
Angga terus berpacu dengan sisa tenaga yang dimilikinya.
"Udah mas"
"Iya sayang sedikit lagi sampai."
Nadia akhirnya bisa bernapas lega setelah angga menyelesaikan babak ketiga permainan mereka. Peluh membanjiri tubuh keduanya, senyum kepuasan penuh cinta tercetak diwajah lelah angga. Mereka mendapat kesempatan untuk menghabiskan malam berdua setelah nadira berhasil merayu aruna untuk menginap bersma dirinya. Tentu saja dengan iming iming mainan dan nadira mendapat asupan dana dari kakak iparnya yang tak lain adalah ayah aruna sendiri.
Aruna masih berusia dua tahun lebih tapi angga sudah berkeinginan untuk menambah momongan lagi. Jadi kesempatan yang ia dapatkan kali ini begitu angga maksimalkan agar nadia cepat hamil kembali.
"Mas inget lepas kan tadi."
"Tentu sayang" ucap angga berbohong.
Beberapa kali mencoba menggunakan alat kontrasepsi tapi tubuh nadia terus menolak jadi mereka memutuskan untuk KB sendiri dengan cara angga yang harus bisa mengontrol diri.
"Aku lagi subur soalnya."
Mendengar kata subur sontak saja angga bersorak dalam hati. Harapannya untuk segera memiliki anak lagi makin besar kemungkinannya.
"Amin amin amin, semoga hamil ya allah." Batin angga karena tak berani berucap langsung didepan istrinya.
__ADS_1
Kalau saja nadia tau angga sedang berbohong entah amukan singa lapar atau singa apa yang akan angga dapatkan. Sejatinya, nadia masih ingin fokus pada aruna mengingat usia aruna yang baru dua tahun. Tingkah lucu aruna yang membuat nadia masih belum mau hamil kembali.
Bersandar dikepala ranjang angga dan nadia mengobrol membucarakan banyak hal. Mengenai perusahaan bisnis pakaian yang masih nadia geluti sampai bagaimana keseharian aruna dan juga membahas orangtua dan nadira. Kesempatan berdua seperti ini mereka manfaatkan dengan baik, selain untuk memadu kasih secara bebas juga mereka kerap kali membahas hal-hal sepele sampai hal penting untuk semakin mengeratkan hubungan.
"Apa ayank mau disekolahin sekarang aja?" Tanya angga hati-hati, pasalnya nadia masih enggan menyekolahkan aruna.
"Ga ah mas, kasihan. Kalau harus sekolah dan punya kegiatan rutin, takut anaknya bosan nanti."
Benar juga pikir angga, tapi angga ingin aruna bisa sedikit demi sedikit belajar mandiri sebelum memiliki adik.
"Ya sudah tahun depan saja kaau gitu."
"Sayang."
"Ya mas, kenapa? Kok sepertinya mau serius ini obrolannya." Tanya nadia yang sudah paham logat dan nada suara angga.
"Soal anak."
"Mas masih pengen nambah sekarang?"
"Hmm" angga mengangguk mantab.
__ADS_1
"Kasihan ayank, aku ga tega kalau dia punya adik diusia dua tahun."
"Kalau hamil sekarang kan dia udah usia tiga tahun nanti."
Nadia semoat diam cukup lama, entah membenarkan ucapan angga atau ia sedang berfikir untuk menolak lagi hamil.
"Sebenarnya bukan hanya karena ayank, tapi juga mama."
Deg
Angga langsung bergetar mendengar nadia menyebutkan ibunya sebagai salah satu alasannya.
"Kenapa?"
"Mas, maaf. Mama sampai sekarang ga mau menganggap ayank, bagaimana kalau anak kedua ku juga mengalami hal yang sama dengan ayank?"
Tes, air mata nadia langsung luruh. Menahan diri lumayan lama akhirnya nadia membuka suara alasan yang sebenarnya.
Tentu saja angga tak menyangka jika nadia bisa sampai berfikir begitu jauh. Tapi memang ada benarnya juga, sampai detik ini marini masih kekeh dengan pendirian dan keegoisan hatinya. Jangan tanyakan seberapa lelahnya angga nadia bahkan bramantyo, meluluhkan marini yang hatinya entah terbuat dari apa.
__________
__ADS_1