JODOH KU

JODOH KU
TOXIC


__ADS_3

"Ga sangka kalau mba marini bakal bohongi kami. Berjanji akan menikahkan nada putri saya dengan angga ternyata angga sudah menikah dan memiliki anak." Lantang suara ibu nada berbicara disalah satu pertemuan ibu-ibu sosialita yang biasa mereka hadari.


Marini tertunduk malu, didepan banyak orang ia dipermalukan.


"Anak saya sudah berharap besar untuk menjadi istrinya angga eh malah ketipu. Kalau sudah begini, harusnya mba marini ganti rugi ke saya."


Mendengar kata ganti rugi marini seketika mengangkat tinggi wajahnya. Merasa tak pernah merugikan nada dan orangtuanya, marini dibuat bingung dengan maksud ganti rugi itu.


"Maaf, kerugian apa yang kamu alami atas perjodohan yang kemarin kita sepakati?"


"Waktu, perasaan nada terhadap angga. Mba marini sangka kami ga dirugikan karena nada terus berusaha mendekatkan diri dengan angga tapi selalu menerima penolakan."


Mendengar hal itu, marini jadi tau seperti apa orang yang dipilihnya untuk menjadi menantu. Mata duitan dan tidak mau rugi, itulah penilaian yang bisa langsung marini simpulkan.


"Owh, rugi waktu? Lalu bagaimana dengan semua pemberian saya yang berupa materi? Apa perlu saya sebutkan dan saya minta ganti rugi juga?"

__ADS_1


Bersikap elegant marini langsung bisa membungkam ibunya nada. Tentu saja tak sedikit uang yang sudah marini keluarkan untuk nada. Tas branded pakaian jam tangan dan masih banyak lagi barang mewah lainnya belum lagi uang cash dan uang yang ditransfer.


Diam, ibunya nada tak lagi bisa berkutik. Mengingat begitu banyak barang dan jumlah uang yang ia dapatkan dari marini membuat ibunya nada tak bisa berkata-kata lagi.


"Jeng eni, saya keluar dari perkumpulan ini. Untuk uang sisa pembayaran arisan saya tiga kali lagi akan langsung saya transfer besok kebetulan bulan lalu saya yang nembus. Saya permisi, maaf ga bisa ikut acara sampai selesai. Dan untuk konsumsi hari ini saya yang traktir sebagai salam perpisahan."


Marini bangun dari duduknya dan berjalan ke kasir untuk membayar tagihan meja tempat ia dan teman-temannya berkumpul.


"Meja lima belas totalnya berapa mba?"


"Lima belas juta tujuh ratus ribu bu."


"Kalau ada tambahan lagi mba bisa minta sama mereka sebelum pulang ya."


"Baik bu."

__ADS_1


"Mari mba, terimakasih."


Pergi dengan secuil rasa malu tapi keputusan yang marini buat malah membuat dirinya bisa melangkah dengan lega. Terbebas dari pergaulan toxic membuatnya sedikit merasa bebas.


"Ga semua yang terlihat bagus memang aslinya bagus. Tapi ga semua yang terlihat jelek di dalamnya akan bagus."


Masih saja, nadia dikaitkan dengan semua hal yang membuat marini kesal. Memang jika kebencian sudah mendarah daging akan sangat sulit menilai baik buruknya seseorang walau seseorang yang bersangkutan tak pernah sekalipun berbuat jelek pada kita.


Brak


"Pulang ya pak."


"Baik bu."


Duduk dengan wajah tak bersahabat, marini menatap jalanan dengan pikiran kosong. Sepi dan rindu bergelayut dihatinya. Rindu akan kasih sayang dari suami dan rindu bisa memanjakan angga. Beberapa hari ini marini begitu merasa kesepian. Tinggal satu atap tapi seperti orang asing, jangankan untuk saling bercanda seperti biasanya bahkan bertegur sapa pun marini tidak dengan bramantyo.

__ADS_1


Mereka lebih banyak diam, saling menguatkan ego dan ingin menang untuk tujuan yang berbeda.


__________


__ADS_2