
Bukan karena tak mampu tapi lebih ke rasa nyaman dan sesuai dengan kepribadian. Nadia yang memang suka berpenampilan biasa-biasa saja selalu mendapat cibiran dari istri teman sejawat suaminya setiap ikut menghadiri suatu acara jika angga meminta dirinya untuk ikut menemani. Seringkali gaun yang nadia kenakan adaah rancangannya sendiri dan tas serta sepatu pun merk lokal yang harganya tentu tak semahal barang branded yang biasa ibu-ibu sosialita kenakan. Kerap kali dikucilkan tak lantas membuat nadia kecil hati, malah nadia jadi tau mana teman dan mana lawan yang sebenarnya.
"Sudah siap sayang?" Angga berdiri dibelakang nadia yang malam ini mengenakan setelan berwarna navy hasil rancangannya yang terbaru. Penampilan nadia terlihat sangat berkelas ditambah dengan sepatu high hills berwarna silver dan tas selempang dengan warna senada.
"Sudah, mas mau aku ganti baju?" Tanya nadia basa-basi.
Angga menggelengkan kepala sambil memperhatikan penampilan istrinya dari atas ke bawah.
"Kenapa harus ganti? Begini sudah cantik, ga perlu jadi orang lain kalau kamu ga nyaman."
Pernah beberapa kali meminta nadia untuk membeli beberapa barang branded tapi nadia memberi jawaban yang masuk akal membuat angga tak pernah lagi memaksa. Kecantikan bukan masalah mahal harga yang melekat ditubuh melainkan pantasnya barang yang dikenakan.
"Makasih ga pernah protes." Nadia membenahi letak tasnya sembari mengulas senyum.
"Sama-sama, asal ingat nanti malah jatah mas jadi double."
"Hah?"
Mendengar perkataan angga, nadia langsung menelan ludahnya kasar. Ingat jika menghadiri sebuah acara maka angga pasti akan membawa nadia untuk bermalam dihotel dan memanfaatkan waktu yang ada.
"Udah ayo"
__ADS_1
.
.
Benar saja, bisik bisik langsung terdengar saat nadia dan angga sampai ditempat acara. Mencibir dengan kata-kata merendahkan sudah pasti keluar dari setiap orang yang memang tak menyukai nadia. Selain memang karena nadia yang tak mau mengikuti gaya hedon yang lainnya juga karena keberuntungan nadia bisa menjadi yang terpilih. Cinta angga yang begitu jelas terpancar, dari gerak tubuh serta tatapan mata memuja tentu saja membuat kaum hawa merasa iri.
"Hih, selalu pakai pakaian kampungan. Dasarnya orang udik ya tetap saja. Padahal pak angga itu kurang apa coba."
Salah satu istri pengusaha yang juga turut hadir selalu menjadi yang paling pertama menjelekkan nadia disetiap acara yang nadia hadiri. Jika berbicara kekayaan suaminya jauh diatas angga tapi memang dasarnya iri hati sudah melekat sudah pasti nadia akan terus terlihat jelek dimatanya.
"Kayaknya itu baju rancangan lokal lagi yang dipakai. Sebenarnya model yang dipakai selalu up to date hanya saja ga bermerek aja."
Meja satu dan meja yang lain sama saja, silih berganti membicarakan nadia yang dengan sangat tenang duduk disebalah angga. Tangan angga selalu setia mengganggam erat tangan nadia dibawah meja, bukan untuk menguatkan akan suatu kondisi melainkan memang sudah menjadi sebuah kebiasaan. Angga taj ingin nadia merasa sendirian karena menemani angga datang kesebuah acara resmi sepeti ini.
"Mau ke toilet?" Bisik angga saat sudah tak ada obrolan dengan teman semeja mereka.
"Ga mas, aku ga pengen ke toilet kok."
"Kalau kebelet bilang ya, jangan ditahan. Setengah jam lagi kita pulang."
"Hmm"
__ADS_1
Benar saja, sesuai perkataan angga. Setengah jam kemudian angga membawa nadia naik kelantai dimana kamar yang sudah angga pesan sebelumnya.
"Ngamar mas?" Tanya nadia dengan wajah keki.
"Tentu, besok pagi baru pulang. Seperti biasa,"
"Ck'
"Anak-anak pasti aman sama ibu. Ga usah khawatir,"
"Aku ga khawatir sama anak-anak."
"Terus?"
"Aku khawatir sama diriku sendiri."
"Bhahahahahhaa"
Tawa angga pecah saat mendengar jawaban yang nadia berikan. Nadia pasti tak akan lupa bagaimana angga bermain disaat memiliki waktu bebas berdua seperti sekarang, tanpa gangguan anak-anak.
__________
__ADS_1