JODOH KU

JODOH KU
MARINI


__ADS_3

Bisa ku rasakan ketulusan dari setiap perlakuan yang nadia lakukan selama mengurus dan merawat ku. Tapi entah mengapa, kebencian seolah mendarah daging dihati. Tak ada sedikitpun rasa simpatik atau rasa suka untuk nadia sejak awal angga mempertemukan ku dengannya. Penilaian awal ku tentang nadia adalah dia gadis matre yang ingin hidup enak dan nanti menguasai seluruh diri angga sampai harta kami.


Awal bertemu nadia, penampilannya memang sederhana layaknya anak muda jaman sekarang hanya saja memang tak ada barang mahal yang melekat ditubuhnya dan itu masih tetap sama sampai sekarang. Sudah hampir tiga bulan nadia dan putrinya yang ku ketahui diberi nama aruna dan dipanggil ayank oleh semua orang tinggal bersama setelah aku keluar dari rumah sakit.


Dengan telaten nadia mengurus ku, mulai dari memandikan menyuapi memberi obat bahkan tak jarang ia menemani ku menonton televisi walau tak ada percakapan diantara kami. Nadia tak pernah memperlihatkan wajah kesal atau marah saat aku terus mengabaikannya saat mengajak diriku berbicara. Terbuat dari apakah hatinya? Begitu pikiran ku, kenapa ia bisa dengan sangat santai dan mau terus merawat ku sampai sekarang.


"Bu, mari saya bantu untuk kekamar mandi."


Mba marni, pembantu yang angga bawa bersama dirinya saat mereka pindah kesini datang tanpa nadia.


"Mba nadia sedang menjaga ayank, dari siang ayank sedikit rewel karena tadi pagi selesai menyuapi ibu ayank diimunisasi."

__ADS_1


Marni seolah mengerti arti diak yang ku lakukan. Baru pertama kali nadia tak datang kekamar ku disaat jam aku harus mandi makan atau minum obat. Biasanya ia tak akan pernah telat sekalipun, bahakan sebelum jam mandi atau makan nadia sudah ada didalam dikamar ku.


Ada rasa ingin menanyakan keadaan anaknya anak yang katanya sedang rewel akibat imunisasi. Tapi ku urungkan niat bertanya karena ego ku masih terlaku besar untuk sekedar membuka mulut dan menanyakan perihal orang yang ku tak ku sukai.


"Ibu mau makan sekarang atau nanti?"


"Nanti saja, tapi tolong bawakan saya buah ya."


"Terimakasih ya."


Setelah kepergian marni dari kamar ku, aku kembali sendirian. Bramantyo suami yang dulu begitu pengertian dan mau menjaga ku saat aku sakit kini malah terlaku sibuk dengan segudang kegiatannya. Entah ia keluar rumah dengan urusan apa. Bramantyo lebih banyak menghabiskan. waktu ya diluar rumah.

__ADS_1


"Sudah tak ada telpon tak ada wa atau candaan lagi diantara aku dan papa."


Marini duduk seorang diri didalam kamar mewahnya. Televisi menyala tapi tak sama sekali menghapus rasa sepi yang menghantui dirinya.


"Kalau saja bukan nadia yang angga nikahi pasti sku masih memiliki hubungan yang baik bersama mereka. Candaan sikap manja dan perdebatan kecil yang kerap menghiasi hari sekarang semua sibuk sendiri-sendiri dan mengabaikan aku yang sedang menderita sakit."


Marini bergumam seorang diri. Keegoisannya masih terus merajalela di dirinya. Jangan tanya orang lain karena marini pun tak tau awal mula rasa bencinya terhadap nadia dimulai darimana. Nadia sudah bersikap bakti dan membuang jauh-jauh egonya tetap saja tak bisa meluluhkan sikap keras kepala yang melekat pada diri marini.


"Sekali kebencian itu ada, kenapa begitu sulih enyah dihati mama. Padahal aku sudah begitu merendah dan melakukan semua yang terbaik untuk mama."


Nadia mengintip dari celah pintu kamar ibu mertuanya yang tak tertutup rapat.

__ADS_1


___________


__ADS_2