
Waktu seminggu bagi nadia adalah setahun lamanya, penantiannya menunggu angga membuka mata akhirnya membuahkan kelegaan. Tepat saat adzan subuh tadi pagi angga membuka mata saat mendengar nadia melantunkan ayat suci alquran setelah melakukan sholat subuh. Tangis haru mewarnai pagi tadi, begitu erat pelukan nadia pada tubuh lemah suaminya.
"Makasih mas, mas mau bangun walau aku harus nunggu seminggu." Suara nadia disela isak tangisnya. Sore kemarin bramantyo harus terbang keluar kota untuk menyelesaikan permasalahan dengan salah satu rekan kerja perusahaan jadi nadia yang harus menjaga angga dirumah sakit bersama dengan aruna dan juga nadira.
"Papa" aruna mendekat kearah ranjang angga saat mendengar suara tangis ibunya.
"Ayank nya papa. Sini nak" dengan gerakan tangan lemas angga memanggil putrinya untuk mendekat.
"Papa sudah bangun? Kenapa boboknya lama sekali?" Pertanyaan polos yang aruna lontarkan seketika membuat hati angga dipenuhi rasa bersalah.
"Maafkan papa sudah tidur terlalu lama. Ayank capek tunggu papa bangun?"
"Hmm" anggukan kepala aruna menambah sesak didada angga.
__ADS_1
Begitu melihat angga terbangun nadira yang juga ada diruangan itu dengan sigap keluar untuk memanggil perawat dan dokter jaga untuk memeriksa kondisi angga pasca koma selama satu minggu.
Beruntung tak terjadi apa-apa pada angga setelah dokter melakukan pemeriksaan hanya saja disarankan agar angga kembali melakukan pemeriksaan secara menyeluruh untuk lebih meyakinkan kembali bagaimana kondisinya saat ini. Tak ada luka serius tapi benturan dikepalanya membuat angga sampai tak sadarkan diri.
"Kapan kira-kira suami saya boleh pulang dok?" Tanya nadia setelah dokter selesai memeriksa.
"Lusa sepertinya sudah diijinkan untuk pulang, nanti dokter akan berdiskusi lagi. Mohon ditunggu kabarnya saja ya bu."
"Baik dok terimakasih."
"Kenapa bengong?" Suara angga membuyarkan lamunan nadia.
"Ga apa kok mas."
__ADS_1
"Mba nad pasti bingung cara bayar rumah sakitnya mas."
Nadira yang mengerti kebimbangan kakaknya langsung menimpali agar angga tidak curiga. Karena sebagai perawat nadira mengerti betul kondisi angga saat ini sangat tidak disarankan untuk menerima berita yang kurang baik apalagi sampai memikirkan hal-hal berat.
"Ada asuransi kita ga perlu lagi keluar biaya apapun." Angga menggenggam tangan nadia erat walau dengan sisa tenaga yang dimilikinya angga ingin tetap menjadi sandaran bagi nadia.
Tak menjawab, nadia hanya mengulas senyum sambil mengusap kepala aruna yang ternyata kembali terlelap dalam dekapan sang ayah. Anak berusia dua tahun lebih itu pasti merindukan sosok ayah yang selalu menyayanginya. Terbukti begitu angga membuka mata aruna langsung lengket dalam pelukan angga dan kembali terpejam dengan begitu damai. Bahkan saat dokter sibuk memeriksa kondisi angga tak sekalipun aruna merasa terganggu.
"Mas kesusahan ga ayank tidur disini?" Tanya nadia dengan bisikan karena tak ingin putrinya terganggu.
"Ga kok, biar aja dia tidur disini. Mas kangen banget sama kalian, adek anteng kan?" Angga berusaha mengelus perut buncit nadia.
Nadia langsung mendekatkan perutnya pada angga. Tak terasa air mata kembali menetes, nadia merasa bersyukur karena angga sudah membuka mata. Didalam hati nadia berdoa agar keluarga kecilnya selalu diberi kesehatan dan dijauhkan dari marabahaya.
__ADS_1
__________