
Sedang berada dititik terendah dalam hidupnya, nadia terus memantik api amarah dengan menjawab dan menyangkal setiap perkataan angga. Angga yang terus disudutkan sudah tak sanggup menahan diri saat melihat sisi lain dalam diri istrinya. Isi kepala angga terpecah fokusnya tidak hanya pada amarah nadia tapi ia juga memikirkan apa yang terjadi diluar kamar kalau anak-anak atau bahkan para pekerja dirumahnya mengetahui keributan didalam kamar utama.
"Please nad, stop. Jangan terus bicara ngelantur." Angga menurunkan egonya dan berusaha membujuk nadia kembali.
Isak tangis yang terdengar dari mulut nadia sebagai jawaban terakhir pertanda perdebatan mereka sudah selesai. Mungkin saja nadia terlalu banyak memendam semuanya seorang diri dan inilah saatnya ia menyampaikan rasa lelahnya. Tentu saja terjadi beberapa hari ini tidak dibenarkan tapi jika sudah emosi yang berbicara maka akan lain ceritanya.
Angga merengkuh bahu nadia yang terus bergetar untuk masuk kedalam pelukannya. Pelukan yang sejak dulu selalu hangat dan menenangkan. Bukan hanya sekedar pelukan saja tapi nadia juga butuh didengarkan. Kesibukan angga diluar rumah juga menjadi salah satu pemicu merenggangnya hubungan mereka, sudah sedikit jarang mengobrol dari hati ke hati sehingga nadia terlihat murung.
"Sayang, maaf. Maafkan mas sudah terus melukai perasaanmu." Ucap angga lihir sambil mengusap punggung nadia yang masih menangis.
"Mas akan perbaiki semuanya, mas akan usahakan hal itu untuk rumah tangga kita untuk kebahagiaan anak-anak kita."
Dalam pikiran angga yang sedang berantakan terselip keinginan untuk benar-benar menjauhkan diri dari sang ibu. Nyatanya beberapa hari berkonflik dengan sang istri berhasil membuat angga berantakan. Semua pekerjaan terbengkalai belum lagi moodnya menjadi sangat hancur.
Tring tring tring
__ADS_1
Mendengar suara ponsel angga, nadia melepaskan pelukan mereka. Angga yang mengerti arti dari lirikan mata nadia kearah ponsel langsung meraih ponsel dan mendapati nama marini yang sedang menelpon.
"Mama" gumam angga tapi nadia bisa mendengarnya.
"Ya halo ma." Angga menlousdpeker panggilannya agar nadia bisa ikut mendengar apa yang marini katakan.
"Kamu dimana nak?"
"Aku dirumah ma."
"Kita ketemuan ya nak, di plaza xxx jam makan malam. Ini mama lagi sama erika perawatan terus nanti selesai perawatan kita makan malam bersama." Ucap marini panjang lebar.
Sorot mata marah begitu kentara bahkan wajah nadia sudah memerah saat ini.
"Memang kejam sekali ibu mertuaku ini." Pikir nadia nadia dalam hati.
__ADS_1
"Ih, ayolah nak. Dari rumah mu kan hanya satu jam ga lama. Siap-siap sekarang kan waktunya masih banyak." Masih terus berusaha membujuk marini tak patah semangat untuk mencapai keinginannya.
Greb
Dengan sekali tarik, nadia merampas ponsel dari tangan angga.
"Halo ma, ini nadia."
"Ck" Marini berdecak saat ponsel angga beralih kepada nadia.
"Apa?" tanya marini ketus.
"Kalau mama masih terus menjodohkan mas angga dengan wanita-wanita yang mama sukai aku akan laporkan mama dengan tuduhan merusak dan mengganggu ketentraman rumah tangga ku. Mama yang suka kenapa tidak mama saja menikahi mereka kenapa harus terus mengganggu kebahagiaan ku?"
Keberanian nadia selalu bertambah berlipat lipat jika sudah mendapat perlakuan serupa dari ibu mertuanya.
__ADS_1
"Sayang" angga memeluk erat nadia dari arah belakang. Mendengar perkataan nadia barusan membuat angga sadar betapa nadia terluka selama ini.
__________