JODOH KU

JODOH KU
NO


__ADS_3

"Maaf ya sayang. Mas janji ga akan kecolongan lagi nanti akan minta agus untuk lebih tegas lagi kalau ada kunjungan keluar kota atau luar negeri."


"Ya"


"Sayang"


"Harusnya memang bawa satu orang untuk nemenin, ga harus pak agus kan ada orang lain yang bisa ikut berangkat. Menurut orang mungkin ini hal sepele tapi dari hal kecil lah kita harus menjaga supaya ga terjadi hal hal lain yang akan membahayakan mas nantinya."


Angga membenarkan apa yang menjadi alasan kemarahan nadia. Kesalahan kecil jika tidak ditegaskan maka akan terus berulang ulang dan kelak akan menjadi sebuah kebiasaan yang bisa saja merugikan. Memproteksi diri dengan norma norma ketimuran sangat diperlukan untuk menjaga jati diri kita agar dihargai oleh orang lain diluar sana.


"Marahnya udahan ya? Mas jangan didiemin terus. Kesepian,"


Angga bergelayut manja dipangkuan nadia yang sedang duduk bersandar dikepala ranjang. Belum semenit angga menikmati usapan tangan nadia dikepalanya sudah datang bocah bawel pengganggu.


"Kenapa papa tidul dipangkuan mama?"


Aruna datang dengan wajah tak sukanya melihat kedua orangtuanya sedang santai ditengah ranjang hanya berdua tanpa dirinya.


"Sini nak" panggil andia sambil melambaikan tangannya.


"Ayank ayo sini."


"Huh" dengan berkacak pinggang aruna menggeleng keras menolak untuk mendekat.

__ADS_1


"Papa hanya boleh sama ayank."


"Oke papa mendekat dan akan bersama ayank."


Paham putri kecilnya sedang merajuk angga langsung datang dan menggendong aruna untuk bergabung diranjang bersama dengan nadia.


"Tidak boleh merajuk, karena jika mama dan ayank merajuknya bersamaan atau bergantian seperti ini papa jadi pusing tujuh keliling."


"Huh" kompak ibu dan itu mendengus bersamaan mendengar ledekan dari angga.


"Ayank tidak ngambek." Ber-sidekap aruna menjauh dari angga.


"Papa kemana saja?"


"Hmm,ana oleh olehnya?"


"Ooo astaga, papa ga beli apa-apa untuk ayank dan mama."


Melupakan oleh-oleh untuk aruna yang memang belum sempat angga beli karena selama tiga hari disana kegiatan yang angga ikuti sangat padat sekali.


"Maaf sayang, papa tidak sempat beli apa-apa."


"Ya sudah ga apa, tapi sekalang ayank mau gelato."

__ADS_1


Kesempatan bagi aruna untuk meminta gelato kesukaannya karena nadia sangat membatasi aruna dalam menikmati es permen dan coklat.


"Gimana ma?" Angga meminta ijin pada nadia untuk permintaan yang putri kecil mereka ajukan.


"Boleh, tapi akhir pekan ga boleh lagi minta gelato."


"Yes, oke mama." Aruna langsung melompat kegirangan.


"Ayo pa kita beli gelato nya sekarang."


"Ayo, sayang ayo ganti bajunya sekalian kita beli buah atau cari camilan yang segar.'


"Hmm"


Berbaikan dengan mengobrol lalu tanpa rencana menghabiskan sore dengan keluarga kecil sudah cukup membuat hati angga bahagia. Melihat bagaimana nadia dan aruna tersenyum sungguh membuat angga merasa bangga karena hanya dengan hal sederhana mereka bisa menikmati hari bersama. Jauh dari kemewahan hanya makan gelato lalu mencari buah segar yang entah nanti sampai dirumah akan diolah menjadi apa.


"Uang memang segalanya, tapi senyum ceria anak dan istri jauh lebih dari segalanya. Seandainya saja mama mau bergabung menikmati kebahagiaan yang aku miliki sekarang pasti semua akan terasa lebih lengkap lagi." Angga membatin sambil mengikuti langkah kaki nadia yang sibuk menyusuri setiap lorong supermarket.


"Mau ice cream boleh?"


"No" kompak mendapat penolakan membuat aruna yang duduk didalam troli cemberut.


__________

__ADS_1


__ADS_2