
"Kita coba satu ronde disini kayaknya ide bagus kan?" Angga menaik turunkan alisnya.
Dengan seringai jahil, angga langsung menarik tangan nadia untuk direbahkan diatas ranjang.
"Dari dulu, mas berkhayal akan menggumuli kamu diranjang kamar ini."
"Mas."
"Sssttt, ga usah khawatir. Ranjang dan semua isinya adalah milik mas saat lajang. Memang bukan ini kamar mas dulu, tapi semua barangnya milik mas."
Angga yang memang selalu cepat on, melancarkan aksinya dengan begitu cepat. Dan tentu saja, nadia terbuai dengan segala bujuk rayu andalan angga. Sedikit berbicara lebih banyak bertindak, diselingi dengan bisikan cinta membuat nadia dengan pasrah memberikan hak angga.
"Hmm"
Berakhir, permainan singkat namun berhasil membuat keringat bercucuran ditubuh keduanya. Nadia tersipu malu saat menyadari posisi dan kondisi mereka saat ini.
"Kenapa?" Angga bertanya dengan nafas yang masih memburu.
Bukannya menjawab, nadia malah menggeleng dengan semburat merah di pipinya.
"Mau nambah lagi?" Canda angga pada istrinya.
Bugh
Angga mendapat pukulan tepat dipunggung karena posisi angga masih berada diatas tubuh nadia.
"Sakit sayang."
"Mas kalau ngomong sembarangan banget."
"Ya terus kenapa? Mukanya merah begitu, pasti pengen nambah lagi kan?"
__ADS_1
"Ih, udah mas bangun berat."
"Berat?"
"Iya mas berat. Ayo minggir,"
"Sekarang berat, tadi kayaknya kamu biasa aja mas diatas."
"Ayo mas, sana ih."
Dibercandai seperti itu membuat nadia menjadi kesal, bukan kesal marah tapi nadia menahan rasa malunya karena apa yang angga katakan benar.
Brugh, angga menggulingkan tubuhnya kearah samping.
"Mas ayank?"
"Biar aja sama papa, dia ga pernah rewel kalau sama papa."
"Hmm, aku mau bebersih dulu ya?"
"Ga" nadia melotot tajam membuat angga tak berani berkutik.
Selesai membersihkan diri dan mematut sirinya di cermin dengan memoleskan sedikit lipstik, nadia menunggu angga yang sedang mandi.
"Mandi apa ngapain sih di dalem kamar mandi. Lama banget," gerutu nadia dengan tak sabaran.
"Papa kok ga ngajak ayank cari aku? Apa ga haus bayi gembul ku itu."
Melirik kearah jam dinding, nadia menatap gusar antara pintu jam dinding dan pintu kamar mandi.
Ceklek
__ADS_1
"Kenapa mukanya tegang begitu?" Tanya angga saat mendapati istrinya sibuk memandang kearah jam dinding dan pintu secara bergantian.
"Ayank mas"
"Ayank kenapa?" Angga membuka lemari untuk mengambil pakaian dalamnya.
"Kok papa ga ada nganter ayank kesini ya?"
"Kalau sudah sama papa, ayank pasti anteng ga mungkin rewel. Jadi kamu ga perlu khawatir."
"Ck" nadia berdecak sebal.
"Loh, dikasih tau malah ga percaya. Coba diingat, saat bersama papa apa pernah ayank rewel dan mencari kita?"
Nadia menggeleng sebagai jawaban.
"Nah kan, bersama papa ayank akan baik-baik saja. Ga usah khawatir, papa akan menjaga ayank dari semut dan nyamuk sekalipun."
"Hmm, mas benar." Nadia bergumam dan angga hanya tersenyum melihat istrinya masih terlihat tak tenang.
Berjalan kikuk keluar kamar angga. Nadia merasa dirinya seperti sedang diawasi. Nadia sengaja tak mencuci rambutnya karena tak mau orang tau jika ia dan angga baru selesai melakukan hubungan suami istri.
"Sayang, ayo."
Angga mengulurkan tangannya saat mereka akan menuruni tangga.
"Kita minta makan dulu dirumah pak tyo baru pulang ya?" Angga berkelakar dan sontak saja nadia tertawa cekikikan.
"Kalian ngapain dalam kamar?" Suara marini menghentikan tawa nadia.
"Ma" gumam angga dan nadia bersamaan.
__ADS_1
Pas wajah nadia, antara malu dan tak enak hati.
__________