duduk disebelah nadia yang masih terus sibuk dengan buah buahan yang sedang ia kupas.
__ADS_1
"Kupas buah, sebentar lagi selesai kok biar dicuci dulu baru dimakan ya." Nadia masih fokus dengan buah dan pisau ditangannya. Berbicara tanpa menoleh kearah angga yang duduk disampingnya.
"Hmm, kelincinya ayank baru ya?"
"Iya, papa yang belikan. Tadi pas mas mandi mba marni keruk pintu katanya papa belikan ayank kelinci tiga pasang."
"Apa? Tiga pasang kenapa banyak banget."
"Entah mas tanya papa aja sana kenapa belikan apa apa untuk ayank selalu banyak."
Setiap kali membelikan sesuatu untuk aruna, bramantyo tak pernah membeli hanya satu minimal tiga atau bahkan lima karena jika ditanya kenapa belinya banyak bramantyo akan selalu menjawab meminimalisir kerusakan atau kemungkinan mati. Terdengar konyol, tapi antisipasi yang bramantyo lalukan adalah benar.
"Mama mau buah?"
__ADS_1
Setelah selesai dengan buahnya, nadia lebih dulu menawarkan buah potong kepada ibu mertuanya. Seperti biasa, nadia hanya akan menerima penolakan dari marini walau sudah berulang kali bahkan setia hari tapi nadia tak pernah merasa bisan dan kapok untuk terus berusaha mendekatkan diri. Rasa kecewa yang nadia rasakan sudah tak berarti lagi bagi nadia. Mati rasa, begitulah kira kira perasaan nadia untuk sekarang.
__________